
”Nah kan. Nggak ada apa-apa.” Begitu pintu di buka secara pelan sekali, nyatanya apa yang dikawatirkan tak terjadi. Setu sedikit lega. Tetapi itu belum seberapa. Seakan merupakan bagian awal saja mereka dalam menuju ke lokasi yang di tuju dengan menghafal tanda yang sudah di berikan ke lokasi awal tadi sebagai pengingat menuju ke pintu keluar dimana goa misterius sebelumnya mereka lewati.
”Ya sudah, kita tinggal terus lewat saja, kita menuju ke lokasi tadi aku beri tanda, itu pintu keluarnya,” ujar Lilin mengingatkan. Kalau tanda misterius yang dia taruh pada lokasi mereka masuk, itu yang jadi titik pengingatnya. Mengingat takut jika tidak di beri nya, maka akan mudah lupa serta mudah tersesat di jalan yang salah. Untuk itulah dia berusaha mengingat kalau tanda tersebut tidak hilang oleh waktu, setidaknya sampai mereka balik lagi. Karena dirasa tak berapa lama mereka melakukan perjalanan menuju ke mari dari arah yang merupakan titik awal tadi.
”Oke.”
__ADS_1
Terus saja mereka masuk. Meninggalkan pintu tersebut. Serta meninggalkan ruangan yang menyekap mereka. Untuk mencari pintu keluar. Ini seakan menjadi hal baru dalam meninggalkan ruangan tersebut bagi Lalan. Dan mesti secepatnya menjangkau pintu menuju ke dunia bebas. Sehingga akan terbebas mereka dari segala rasa yang menakutkan ini. Karena sudah bisa keluar dari tempat tersebut.
”Masih ingat kan ya?”
”Mudah-mudahan. Kan kita terus melewati lorong dengan banyak pintu ini. Selebihnya tak ada,” jelas Lilin. Dia yakin sekali. Orang mereka sama-sama serta selalu menuju ke pintu yang ada di seberang dari pintu tempat mereka masuk, maka berarti kalau mereka merasa itu suatu jalan satu satunya dalam meninggalkan lokasi itu dan menuju ke mari sehingga menemukan apa yang di cari. Kalau mereka menyimpang, pasti tak akan bisa secepat ini menemukan lalan. Serta bisa saja terus menerus akan kesulitan dan seakan di putar terus pikiran mereka dalam ruangan aneh yang begitu suit untuk di masuki itu.
__ADS_1
”Benar juga. Tapi kayaknya hanya itu deh. ”
”Perlu kita coba. Ayo kita jalan terus. Mungkin lebih cepat ali ya. ”
”Bagaimana mau cepat kalau aku merasa lapar,” ujar Lalan yang merasa perutnya seakan tengah meronta-ronta ingin di isi. Walau itu merupakan rasa yang terjadi belum lama, tetapi kayaknya sudah lumayan lama dia merasa itu. Kalau saja sudah tersadar, pasti semenjak kemarin dia langsung merasakannya. Entah mengapa. Kelihatannya akibat terlalu lama di temat itu membuat dia tak merasakannya, dan baru kali ini dia merasa hal itu.
__ADS_1
”Ya nanti kalau di luar kita cari makan. Baik jajan di warung atau sekedar ubi. Mengingat kita kemari juga tak menemukan pemukiman sebelumnya”
”Ih, semakin lapar aku. ”