CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
PENGGANGGU


__ADS_3

Di dalam kamar, tawa Renata pecah sampai menitikkan air mata. Perutnya kaku, tidak menyangka ada kejadian gini. Jea hanya duduk di sofa kamar, melipat tangannya di depan dada. Menatap tajam istrinya.


Renata begitu santainya mengusap tonner ke wajahnya sambil tertawa tidak peduli wajah Jea yang kelewat suram.


"Seneng banget kamu ya!" Jea sudah jengah, ia mendekati istrinya lalu memiting leher istrinya itu, dan sialnya semakin membuat Renata tertawa ngakak. "Puas bikin aku kesal setengah mati, Hem?"


"Lepas kenapa sih, aku mau bersihin wajah tau." Ucap Renata sambil memukul lengan Jea.


"Kita adain resepsi aja, biar semua tahu kamu istriku."


"Gak ah, kita tuh masih suasana duka. Papa baru wafat sebulan yang lalu, malah mau ngadain resepsi." Pemikiran Renata yang selalu menolak diadakan resepsi.


"Alasan, bilang aja kamu mau dicap single terus."


"Idih, siapa yang merasa kayak gitu juga." Renata selesai membersihkan wajahnya, lalu menyambar handuk dan segera mandi, tapi Jea menarik tangannya, dan memaksa masuk ke kamar mandi secara bersama.


Terjadilah.....


Seusai makan malam, Renata membawa laptopnya ke ruang keluarga. Di sana sudah ada mama dan Mita, sedangkan Jea sudah berada di ruang kerja papa. Mama sibuk dengan laporan butik dan toko kuenya, Mita sibuk dengan tugasnya. Renata duduk di samping Mita dengan membawa draft skripsi. Malam ini bab 3 dan prototipe harus sudah jadi dan besok siap di setor ke pak Sandy.


"Kak, Luki marah sama aku. Kata Luki abangnya gagal kawin."


Renata masih asik mengetik, mendengar celotehan adik iparnya ingin sekali ia tertawa ngakak, "Bilang aja kalau tidak jodoh."


"Kamu juga, kalau ada yang tanya Kakak Renata itu siapanya kamu, kamu jawab kakak ipar. Jangan kakak doang." Sambar mama tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.


"Eh dek, emang kak Renata cantik?"


"Banget. Aku suka mata kakak,"


" Jangan naksir aku ya, dimarahin kak Jea loh!"


"Cih....aku sudah punya pacar kaleeee." Ups...Mita langsung menutup mulutnya, mama menatapnya tajam, "Coba ulangi!" titah mama.


"Aku gak bilang apa-apa sama Kak Renata kok."


"Udah laku ma, anak bungsu mama!" Renata mengompori.


"Ah...kak Renata!" rengek gadis kelas 2 SMP itu.


"Ta, kamu skripsi ambil data di mana? jangan jauh-jauh ya, mama dua Minggu lagi mau ada pameran baju muslimah di Singapura. Nitip Mita."


"Ambil data di kantor aku, Ma!" Jea datang langsung main perintah saja. Alat penelitiannya saja belum jadi sudah mau ambil data, mana sudah ditentukan pula.


Renata hanya mencibir, "Ditentukan Pak Sandy, tapi tetap di Jakarta."


"Sandy kakak kelasmu itu Je?" tanya Mama, sepertinya beliau sangat dekat dengan teman Jea, terutama Sandy, karena Sandy anak teman papa Sanjaya juga.


"Iya, ma. Salah satu yang naksir Renata juga." Jea masih kesal rupanya, padahal tadi waktu mandi sudah diberi vitamin, masih saja ada rasa kesal.


"Kamu banyak banget, Ta, yang naksir."


Renata sebenarnya malas menanggapi ocehan suaminya, ia masih konsentrasi menyusun kalimat untuk revisi bab 3 dan prototipenya, tapi ini yang mengajak omong, mama mertua.


"Gak juga, Ma. Cuma kak Jea aja yang naksir aku."


