
“Tunggu dulu.“
“Kenapa?“
“Itu ada rantang.“ Nampak suatu bekal nasi yang terbuat dari seng atau aluminium yang terangkai dengan sebuah gagang dari besi dengan bentukan yang sangat sederhana namun sangat nyaman untuk di tenteng-tenteng serta bisa di bawa jarak jauh. Setidaknya menjangkau tempat aneh di hutan ini.
“Kenapa memangnya?“
__ADS_1
“Ya kan, kalau ada alat buat bawa makanan, tentu ada yang memakannya,“ ujar Aqi berteori. Kalau benar tentunya ada orang yang menggunakan alat tersebut. Hanya sudah lama atau belum itu yang jadi masalah jika belum lama, tentu orang nya juga ada di dekat situ kali ini. Namun kalau sudah lama akibat tertinggal atau sengaja di tinggal karena keberatan membawa bekal akibat membawa hasil ladang untuk di bawa, dan tak bisa membawa apa yang di bawa dari rumah sebelumnya, maka bisa jadi hal itu ditinggal sementara waktu untuk esok atau lusa diambil lagi. Dan jika ini yang terjadi, maka mereka sedikit kesulitan untuk bertemu dengan pemilik ladang tersebut sebagai sarana di mintai keterangan agar bisa melangkah lebih lanjut kemana arah dan tujuan selanjutnya kaki mereka itu.
“Ya.“
“Berarti ada orang kan.“ Yakin. Karena yang aneh demikian pasti karena sesuatu yang membawanya. Alat ini suatu buatan. Bukan terjadi akibat alami. Dan akan semakin yakin karena sudah ada jejak-jejak yang menghabiskan isinya. Tentunya belum lama. Dan hal itu memberi kesempatan yang baik untuk bisa mendeteksi keberadaan mahluk lain di luar mereka. Dia yang tentunya sangat berpengalaman dengan lokasi ini. Karena sudah membuat ladang itu menjadi sebuah hasil yang bisa di nikmati. Dan kali ini harapan yang besar mesti di tumbuhkan. Kalau bertemu mereka, pasti bakalan tahu tentang kondisi di sini. Walau mungkin tak akan memberi tahu tentang keinginan mereka, setidaknya dengan menceritakan apa yang ada di sekitar situ kembali bisa menjadi titik awal pencarian lanjutan yang mesti di berikan mereka.
“Mm...“
__ADS_1
“Sebentar. Orang rantang nya Habis Gini,“ ujar Lilin sembari melihat semua isi tempat bekal itu sama sekali tak tersisa. Hanya bekas-bekasnya saja yang nampak.
“Berarti...“
“Berarti dia sudah mau pulang.“
“Tapi dimana?“
__ADS_1
“Ya pulang. Nggak di sini.“ Semakin yakin. Harapan yang tadi sedikit terbuka sudah mulai menipis lagi. Tak banyak usaha yang mesti di kerahkan dalam menemukan suatu sosok pun. Mengingat itu adalah lokasi sepi, yang lagi-lagi mesti meyakini kalau untuk bertemu dengan seseorang pasti sangat sulit. Tak semudah jika berada di suatu daerah pemukiman. Walau telah di tinggal namun karena masih ada suatu tempat buat berlindung, suatu saat pasti bakal kembali lagi. Tak seperti kali ini, seakan semuanya sudah pupus. Kalaupun ada mungkin sudah jauh. Karena hari juga terus bergulir. Dan menjelang gelap. Siapa coba yang mau di lokasi gelap tersebut hanya sendirian. Karena lebih nyaman di tempat ramai dengan banyak teman mengobrol. Sekaligus kalau ada kesulitan bakalan bisa saling tanya sana sini. Walau terkadang ada saja orang yang enggan memberi petunjuk, namun itu segelintir orang dengan segala kekurangannya. Yang lain bakalan saling memberi rasa percaya diri. Karena orang juga bakalan sama-sama tahu. Hanya waktu yang bagus yang mesti di lakukan buat mengetahui sesuatu itu. Yang terkadang tidak sama.
“Siapa tahu masih.“