Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 64


__ADS_3

“Eh, Lain kali kalau pergi - pergi bilang dong. Jangan asal minggat saja. Kami kebingungan tahu. Untung disini ketemu. Kalau tidak, mau apa coba. Kami akan semakin panik saja kan. Lihat kakakmu itu semakin tua saja. Ini hanya gara-gara mencari kamu. Paham nggak. Didengar nggak kakakmu ini ngomong.”


“Bagaimana mau mendengar kalau kau omong terus. Macam mulut bebek saja. Wek wek wek wek. “


“Lah.“


“Ini buka dulu napa?“


“Eh masih terikat.“

__ADS_1


“Ya masih, orang belum di buka.“ Mangkel banget lalan sama orang yang suka lupa begitu. Yang di rumah lupa. Ini lebih parah lagi. Ikatan juga lupa. Kan mengerikan kalau sampai tangannya penuh dengan bekas yang dalam menggurat hingga ked aging. Sakitnya jelas minta ampun, serta sirkulasi darah terhambat. Malahan lupa kan parah itu.


Dibukanya ikatan itu.


“Nah gini kan lega. “


“Aku tak tahu. “


“Yah, malah tak tahu.“ Heran sekali keduanya begitu mendengar kata itu. Bukannya dia yang mengalami. Juga sudah lebih dulu di situ. Kenapa malah tak mengerti. Mungkin perlu di bawa ke mesin modern, biar semua memori yang dia miliki kembali terkuak untuk bisa menunjukkan bagaimana ia sampai di situ dengan peristiwa yang melatarbelakanginya. Sehingga mau-maunya para mahluk membawa anak demikian menuju ke lokasi yang sulit di jangkau serta alamatnya tak jelas. Sehingga mencari di togel maps juga tak ada.

__ADS_1


“Aku tahu-tahu sudah disini melihat kalian pada.“


“O, jadi pingsan kau?“ Mereka menduga demikian. Sebab di tanya apa-apa tidak tahu. Di tanya ini jawab itu. Di tanya apa di jawab anu. Kan kayak orang linglung jadinya. Tapi ya sudahlah semua sudah terjadi mau bagaimana lagi jika hal ini memang sudah berlaku demikian. Yang ada tinggal meninggalkan tempat itu untuk tak meninggal dan pergi begitu saja tanpa pamit. Sebab kalau dilakukan tentu bakalan di buru dengan sekencang pelan nya. Sebab memang sangat riskan. Dimana banyak musuh. Di lokasi musuh. Serta jauh dari rumah. Itu yang mestinya di khawatirkan. Dan bukannya terus ngobrol di sini. Kan berbahaya.


“Kayaknya begitu. Tapi kok lapar yah?“ ujar Lalan. Untung tidak bunyi perutnya. Hanya sesekali kalau tak di tahan. Namun rasanya demikian melilit. Ingin rasanya di masuki hamburger, atau setidaknya kue coklat kue empuk. Itu enak.


“Wah, mana ada makanan. Nampaknya kau tak sadar semenjak di bawa mereka,“ ujar Lilin yang juga kebingungan. Mana bekal sudah habis. Karena sebelumnya tak mengira bakalan sekian lama. Juga di lokasi ini tak paham berapa lama mereka tinggal. Karena rasanya hal di sini sangat cepat berjalan. Seperti pada lubang cacing saja. Dimana perputaran semesta begitu cepatnya tanpa terasa, seakan tak bisa di ukur dengan detik waktu. Tapi bagaimana lagi semua itu mesti berjalan seiring bergeraknya semesta yang mengikuti jalur aneh tersebut.


“Tak tahu, aku baru sadar kalian setelah kemari,“ jelas lalan lagi. Dia juga tak ingat siapa yang membawa. Bagaimana bentuknya serta apa nama keluarganya. Yang jelas hanya saat mahluk tersebut masuk ke ruangan dan ketakutan teramat hebat kala mereka menangkap untuk kemudian menyeret dan meletakkan di lokasi aneh tadi.

__ADS_1


__ADS_2