
Semakin malam semakin ramai saja pesta rakyat, banyak yang sudah duduk manis di lesehan terpal depan panggung wayang. Sorot lampu sudah terlihat jelas, warga juga siap begadang.
"Aku pulang aja deh, gak minat lihat wayang," keluh Renata yang memang sudah sangat capek berkeliling.
"Buah Nangka rasanya manis ...
Dibawa pulang pakai tossa
Eh Neng Renata manis
Wayang itu budaya bangsa"
Pantun dari Agus membuat Renata tersentil. Gadis itu hanya melengos tak menanggapi, rasa kantuk dan lelah mendominasi, kalau saja ia berani berjalan sendiri menuju rumah kontrakan, mungkin saja Renata langsung kabur. Tak peduli dengan ramainya pertunjukan wayang.
"Wir, anterin gue pulang!" rengeknya sekali lagi.
"Idiih...ogah..Gue juga pengen lihat pertunjukan wayang secara live, noh sindennya cuantik parah."
"Heleh, giliran ada yang bening dikit aja lupa sama gue. Mujaerrrr."
"Ciihhhh..." Wira mendengus kesal. Ia pun memilih duduk di barisan laki-laki, posisinya cukup strategis, barisan nomer tiga dan tidak terlalu pinggir.
"Dah, Ta. Ikut lihat aja deh, daripada di kontrakan sendiri." Bujuk Kikan yang memang mau lihat pertunjukan itu.
Terpaksa dengan menahan rasa kantuk, Renata ikut bergabung melihat pertunjukan wayang. Pak Bagyo memang the best deh, tempat laki-laki dan perempuan dipisah, keberuntungan bagi Renata, pasalnya setelah mendapat tempat lesehan yang nyaman ia menjadikan paha Helwa sebagai bantal.
"Yah ne anak beneran molor." Ketus Filza yang melihat Renata merem dan mendengkur halus.
Pertunjukan wayang dimulai dengan sapa pembukaan dari Pak Bagyo selaku tuan rumah, dilanjutkan dengan nyanyian para sinden dengan suara merdunya. Tak berselang lama, dalang mulai menunjukkan kepiawaiannya.
TING
Ada pesan masuk di grup KKN setelah semua mata tertuju pada wayang, Wira pelakunya.
Wira: Calon makmum gue di mana?
Filza: send photo
Wira: anak perawan gue, Masya Allah.
Yah... Filza sengaja mengirim foto Renata yang lagi tidur dengan bantalan paha Helwa, dengan posisi meringkuk, dan sandal tepleknya di samping, sama persis kayak orang hilang, melas, he...he..he.
Agus : Astagaa naga....Renata....malulah anak gadis, tidur sembarang tempat. Ampyun dah model gini kok gue suka yaaaaaaaa
Wira : Jangan hp an aja, Gus. Katanya mau menghargai warisan budaya.
__ADS_1
Agus : Bentar napa
Jea : Pulang yukkkk ....jam 1 loh.
Wira : Ciwi-ciwi gimana?
Kikan : Oke tunggu depan pintu keluar
Tak berselang lama, rombongan cewek sudah di pintu keluar. Banyak yang menahan tawa melihat gadis dambaan pria nempol di pundak Helwa, jalan kaki sambil merem.
Astaghfirullah Haladziimmm......
"Cepet ah, gue pegel neh!" protes Helwa, bagaimana tidak, paha dan pundaknya kebas lantaran Renata nempol terus.
"Biar gue aja yang mapah dia!" tawar Wira.
Tanpa ba bi bu, Renata terpaksa untuk melek, dan berdiri tegak. Siap jalan kaki, tanpa nempol di pundak Helwa.
"Makasih Wira, hufh akhirnya ....Renata berat banget." Keluh Helwa sembari menepuk-nepuk pundaknya.
"Makasih cintaaaaa." Renata cengengesan, kali ini bergelayut manja di lengan Helwa. Sontak saja calon dokter itu risih, paha dan pundak terbebas eh kini ganti ke lengan, punya teman kok sengklek amat ya, gak ada jaim sama sekali.
"Jauh-jauh dari aku." Helwa masih berusaha melepas gelayutan Renata.
