
“Nggak ada Qi,“ ujar Lilin kembali memastikan jika di tempat tersebut kali ini tak ada apa-apa nya, khususnya yang tengah mereka cari.
“Ya sudah, kita ke gua yuk. Seperti yang dikatakan mereka,“ ujar Aqi. Nanti kalau tak di temui juga, mereka bakalan menari tempat lain yang belum sempat di ceritakan sama pemilik ladang yang gagal mereka jumpai. Barangkali saja orang yang terlanjur pulang kala itu justru akan menunjukkan suatu lokasi yang benar. Dimana akan langsung mengarah pada tempat persembunyian si mahluk yang tak banyak orang bisa menemuinya dalam suatu kondisi yang normal.
“Iya.“
“Yang dibilang sama peladang itu.“
“Meragukan tapi Qi. Nyatanya di sini nggak di temui. Ini juga lokasi yang di tunjuk mereka. Jangankan bekasnya, geliatnya juga tak nampak. Meskipun memang bukan suatu keharusan kala mesti merujuk ke lokasi yang di ucapkan itu sebagai bagian dari pencarian mereka. Namanya juga mencari, terkadang berhasil, namun selebihnya bisa juga gagal. Dan dalam proses demikian kegagalan lebih sering di dapat. Dengan ujung yang masih misteri. Jika berhasil, maka proses itu bisa jadi lebih dari separuh nya merupakan kegagalan. Dan akan senang jika di ujungnya berhasil. Makanya untuk sekarang jika ini sebagai suatu yang gagal, barangkali saja ini bukan suatu ujung dari pencarian, namun merupakan suatu proses demi kelanjutan nya nanti.
__ADS_1
“Ya. Kita coba mencari gua itu saja, siapa tahu ada petunjuk tambahan,“ ujar Aqi yang masih belum patah semangat. Karena sudah dari kemarin juga segala nya di lalui, dengan harapan siapa tahu nanti nya akan bisa menuai hasil memuaskan.
“Ih. “
Mereka terus melanjutkan perjalanan. Tanpa arah yang jelas. Hanya berpatokan pada satu lintas jalan sempit yang sedikit mudah di lewati. Dengan harapan akan bertemu orang untuk di tanyai lebih lanjut.
“Itu gua Qi,” saat melintas itu nampak ada keanehan di salah satu sudut pandang mereka.
”Itu.” Mereka memperhatikan suatu relung di tepi suatu tebing yang tak begitu tinggi. Di salah satu bagian nya ada lobang yang juga tidak dalam. Sehingga untuk jarak tertentu sudah bisa melihat bagian dalamnya yang buntu. Namun kalau jarak terlalu jauh memang relung itu hanya kelihatan gelap saja. Serta belum paham kalau itu buntu atau tembus. Karena kebanyakan goa dahulunya merupakan jalan air yang sudah ditinggalkan. Atau masih ada namun telah menjadi suatu aliran kecil yang terletak di dalamnya sebagai bagian dari sisa-sisa air telah menggerus lokasi tersebut. Itulah makanya terkadang di suatu lokasi banyak di temukan lobang-lobang yang menembus dinding, akibat air sudah menemukan jalan sendiri guna mengalirkan nya ke lokasi rendah yakni lautan.
__ADS_1
”Kok cetek,” tidak dalam. Walau banyak tebing namun untuk mencari goa di daerah tersebut tergolong jarang. Akibat struktur pembentuk batuannya demikian keras, sehingga air dan alam sulit membuat bentukan yang unik. Karena kebanyakan dari gua tersebut di bentuk akibat aliran air yang pada masa lalu berhasil membuat bebatuan menjadi suatu bentukan yang khas. Sehingga kala lokasi itu telah mengering, sisa-sisa peninggalan nya masih membekas, untuk menjadi lukisan alam yang begitu menakjubkan.
”Yang penting relung,” ujar Lilin. Sebab kalau merujuk ke bentuk yang di maksud tentu tak sembarangan. Pada suatu lokasi yang banyak ditemukan relung relung demikian untuk bisa di sebut sebagai gua indah dan menjanjikan juga tak banyak yang berhasil. Makanya untuk daerah demikian, banyak relung yang di biarkan begitu saja dan mereka lebih memilih untuk menari yang paling baik dan di kelola sedemikian rupa menjadi sebuah tempat indah demi tujuan tertentu yang tentunya sangat di minati oleh para wisatawan.
“Ih ada mahluk,“ katanya lagi. Saat memperhatikan di dalam, ternyata ada pergerakan yang mencurigakan. Terkadang halus juga tak menutup kemungkinan, selebihnya sangat kencang. Yang jelas di situ memang ada yang tengah mendiami nya.
“Ha?“
“Itu.“
__ADS_1
“Wah menyeramkan. Bercakar juga,“ ujar Aqi.