Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 119


__ADS_3

Lalan berkelit. Sebisa mungkin membebaskan diri. Dengan keringat yang juga membasahi tubuh, dengan deras pula. Maka sergapan ini sangat mudah dia hindari, untuk selanjutnya menjauh sejauh-jauhnya agar tidak kembali berada dalam jangkauan para mahluk tersebut dan membebaskan diri dari cakar-cakar yang sangat mengerikan itu. Inilah yang pantas di waspadai, supaya usahanya bisa berhasil dan semakin bisa menjauh dari kawanan musuh tersebut.


Setelah terbebas itu, lalu terus lari. Menjauh. Mumpung ada kesempatan, kalau lena sedikit saja, sudah pasti bakalan tak bisa berharap seperti tadi. Pasti mereka-mereka ini akan terus memburunya dan menangkap untuk kembali seperti awal yakni menempatkannya dalam sebuah ruangan terkunci.


Tak didengar kawan lain yang juga kelimpungan. Mencoba mengikutinya. Bagaimanapun mereka terus mengawasinya. Supaya tak tertangkap. Sebab mereka datang ke situ juga karena dia. Walau kondisi sekarang rasanya dirinya yang lebih parah dari anak itu, namun sudah sejak sebelumnya bahwa tujuan awal adalah mencari dan membebaskan anak yang kini justru larinya sangat kencang meninggalkan mereka yang terus merasa cemas itu.


Dan langkah semakin jauh. Bahkan semakin tak kelihatan. Ini akan mempersulit pengejaran mereka. Dimana kalau posisi normal saja mengejar belum tentu dapat, akibat ada beban di kaki tadi. Juga penghalang dari para mahluk yang semakin banyak saja. Walau sudah banyak juga yang mengejar Lalan, tapi nyatanya di sini masih ada. Yang baru dating dari ruangan tempat mereka melewati tadi, juga yang sudah menunggu dalam ruangan tersebut. Ini yang menjadikan mereka semakin bingung. Mau bagaimana dan mesti bertindak bagaimana supaya para mahluk tidak serta merta menangkap mereka, dan dalam tempo semakin panjang itu bagaimana nantinya akan sanggup membebaskan diri serta hidup nyaman untuk selanjutnya.

__ADS_1


“Wah gawat. Dia pisah.“


“Iya. Payah itu anak.“ Mereka menggerutu. Kalau saja mau mendengarkan, pasti kondisinya tak akan begini, mereka akan semakin kompak, dan kali ini kembali menjadi pemikiran ulang. Bahkan sekarang dua kalinya lagi, dengan menghindari sergapan para mahluk yang jelas-jelas telah terbukti akan ketangguhannya yang mampu melepaskan jerat yang telah mereka lemparkan sebelumnya, serta mengikat leher, tapi dengan kekuatannya mampu melepaskan diri, bahkan sampai menyeret mereka yang lebih dari satu orang dan merasa sangat perkasa tersebut. Sehingga untuk berikutnya dalam melakukan perlawanan akan semakin terbebani dengan pemikiran kalau musuh itu terlampau tangguh dan sulit untuk dikalahkan.


“Tak mendengarkan kita. “


“Waduh bagaimana ini….“

__ADS_1


Akhirnya mencari jalan sendiri-sendiri. Yang dirasa bisa aman. Dan mereka sendiri tak yakin untuk itu. Dengan memikirkan kondisi Lilin yang juga terlihat sangat lemah dengan menahan rasa sakit yang semakin tak tertahankan itu. Walau bagaimana lagi, jika ingin bebas, maka semua mesti di hadapi dengan sekuat tenaga dan sakit yang dirasa mesti di tahan sebisa mungkin.


“Ya sudah terus…“


Aqi terus memapah Lilin. Dengan terpincang-pincang. Terus berusaha meninggalkan tempat tersebut.


“Aduh kakiku sakit ini…“

__ADS_1


Lilin semakin mengeluh.


__ADS_2