Jea berdecih, mencoel pipi sang istri yang tetap gak mau ngaku kalau dirinya punya banyak penggemar.


"Wajar sih, Kak Renata banyak yang naksir, orang cantik dan ramah, aku aja kalau jadi cowok pasti naksir."


"Mama setuju gak kalau ngadain resepsi? biar semua orang tahu kalau dia udah jadi istri orang."


"Gak usah ma, apa kata orang nanti ...papa aja baru sebulan wafatnya."

__ADS_1


Mama merenung apa yang dikatakan anak dan menantunya ada benarnya juga. "Ya udah kamu hamil aja kalau gak mau resepsi."


Waduh, ekstrem juga saran mama, hamil?


"Hamil ya ma?"


"Iya, Jea bisa kan?"


Eh pertanyaan apa ini. Ada anak di bawah umur loh, Astaghfirullah.


"Bisa banget, Ma. On setiap saat."


Renata langsung memukul paha Jea, sumpah tuh mulut gak bisa direm sama sekali. Malunya.


"Percaya sih, di tempat umum aja nyosor, apalagi di dalam kamar." Mama masih terus membahas.


"Hot banget malah." Sambar Jea tak tahu malu.


Renata cemberut, rasanya kalau di sini lama-lama gak bisa konsentrasi. Tak berselang lama, mama pamit undur diri bersama Mita. Tinggal Jea dan Renata di ruang keluarga.


"Mama minta kamu hamil tuh!" bisik Jea, niat menjahili memang.


"Trus?"


"Kita harus kerja keras tiap hari."


"Lalu?"


"Ayo ke kamar."


"Gak mau, aku mau revisi, Yang. Besok setor ke Pak Sandy loh."


"Aku hubungi Sandy deh kalau kamu belum selesai revisi."


"Gak. Malah pas bimbingan berikutnya Pak Sandy ngoceh-ngoceh soal nikah. Males."


"Gak ada maksud." Renata hanya ingin konsentrasi, boleh gak usir suaminya agar tidur duluan.


Hampir tengah malam, Renata masih betah lembur. Jea sudah tidur di sofa panjang, padahal tadi niatnya menemani sang istri begadang. Tapi tubuhnya juga cukup lelah.


Mata Renata sudah tidak bisa diajak kompromi, mengantuk juga. Ia pun segera menyimpan hasil pekerjaannya, berniat membangunkan sang suami. Tapi melihat wajah damai sang suami, ia tidak tega.


Dipandangi pahatan ciptaan Allah ini. Mata, alis, hidung, bibir semua sempurna dan membuat laki-laki ini terlihat sangat tampan, meskipun dalam keadaan tidur.


Saat Renata hendak mengusap alis tebal suaminya, tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal, siapa lagi kalau bukan Jea pelakunya. Ia menarik tangan Renata hingga tubuh perempuan itu terjerembab di atas dada Jea.


Sambil tersenyum, Jea merapikan rambut Renata dibelakang telinga, "Udah selesai?"


Renata hanya mengangguk, "Aku ngantuk."


Jea bangkit, mengucek mata sebentar tak lama kemudian ia menggendong sang istri ala bridal style. Renata mengalungkan tangannya di leher suami, terpaksa juga membiarkan laptop dan draft skripsinya di meja ruang keluarga.


******


Karena hanya menyerahkan hasil revisi di meja Pak Sandy, Renata ikut ke kantor Jea lagi. Sengaja membawa laptop agar dia tidak bosan. Meski Jea bilang tidak ada rapat hari ini, tapi ia yakin pekerjaan sang suami cukup banyak.


"Jangan ganggu konsentrasiku." Pesan Jea sebelum berkutat pada dokumen di atas kerjanya. Renata berdecak sebal, mana mungkin ia mengganggu suaminya, yang benar suaminya itu gampang sekali tergoda olehnya.


