Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 102


__ADS_3

“Aduh sakit.“ Rintih Lilin.


Seakan tak kuat saja. Aqi terus menyeretnya. Dengan jalan satu kaki. Dan tangan di papah. Melangkah menuju ke suatu pintu. Seperti berulang-ulang kali kalau tempat itu yang menjadi satu hal dirasa paling menyelamatkan. Walau akhirnya terpikirkan ulang, bahwa semua belum tentu, masih banyak perjuangan yang harus di hadapi. Akibat setelahnya belum jelas juga apakah sudah mencapai bagian selaput tipis perbedaan alam tersebut, atau masih harus menuju ke lokasi lain yang kondisinya lebih menyeramkan dari ruang luas disini dengan mahluk yang lebih buas dari sebelumnya, meskipun sudah pasti bentukannya sama saja. Tentu yang membedakan adalah sorot mata yang lebih memerah ganas, serta tumpuan kaki yang lebih kuat, yang menandakan jika langkah mereka lebih panjang dan yang tentu saja paling mengerikan adalah saat cakar menyeramkan itu pastinya lebih mengerikan lagi dibanding sebelumnya.


Mahluk itu entah kemana. Untung sejenak tak mengejar. Jadi ada waktu untuk istirahat sejenak.


“Ditahan sebentar,“ terang Aqi. Juga Lalan. Dia juga sudah merasakan jatuh tadi. Demikian menyakitkan pada bagian yang mengenai sebuah benda keras pastinya. Bahkan kini kakaknya yang tenaga wanita pasti akan merasakan hal yang lebih mengkhawatirkan lagi.

__ADS_1


“Ah…“


“Kita akan sampai di pintu ini.“ Keduanya terus menguatkan hati si istri agar tetap melakukan perjalanan yang panjang tersebut. Sebab jika sampai jatuh, maka akan membuat mereka kelimpungan lagi. Dimana sedang sehat saja sudah mendapat perlakuan tidak bagus dari mereka, apalagi kini tengah mengalami sakit yang sudah barang tentu bakalan bisa memperlakukan lebih parah lagi, dan ini berarti rasa tersiksanya bakalan lebih menyedihkan.


“Ya sebentar lagi.“


“Hah?“

__ADS_1


“Rasanya tak kuat.“ Kembali Lilin mengeluh. Dipandangi luka tersebut. Sudah demikian parah. Walau darah tak banyak menetes. Tapi jelas membengkak dan yang paling jelas adalah rasanya sangat sakit. Itu yang membuat kesulitan jalan. Entah tadi bagaimana si mahluk membuatnya demikian. Yang masih dia ingat adalah kala jatuh bergulingan dan dalam posisi yang salah dalam memijak bumi. Ini yang mungkin menjadi akar masalah tentang hasil buruknya kesehatan yang kali ini di rasakan oleh kaki tadi. Inilah satu hal yang mesti dipersalahkan sama si mahluk tadi yang telah membuatnya demikian.


“Makanya tahan ya,“ kata Aqi. Walau dia tahu, perjalanan tersebut apakah memang masih sanggup dilakukan, akibat sejak sebelumnya sudah sangat kesulitan menjangkau daerah yang dikira paling mungkin untuk melakukan perjalanan keluar dan bebas. “Supaya kita juga tenang dalam membantu.”


“Kalau kau merintih terus, aku juga ikut panik. Makanya tak bisa membantu lebih panjang lagi nanti,“ kata Aqi berusaha agar istrinya itu bisa menahan sakitnya sampai terbebas nanti. Atau setidaknya sampai keluar dari dunia aneh tersebut, hingga akhirnya akan mencari ke daerah terdekat, dimana ada dukun atau tabib yang mampu menghentikan rasa sakit tersebut, bahkan kalau perlu memijatnya kembali, serta menghapus luka, sebelum akhirnya ke rumah sakit betulan supaya bisa ditangani dengan peralatan medis yang canggih, serta pengobatan yang baik, sehingga segalanya bakalan bisa tertangani dengan baik. Dan menyembuhkan sakit tersebut.


“Ih.. “

__ADS_1


Lilin tetap mengeluh. Karena memang rasa sakitnya demikian menyiksa. Sakit yang bukan sakit penyakit datangnya dari jatuh tadi. Ini yang mengerikan. Tapi sejauh ini tak bisa menanggulanginya.


__ADS_2