
“Serem ya Qi,“ ujar Lilin. Lama-lama akibat kesunyian itu rasa takut yang sebelumnya sudah mulai sirna lambat laun kembali datang untuk tumbuh kembali menghantui nya. Sebab memang kondisi itu sangat mudah menyeret rasa nya agar semakin berada dalam ketakutan. Sehingga bila tak kuat, maka malam yang dingin dan di lokasi yang sunyi akan menjadi sebuah kengerian sepanjang malam.
“Iyalah di hutan,“ jawab Aqi. Hutan memang tempatnya untuk sunyi dan seram. Makanya tak jarang banyak orang-orang yang berada dalam kesunyian tersebut lalu berhalusinasi tentang sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan aslinya. Dimana orang akan membayangkan daerah tersebut bagai pasar yang ramai, dengan segala aktifitasnya yang riuh dan jual beli layaknya di pasar sesungguhnya dimana banyak rang yang melakukan transaksi sehingga akan menghilangkan kesan sunyi. Dan disitu semua ada, namun saat terjaga dan kembali ke kondisi normal, segalanya langsung lenyap kembali seperti sedia kala. Itulah berbagai halusinasi yang dirasa banyak orang yang tengah di hutan sunyi ini.
Mereka bicara sedikit untuk mengurangi kesunyian hutan. Kalau diam terus, maka pikiran juga bakalan timbul berbagai perasaan yang akan selalu nampak.
__ADS_1
“Esok kita nyari sungai.“
“Mana ada musim begini.“
“Huh.“
__ADS_1
“Stt dengar ada suara disana,“ terdengar sesuatu yang aneh. Di sana, pada kejauhan. Namun pendengaran masih bisa merasakan nya. Dan jarak yang jauh itu masih berada pada jangkauan telinga. Ini berarti ada sesuatu yang melintas di sana. Entah sengaja atau tidak. Atau itu suatu binatang hutan nokturnal yang biasa mencari sesuatu di kegelapan hutan buat mengisi perut mereka. Yang jelas suasana yang sunyi sepi membawa apapun yang sunyi dan ada pergerakan menjadi terdengar serta bisa mereka tangkap dalam indra pendengaran itu.
“Mana tak kelihatan pun“
“Ya sudah, kita senter,“ kata Aqi dengan begitu mereka bisa saja melihat apa yang bergerak itu dengan lebih nyata. Si mahluk atau justru hanya binatang hutan yang tak kalah menyeramkan nya. Bila itu semacam babi hutan, maka akan berbahaya jika melihat diri mereka berada di dekatnya. Mereka akan langsung mengamuk. Menganggap mahluk lain telah merebut lokasi mereka dalam berkuasa serta mendapatkan makanan di hutan yang tak bertuan itu. Sehingga menganggap siapa saja yang disitu akan merebut makanan mereka yang sangat di butuhkan demi keluarganya, demi anaknya yang kecil, serta dirinya sendiri yang membutuhkan makanan sebagai sumber tenaga yang akan di pakai guna mencari makanan lagi.
__ADS_1
“Nggak nyampai,“ ujar Lilin. Lampu HP itu hanya bisa berjarak beberapa meter saja. Walau cahaya juga menyebar tapi semakin tak jelas. Sehingga bayangan hitam di kejauhan sana sama juga kondisinya walau di sorot dengan lampu HP.
“Lagian baterai menipis ini. Punya HP nggak fungsi ini, hanya bisa nyetel ringtone sama senter senter saja.“ Tapi kalau hal itu di pergunakan akan semakin menghabiskan listrik di dalam baterai kering bawaan ponsel tersebut. Sehingga mau tidak mau mesti mengirit nya. Karena untuk men charge juga tak bia. Mau di mana kalau tak ada apapun di sekitar situ. Paling bisa kalau berhasil menemukan rumah penduduk tepian hutan nantinya. Itu juga jika aliran listrik sudah masuk. Sementara untuk mengadakannya akan kesulitan. Selain ijin, jaringannya juga susah. Mesti melalui berbagai tahap guna bisa memperoleh nya. Dan setelah jadi juga mesti memeliharanya agar tetap lanar sementara berbagai aturan terus dikenakan oleh pelanggan. Jadi belum aman juga untuk meminta hal itu.