
“Lorong panjang ini Qi,“ kata Lilin. Setelah membuka pintu pertama tadi langsung di hadapkan dengan suatu lorong yang lumayan lebar namun sangat panjang. Hingga seakan ujung nya tak Nampak. Apalagi ruangan yang remang-remang dengan kabut yang lumayan tebal juga. Membuat ujung yang lain tak Nampak. Sementara di kanan kiri jalan mereka tersebut tak Nampak apapun. Tak ada lukisan, tak ada hiasan.
“Iya terus saja.“
“Wah.“
Terus saja di telusuri lorong itu. Tak berapa lama mereka sudah melalaikan pintu masuk tadi. Yang di inginkan dari ujung seberangnya.
“Tapi?“
“Apa?“
“Musti hati-hati kita,“ ujar Aqi.
__ADS_1
“Mereka tak nampak tapi Qi,“ kata Lilin.
“Ya siapa tahu ada kan?“ Kalau ada bakalan gawat. Langkah mereka tentu saja bakalan terhenti di situ, serta menjadi tawanan tak menyenangkan bagi mereka. Atau menjadi buronan. Benar-benar suatu pelarian yang tak menyenangkan, sementara mereka hanya menjadikan nya sebagai hiburan belaka.
“Memang dulu ada Qi?“ tanya Lilin.
“Enggak.“
“Makanya.“
“Waduh.“
Kembali pada mengeluh.
__ADS_1
“Habis ini, berarti bakalan ada ruangan ya Qi?“ tanya Lilin makin penasaran. Kalau demikian, maka di salah satu ruangan sempit, adiknya di temukan. Dan ada harapan dia tak di apa-apakan oleh si mahluk. Setidaknya sebelum sampai di hari persembahan. Dimana seperti kebiasaan mereka bakalan mempersembahkan jiwa-jiwa hampa itu ke leluhur mereka yang tak di pahami ada di mana. Dan hal ini membuat ngeri bagi si calon korban. Yang bisa menjadi stress berlebihan. Untuk itu mesti segera di bebaskan, sampai waktu nya tiba. Sebab mereka juga menentukan waktu yang tepat guna melakukan semua itu. Baik hari, weton, atau ada misteri tertentu, misalkan gerhana, juga konjungsi dua bintang yang menjadi sangat cemerlang nantinya. Jadi untuk masa itu seakan roh para leluhur mereka akan datang di waktu yang misterius tersebut.
“Iya.“
“Oke.“
Lilin bertambah paham sekarang. Rupanya memang asik menunggu di rumah, walau berbulan-bulan tak jumpa, daripada mengalami sendiri dalam tempat yang begitu menyeramkan dan menggelisahkan, seakan banyak rakyat penghuni lorong ini yang memusuhi nya. Makanya untuk selanjut nya lebih baik diam-diam saja dalam menelusuri jalanan yang penuh kengerian itu.
“Nah itu pintunya.“ Nampak pintu tersebut ada di depan mereka. Masih sunyi, tak ada siapa pun. Menuju ke pintu itu seakan terbentang luas. Dan yang kelihatan seakan sama saja. Walau pastinya berbeda. Sebab setiap pintu pasti ada perbedaan jika itu lain lokasi. Walau di buat sama dan semirip mungkin, tapi kayu pembentuknya mempunyai serat yang lain sebagai ciri bagi mereka yang setiap pohon nya diambil dari dua batang berbeda. Itu salah satu yang membedakan. Juga dalam cetakan pada gagang atau list dari suatu pintu hasilnya masih tetap ada yang menunjukkan perbedaan. Itulah karena dua lokasi berbeda. Tapi semua itu di tutup dengan warna yang sama, membuat sepintas lalu tak ada bedanya jika tak diperhatikan secara seksama dan detail.
“Siap-siap kita.“
“Ya.“
__ADS_1
Mereka menuju ke pintu yang nampak tersebut.