
Keduanya turun. Wajah cemberut dan kesal. Masing-masing tak menggubris Jea yang meminta saling bermaafan. Daripada panjang urusan, Jea pun putar balik, menuju kamp KKN hanya bersama Renata.
"Pindah depan, Ta. Gue bukan sopir Lo!"
"Gak mau, anggep aja gue nge-gra* dan Lo sopirnya."
"Ck...gue turunin sekalian deh ni cewek." Ancam Jea, yah meskipun hanya bercanda juga. Untuk Renata, jelas ia tak tega, sangat berbeda dengan Maya dan Nadya.
"Mereka nanti naik apa, kok kakak tega!"
"Biarin aja, banyak ojek juga. Lagian gak dewasa banget mereka tuh."
"Yah namanya cemburu, kak. Nyadar gak sih."
Jea terkekeh sebentar, lalu melirik Renata sekilas, "Katanya kamu gak pernah pacaran kok tau rasa cemburu."
"Emang kalau tahu cemburu harus ngerasa sendiri, gak juga kali. Dari teman, baca novel aku tahu lah rasa cemburu tuh gimana. Kesel-kesel emosi gitulah."
"Udah Kak, jadi cowok yang tegas aja. Mau pilih Maya atau Nadya, kasihan tau kalau jambak-jambakan kayak tadi, aku juga kenak korban."
"Kenapa pilihannya hanya Maya dan Nadya, tambahin dong, Renata juga!"
Renata hanya berdecih pelan, bisa-bisanya nih cowok direbutkan dua cewek malah ngelirik cewek lain. Sungguh terlalu.
"Gak ada nama Renata buat pilihan."
"Udah dipilih Wira ya?"
Renata diam, dia gak seberapa dekat dengan Jea. Hubungan pribadinya tak perlu dijelaskan pada orang yang tidak terlalu dekat dengannya.
"Kenapa diam?"
"Harus ya dijawab gitu?"
"Gak juga sih, gak ada urusannya sama gue juga."
Renata mengangguk, dan kembali fokus pada ponselnya. Begitupun dengan Jea hanya fokus mengemudi tanpa mengajak Renata mengobrol lagi. Kesal, itulah yang dirasakan Jea saat ini.
Jujur dia cukup kagum dengan gadis cerewet itu, ingin berdekatan dengannya dan bersenda gurau layaknya teman. Hanya saja dia maju mundur untuk melakukannya. Ada dua alasan yang membuat Jea enggan berdekatan dengan Renata secara langsung.
Pertama karena Wira, dari awal dia sudah mendengungkan Renata sebagai calon istrinya. Terlepas itu hanya candaan atau serius, karena yang bisa ditangkap Jea, Wira cukup dekat dan sayang pada Renata.
Kedua, ada Maya dan Nadya. Kedua cewek ini cukup bahaya bila menyerang Renata, yah meski ia yakin Renata cukup tangguh menghadapi mereka berdua. Kejulidan dan mulut tak berfilter Renata sudah tidak perlu diragukan lagi.
Drt...drt....drt.....
__ADS_1
/Apaan?/
/Mau ke kos gak, gue mau balik bentar. Bokap nyuruh pulang!/
/Gak deh, Lo balik sendiri ajap/
/Mau nitip sesuatu gak?/
/Gak usah, iya...ati-ati../
Renata menutup panggilan telpon dari Wira dan Jea tanpa perlu bertanya siapa yang menelpon gadis itu, dia sangat paham.
"Lo sama Wira masa' cuma sahabatan doang?"
"Kak Jea kepo ya?"
Sungguh Jea cukup sebal dengan tingkah Renata yang terkesan bercanda saaat menjawab pertanyaannya. Tinggal jawab apa susahnya sih, gerutu Jea dalam hati.
"Wira dan aku cuma sahabat kok!" terpaksa Renata bersuara. "Meskipun dia menganggap lebih."
"Kamu juga yang tegas dong, kasihan Wira kan?"
"Wira sangat tahu kok, dan paham betul tentang alasanku gak menerima dia."
"Tapi beneran gak sih kamu calon istrinya dia?"
"Yak kalua beneran, aku udah gak punya kesempatan dong."
Glek.
Ini nembak bukan? atau penggombalan aja?
"Sebelum janur kuning melengkung, siapa saja boleh."
