
“Sudah kau duluan Lin.“ pesan Aqi supaya istrinya itu bersedia meninggalkan mereka demi lepas dari kejaran musuh, namun nanti menunggu di luar. Jika saja musuh masih banyak di luaran sana, nanti akan dipikirkan lagi kelanjutannya. Yang penting perjalanan mereka mampu melewati rintangan itu dulu.
“Entar tunggu kita.“
“Kami akan by one dengan mereka,“ ujar Aqi yang merasa berani beradu jiwa dengan musuh yang sangat kuat itu. Apalagi si Lalan juga sudah bersedia membantu. Maka tak ada pilihan lain, jika mesti berani menghadapi mereka untuk sekali itu.
“Baiklah.“
__ADS_1
Lilin mencoba terus melangkah. Meninggalkan mereka. Menuju ke pintu yang sudah pasti tersebut.
“Awas Lan, mereka semakin banyak,“ ujar Aqi memperingatkan. Sebagaimana di ketahui, mereka terus saja mendekat serta melakukan pengepungan dengan tidak segan-segan menunjukkan gigi taring dan cakar seramnya yang sangat menakutkan. Disitu mereka mesti waspada. Sebab kalau tidak bakal tahu sendiri akibatnya. Akan di luluh lantakkan hingga ***** oleh para mahluk paling ganas yang sejauh ini mereka ketahui itu.
“Iya menyeramkan.“ Lalan juga gemetaran. Semenjak awal sudah tak berani, apalagi kali ini. Hanya semangatnya dalam membantu sesama saja hal itu di kuat-kuatkan. Terutama membantu meloloskan kakaknya dari penyergapan yang menakutkan serta membebaskannya supaya
“Sedikit sih. Memang kau tak takut Qi?“ ujar lalan. Perasaan semenjak awal mereka lari bersama. Atau andai lari bukan dianggap suatu hal yang menakutkan, mengapa hal ini dilakukan. Atau jika lari adalah cara lain untuk memperoleh kemenangan di hasil akhir dalam suatu kompetisi, kenapa mereka merasa lelah. Inilah yang dia merasa bingung dengan sikap kakaknya tersebut.
__ADS_1
“Ditanya lagi. Ya, iyalah. Kan sama-sama merasakan.“ Aqi merasakan juga hal itu. Makanya mengakui. Tapi bagaimana lagi. Jika segalanya Cuma berlandaskan rasa takut semata, bisa saja keselamatan mereka bakalan terus terancam. Dan kebebasan tak akan mereka rasakan sejak saat ini, bahkan sebelum itu saat mulai memasuki daerah berkabut ini, maka telah lenyap kehidupan mereka dari dunia nyata.
“Awas itu dia datang.“ Benar saja. Mahluk itu melompat dengan garang. Serta berusaha melakukan gebrakan awal, dimana tanpa perlu melakukan formasi awal, tahu-tahu sudah menendang dengan keras, serta cakarnya menyambar. Andai tak menghindar maka bakalan terjadi hal yang menyedihkan tersebut.
“Pukul.“ Itu yang diungkapkan. Tentu saja jika sudah berada dalam jangkauan. Sebab kegiatan ini juga bisa menyelamatkan mereka andai berada dalam tekanan. Maka musuh tak akan menyerang lagi. Atau sejenak menghentikan kegiatannya hanya untuk merasakan rasa sakit, akibat tenaga lawan itu.
Si mahluk meluncur. Namun di hindari. Keduanya bergerak berseberangan. Dan si mahluk menyambar di antara mereka. Lalu menoleh ke arah Lalan. Dan si lalan segera mundur. Takut berbenturan. Namun ketika mahluk mengarah pada Lilin. Dia balas menyerang. Sembari memukulkan apapun yang ada di dekatnya. Dan bisa dijangkau. Benar-benar sebuah pertarungan yang di banjiri dengan perkelahian yang hebat.
__ADS_1