*******
Sarapan pagi,
Sudah menjadi kebiasaan di KKN, sarapan selalu bersama di halaman rumah kontrakan mahasiswi, rasa kekeluargaan terasa sekali. Meski kadang diselingi ledekan, tapi terlihat sangat rukun.
"Mata Neng syantik kenapa tuh." Agus mulai melancarkan ledekan pada Renata. Gadis itu tertunduk lesu dan tak ada selera untuk makan.
"Hhahahhahaha mata panda!" ledek Wira sambil tertawa. Renata hanya berdecih, malu lah mata pandanya kelihatan banget. Sialan emang si Wira itu, gerutunya dalam hati.
"Awas kalian ya!" ancamnya dengan tatapan tajam. Bukanna takut, Agus dan Wira masih saja menertawakan Renata, gadis itu terlalu menggemaskan untuk diabaikan.
"Pantesan banyak yang naksir, cewek kok gak ada jaim-jaimnya, polos abiiiiisssss." Kikan masih saja memuji Renata. Kalau saja Kikan bukan cewek, mungkin saja ia juga termasuk daftar pengaggum Renata.
"Jangan ngasal deh, Ki!" Renata tak terima dibilang banyak yang naksir, takut sombong dan banyak musuh.
"Coba, cowok di sini siapa yang belum pernah chat WA ke Renata?" tantang Filza, ia juga penasaran, apakah Mika yang sedang PDKT dengannya termasuk ke dalam Renata lovers.
Renata memukul lengan Filza pelan, bisa-bisanya memberi pertanyaan seperti itu.
"Aku gak pernah WA Renata." Jea sepertinya belum menyadari, ucapannya itu bisa saja membuat dirinya ingin menggali lubangnya sendiri.
__ADS_1
"Gak pernah WA, tapi makan siang bareng, berdua lagi." Yah....Wira dengan santainya membuka aib sang ketua.
Uhukkk....uhukkk
Respon Renata tak kuasa membuat semua mata menatap dua mahasiswa itu.
"Wah parah pak ketua, diam-diam ternyata....." ujar Cipul sambil menggelengkan kepala.
"Mundur gueeeeee, saingan sama anak sultan jelas kalah telak."
Renata hanya memutar bola matanya malas, Agus frustasi.
"Gue tanya, Ta!" kali Kikan ikut obrolan para cowok itu, "Kalau lu disuruh milih Jea atau Agus pilih mana?"
Renata malas sekali jawab pertanyaan ini sodara, meski ia tahu hanya bercanda pastilah ada hati yang kecewa.
"Dia pilih gue lah," malah yang jawab Wira dengan percaya diri.
"Lo gak masuk hitungan kali ini." Mia menimpali.
"Gue pilih kak Jea, lah!"
"Kaaaaaannnn, sakit hatiku ya Allah....." semakin frustasi aja Agus.
"Kenapa pilih kak Jea?" tanya Rendi penasaran. "Karena dia anak sultan?" tebaknya lagi.
Dengan mata panda yang cukup jelas, Renata mengangguk, "Secara gue hidup pakai uang, bukan hanya cinta."
"Beuh, matre Lo, Ta!" ketus Cipul.q
"Eh ..gue juga gak mau lah hidup pakai cinta doang." Sambar Filza tak kalah jutek.
Sekarang siapa vs siapa sih, hanya karena masalah sultan kini merembet ke adu mulut antara makhluk perempuan vs makhluk laki-laki.
"Yah jadi cewek terima apa adanya dong, laki punya berapa diterima aja." Agus mulai ceramah.
"Ya elah, kita makhluk realistis ya. Kita bahagia lah kalau semua kebutuhan yang kita inginkan terpenuhi, secara toilet aja bayar pak. Masa' anak orang cuma dikasih cinta? Kalau kata cak lontong Mikirrrrrrr." Wuih pedas juga jawaban Kikan.
"Udah jelas, kan, Renata milih siapa." Jea merasa di atas awan, "Dan setelah KKN ini aku akan melamar mu."
Glek
"Cukup tahu bulat yang digoreng dadakan, Kak. Lamaranku jangan." Celoteh Renata dan sontak semua tertawa, Jea yang menganggap obrolan tadi serius malah dibalas candaan tentang tahu bulat. Ya Allah...kalau gak naksir udah dikutuk jadi paku payung dah tuh cewek.
Malunya anak sultaaaaaaaannnnn
__ADS_1