
“Untung tak melihat kita.“ Lega si Lilin. Mereka kali ini benar-benar masih dalam suasana nyaman. Setidaknya para mahluk di dalam sana masih belum menyadari kehadiran mereka yang tengah membutuhkan sesuatu yang sangat penting itu.
“Ini belum seberapa. Nanti di aula itu bakalan penuh,“ ujar Aqi yang kembali teringat masa dulu di mana ada bayangan bagaimana kalau di suatu ruangan yang sangat lebar seakan suatu aula pertemuan saja kalau dalam suatu gedung.
“Wah mengerikan ya?“
“Itulah makanya aku ceritakan dari awal,“ ujar Aqi. Setidaknya, menurut dia, kalau sedari awal sudah paham, maka bakalan berjaga-jaga mereka dalam menghadapi mereka yang sangat banyak itu, serta kalau perlu akan melakukan usaha perlawanan serta berani menghadapi ke semuanya itu dengan penuh perhitungan. Mengingat adik mereka dalam bahaya, berada dalam cengkeraman mereka.
__ADS_1
“Oke.“
Terus di pandangi mahluk itu. Dia seakan tak menyadari kalau tengah di perhatikan. Sehingga tak tolah-toleh lagi. Serta terus saja memasuki salah satu ruangan yang tertutup pintu. Berikutnya lenyap. Sudah tak nampak lagi.
”Wah Qi… ” ujar Lilin.
”Jangan-jangan di ruangan itu adik kita di sekap,” kata Lilin yang penasaran dengan keanehan si mahluk mengerikan tersebut mengapa melewati ruangan itu begitu saja. Pasti ada sesuatu itu pikiran mereka. Yang langsung menunjuk beberapa kemungkinan yang ada. Mereka ini mau menemui adiknya. Atau ada urusan pribadi lain. Atau tengah di panggil oleh atasannya. Dan juga mungkin tengah kebelet untuk ke toilet. Semua serba mungkin. Dan kemungkinan terbesar tak bisa di pastikan. Hanya karena mereka merasa kehilangan sang adik, membuat yang paling perdana dalam ingatan hanya yang berhubungan dengan hal tersebut. Tentang adik mereka yang berada dalam cengkeraman mereka untuk di tindas serta bakalan menjadi tak menentu pada keselamatan, kesehatan serta kondisi terakhirnya. Yang di khawatirkan bakalan berbeda dengan apa yang terakhir mereka sama-sama lihat. Yakni pada saat sama-sama masih bersama untuk bersenda gurau walau adiknya itu terkenal nakal dan Bengal. Tapi mengingat lingkungannya juga lumayan banyak orang yang sama dengan dia, maka hal demikian sudah lumayan lumrah terjadi serta bisa di maklumi.
__ADS_1
”Barangkali saja,” ujar Aqi yang juga mencurigai kalau orang itu sebenarnya tengah berjaga dan untuk kali ini tengah melihat adik mereka, jika taka da urusan, atau memang tengah ada sesuatu yang hendak di sampaikan buat tawanan mereka.
”Ayo kita ikuti.”
”Berani kita?” Aqi memastikan. Jangan-jangan jika sudah ada di pintu tersebut akan mengalami kendala andai sekarang saja sudah tak ada keberanian. Makanya perlu memastikan. Jad apapun yang nanti akan terjadi segalanya bisa di hadapi dengan penuh semangat. Untuk selanjutnya melakukan perlawanan. Sebab kalau melawan tanpa keberanian juga untuk apa. Sebab sebah keberanian merupakan awal sebagai modal dalam menghadapi semuanya itu. Dengan adanya keberanian niscaya ada kemungkinan untuk menang. Andai ketakutan, maka jangankan melawan, yang ada hanya keinginan menghindari semua masalah yang begitu menyeramkan serta dalam rasa akan semakin besar saja rasa itu bertumbuh kembang.
”Diam-diam.” Mereka menurut ke arah pintu dimana mahluk tersebut menghilang. Tentu saja dengan langkah yang sangat hati-hati, supaya tak terdengar atau bahkan ebih jauh lagi akan membuat mereka curiga lalu mengejar mereka, dan lebih jauh lagi, bakalan menangkap mereka untuk selanjutnya menawan.
__ADS_1