
Jea keluar kamar mandi dengan telanjang dada, dengan mengusap rambutnya ia berjalan mendekati Renata yang lagi khusyuk memegang ponselnya.
"Kenapa?" tanya Jea dengan mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
"Asisten kamu pengen PDKT dengan Neva, cihuy, akhirnya teman gue ada yang melirik."
"Emang teman kamu gak pernah pacaran juga?" Jea masih memakai kaos dan jeans yang disiapkan Renata.
"Kita mah cewek standar mana ada yang mau lirik." Renata mendekat ke arah suaminya, memeluk erat, membuat Jea tersenyum. Manjanya Renata cukup menggemaskan.
"Gak usah rendah diri, udah berapa cowok yang kamu tolak? Gitu bilang gak ada yang melirik."
Renata cekikikan, melepas pelukannya lalu mengambil ponselnya untuk kirim nomor kontak Neva.
"Udah yuk, mau keluar sekarang apa habis Maghrib?"
"Habis Maghrib aja sekalian."
"Mau ke mana?" tanya Jea yang hendak membuka laptop tapi sang istri malah mau keluar.
"Ke mama, kamu juga mau kencan sama laptop!"
"Sini." Panggil Jea dengan menepuk pahanya. Enak saja istrinya mau keluar meninggalkan dirinya, udah dibelain pulang cepet, dianggurin juga.
"Harus ya duduk situ!"
Jea hanya mengangguk, "Sini!" pintanya lagi.
Renata pun menurut, dengan mengalungkan tangannya pada leher sang suami, keduanya saling pandang, dengan kekaguman masing-masing. "Kenapa sih manja banget?" tanya Renata dengan mencoel hidung mancung suaminya.
"Perasaan yang manja kamu deh, dedek apa kabar?" Jea mulai mengelus perut buncit Renata. Dia memang sering diingatkan oleh sang mama untuk mengajak calon bayi berkomunikasi, agar kedekatan dengan kedua orang tua terbangun mulai dari kandungan.
"Baik, pa!" jawab Renata dengan suara kecilnya.
"Udah gak muntah, kan?" Jea merapihkan rambut sang istri.
"Enggak, udah enak kok, cuma makanku banyak banget." Renata bercerita dengan mengerucutkan bibir.
"Coba tadi makan apa aja?"
"Apel, jus alpukat, salad buah, sama kripik kentang."
"Ya elah makan gitu doang Yang, itu mah camilan."
"Diih, kenyang banget tahu."
__ADS_1
"Ntar kencan di mall makan berat sama aku ya, aku suapin deh."
"Makan apa?" Renata mengernyitkan dahi.
"Kamu pengen apa?"
"Sate aja, gak usah ke mall, kita keliling kota aja ya, bosen banget loh ke mall."
Jea mengangguk, kemudian membuka laptopnya, masih dengan memangku Renata. "Aku turun aja." Renata akan beranjak, namun Jea malah mengungkungnya. Mulai membuka email, dan Renata pun ikut menatap layar laptopnya.
"Tadi mama tanya aku mau kerja apa gak?"
"Trus kamu jawab apa?" Jea masih mengotak atik laptopnya.
"Yang, aku turun dulu, pengap tau." Protes Renata, berontak ingin turun dari pangkuan Jea.
Padahal Jea mau mematikan laptopnya karena konsentrasinya pun terpecah karena ocehan Renata. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, masih melingkarkan tangan di pinggang sang istri. "Jadi jawab apa sama mama?"
"Aku gak mau kerja kantor, kerja di rumah aja."
Jea tertawa, entah apa yang dipikirkannya, mesum sepertinya. "Iyalah kerja di rumah, lebih tepatnya kerja di kamar sama aku."
Kan....omes lagi, Renata memukul pundak sang suami. "Kami tuh selalu, belok mikirnya. