Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 107


__ADS_3

“Yuk kita teruskan.“


Mereka merasa kalau istirahat sudah cukup. Mesti bergegas. Mencari jalan keluar. Serta terbebas. Baru kalau istirahat kurang, akan dilanjutkan nanti setelah keluar dari tempat sang sangat membuat derita ini.


Sebab kalau di situ terus juga apa gunanya. Hanya menunggu mereka yang tentu saja tengah mencari mereka, serta akan di kagetkan dengan segala kengerian yang ditampakkan tersebut.


“Ah.”


“Kenapa?”

__ADS_1


Aqi mulai khawatir. Sebab sebelumnya sudah tak terdengar jeritan tersebut. Yang menurut anggapannya hal ini sudah sedikit membuat reda bagi yang terkena. Dan nyaman bagi luka itu.


Tapi kenapa sampai terdengar lagi, ini yang membuat pemikiran baru, kalau luka itu sangat parah, sehingga bergerak sedikit saja sudah terasa efeknya. Dan selanjutnya tentu saja berhubungan dengan pengobatan yang nanti mesti dilakukan.


Apakah cukup ke tukang urut, atau mesti ke ahli tulang saraf, agar segala kekakuan yang terjadi pada bagian itu, bisa di rilis. Juga kalau justru terkena luka lebam, yang sampai berubah warna akibat penumpukan darah tak bagus di seputar luka bagian dalam, apakah nanti perlu di beri pendingin semisal es batu atau tidak, ini juga mesti dilihat baik buruknya, agar tidak serampangan dalam proses penyembuhan tadi, yang berakibat pada akhir pelaksanaannya, dimana nanti bukannya sembuh secara sempurna, namun hanya akan menambah luka diatas luka, coba bayangkan betapa sakitnya.


“Masih sakit?” tanya Aqi.


Nanti hanya akan dikira robot yang acuh terhadap apa yang ada di sebuah akun. Merasa tak nyaman, serta dianggap mendiamkan. Sehingga bakalan berpaling ke orang lain. Begitu juga dalam hal ini, kalaupun tak berpaling, karena disitu hanya ada mereka bertiga, tentu saja pengalihan perhatian akan di tujukan ke sekitar lokasi tadi yang penuh dnegan ketidakpastian juga.

__ADS_1


Makanya selagi ada kesempatan maka saling komunikasi, dan membuat segalanya bisa dicairkan oleh suasana yang saling menyenangkan diantara suasana lain yang begitu memilukan tadi.


“Heeh…” Lilin hanya mengangguk.


Sesuatu yang sudah mulai pulih akibat istirahat lumayan lama dan membuat segalanya sejenak hilang tersebut,mesti dating lagi dan akan dirasakan seperti sebelumnya. Belum lagi nanti kalau melakukan perjalanan panjang.


Jika hanya sekedar meminta bantuan suaminya, tentu tak bakalan mampu. Kalaupun bisa, maka akan merasa kasihan. Ini bukan hal baik. Dan selebihnya akan jadi sesuatu yang sangat memberatkan. Sebagai seorang yang tangguh, tentu hal demikian tak bakalan dia terima. Pasti ada sisi lain yang mesti dia pikirkan. Dan membiarkan semua berjalan dengan usaha diri yang tak bisa di gantikan oleh orang lain.


Semua memakluminya. Makanya melakukan kembali secara pelan-pelan saja. Jangan sampai luka lama itu kambuh kembali. Jika dilakukan dengan hati-hati dan memerhatikan sekeliling, maka apa yang membuat sakit, semisal benda berat dan kasar yang jika menyentuh bagian itu bakalan membuat rasa tak enak, maka mesti di jauhkan.

__ADS_1


Semua dilakukan dengan hati-hati, agar luka baru tak mengenai luka lama. Coba bayangkan petapa sakitnya jika hal ini kejadian. Untuk itulah dilakukan semua apa yang bisa dikerjakan tadi dengan penuh hati-hati.


__ADS_2