Ting


Lagi asik melihat drakor. Ada pesan masuk di ponsel Renata. Wira yang mengirimkan pesan itu. Raut muka Renata heran, sudah sejak satu bulan yang lalu Wira tidak pernah WA Renata, tapi sekarang....


/Aku pengen ngobrol sama kamu/

__ADS_1


/Tentang?/


/Apapun/


/Ya udah kirim WA aja/


/Aku mau ketemu sama kamu/


Renata menatap sang suami yang lagi khusyuk meneliti dokumen satu per satu. Memastikan mood suaminya sedang baik. Karena ia ingin izin keluar menemui Wira.


/Gak bisa ya ngobrol di WA aja/


/Kenapa?/


"Chat sama siapa, Yang?" tanya Jea penasaran, sedari tadi Renata melihat ke arahnya lalu fokus ke ponselnya lagi.


"Wira."


Eh... siapa??? Wira?? masih hidup tuh anak?? Tanpa banyak tanya, lagi-lagi beberapa dokumen di bawa Jea ke meja sofa. Duduk berdampingan dengan Renata yang sedang khusyu chatting.


"Lihat!" pinta Jea, sudah duduk di samping Renata, menempel di pundak sang istri dan ingin tahu chatting ala istrinya dan Wira. Perfecto.


"Ketemuan? harus sama aku!"


/Di cafe depan kantor suamiku aja, Wir. Aku juga ngajak Jea./


/Gak usah, Ta. Kalau ada Jea/


/Ya udah/


/Sampai kapan kamu melibatkan Jea dalam hidupmu Ta?/


"Lah gimana sih, gue suaminya. Wajarlah terlibat dalam urusan apapun. Gak beres nih anak!"


Renata cekikikan, mendengar ocehan Jea. Urusan sama cowok lain, Jea tak membiarkan Renata turun tangan sendiri. Bahaya.


"Balas aja, emang kenapa dengan suami gue?"


Renata menoleh ke Jea, mencium pipinya sekilas dan menyodorkan ponselnya. "Balas sendiri gih!"


Jea diam. Gak tega juga sih, kalau terlalu posesif sama Renata. Memang sejak Renata menikah, hampir tiap hari Jea di samping istrinya itu. Tapi itu kan hal wajar, Jea suaminya.


"Emang dia mau bicara tentang apa?"


"Apapun katanya!" jawab Renata sambil mengedikkan bahu.


Jea diam. Antara mengizinkan atau tidak. Wajah Renata si lempeng aja, gak ada raut memaksa diizinkan untuk pergi. Tapi kalau gak diizinkan Wira bakal ganggu pernikahannya terus. Galau kan?


"Pergi aja!" titah Jea tapi tak melihat wajah Renata, berniat meneruskan pekerjaannya. Renata tersenyum, kalau dia bertemu Wira, Jea bakal gak fokus sama pekerjaannya, kalau gak ditemui makin lama aja urusannya sama Wira.


"Kok diam?" tegur Jea. Renata menggeleng dan kembali menekan tombol space untuk melanjutkan nonton drakornya, dan meletakkan ponselnya begitu saja.


Sudut bibir Jea terangkat, bahagia banget karena Renata tidak memaksa untuk menemui Wira. "Sayang istriku?" ucap Jea sambil memeluk dan mencium pipi Renata. Bangga.


"Sayang suamiku juga!" balasnya sekaligus mencium pipi Jea. Dipancing cium di pipi, membuat tatapan sayu pada istrinya itu muncul. Renata tahu arti tatapan itu.


"Gak usah mupeng, sana kerja lagi."


"Tau aja!"


Renata tertawa. Jea melanjutkan pekerjaannya, Renata nonton. Ponsel Renata tang Ting tung, masuk beberapa pesan dan Jea sesekali melongok mengintip siapa yang kirim pesan berturut-turut. Mengganggu.


Wira, si pengirim pesan.

__ADS_1


Jea menghela nafas berat, prediksinya benar kalau Wira akan terus mengganggu. Shittt!!! Tak berselang lama, drt...drt....


Wira memanggil


__ADS_2