Jea tertawa kecil, ia melirik Renata sekilas. Baru kali ini ada perempuan yang cukup kuat prinsipnya di zaman sekarang, mana ada perempuan banyak yang naksir dan gak mau pacaran, apa mungkin tarik ulur? merasa cantik dan diincar cowok lalu dia jual mahal?
Untuk Renata jual mahal kayaknya gak juga, dia lebih banyak bergerombol dengan teman ceweknya. Di Wa juga sama, beberapa kali Jea mendengar umpatan kesal dari teman KKN nya yang tak kunjung dibalas oleh Renata.
"Teman cowok kamu cuma Wira aja, Ta?"
"Gak juga ada Bian, sahabat juga kayak Wira."
"Kamu kenapa sih dari tadi main ponsel mulu, gak sopan tahu diajak ngobrol tapi sambil hp an."
"Gak nyaman."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya karena kita cuma berdua aja."
"Bukannya kamu sering berdua sama Wira?"
Renata hanya menggeleng dan terus saja menyibukkan diri dengan bermain ponsel. Ia juga tak lupa pada Maya dan Nadya yang terus ditanya posisi di mana, sudah pulang apa belum. Meski Maya menjengkelkan, ia juga tak Setega itu membiarkan begitu saja. Masih ada hari nurani untuk sekedar tanya kabar mereka.
/Sejauh mana si, Ta! Hubungan Lo ma cowok sumpah gue penasaran/
******
"Gimana semobil sama kak Jea, puas Lo!"
Masih saja Maya tak terima atas kejadian tadi pagi. Dia terpaksa masuk pasar sendiri, beli ikan dan daging. Sedangkan Nadya melenggang cantik hanya berkutat pada sayuran saja. Tak butuh waktu lama juga, langsung cus naik ojek menuju kamp KKN.
"Gue lagi yang kenak, Lo tuh kenapa si May, sensi amat sama gue."
"Perlu dijambak lagi kayak e, Ta!" usul Nadya yang sedang mencuci sayuran.
"Lo juga, mantan ke laut aja dah."
"Bentar deh, May. Lo tuh takut banget kalau gue atau Nadya dekat sama kak Jea. Kenapa? Lo minder kalau punya saingan?"
"Eh tolong ya, Ta. Lo udah ngerebut Wira dari gue, sekarang gue suka sama kak Jea apa mau Lo rebut lagi?"
"Helllowww, gue gak sedekat itu sama kak Jea, May. Mau Lo ambil ya ambil aja, gue juga gak minat. Gue gak suka bahkan gak ada niatan buat deket sama kak Jea. Heran gue."
"Sippp!" Maya mengotak atik ponselnya sebentar, "Ucapan Lo udah gue rekam, kalau Lo sampai PDKT sama kak Jea, tinggal gue putar, dan biar semua orang tahu kalau Lo itu munafik."
byurrr
Renata kesal setengah mati, mumpung ada segelas air langsung saja ia menyiram wajah Maya. Panik? panik? Maya tentu panik dan gelagapan, gak menyangka mendapat serangan tiba-tiba dari Renata.
"Telinga gue pengeng, denger Jea..Jea..Jea terus. Asal Lo tau kalau gue minat sama kak Jea, gue pastikan detik ini juga GUE UDAH JADIAN SAMA KAK JEA."
Brakk
Renata meletakkan pisau di atas meja cukup keras. Emosinya tak terkontrol, sudah cukup ia meladeni Maya dengan berbalas ocehan, tapi tidak kali ini. Perlu efek jera buat menyumpal ocehan gak berkelasnya.
"Hah....Renata anak baik terus aja Lo usik, siap-siap aja kehilangan Jea ya Maya sayang, karena gue pastiin, Jea lebih memilih Renata ketimbang Lo."
"Diam Lo, mantan gak tau diri."
"Apa Lo bilang?"
__ADS_1
Dan detik berikutnya sayuran sudah bercecer lagi, jambak-jambakan dan cakaran antara Maya dan Nadya kembali terjadi. Umpatan misuh-misuh dari keduanya terdengar nyaring. Sekarang tendangan kaki juga ikut serta, Ya Tuhan, Mahasiswa kelakuan gini amat ya rebutan cowok.
BERHENTIIIIII..... Sebuah teriakan yang bikin keduanya terdiam, tangan yang slaing terpaut di rambut mengendur tiba-tiba.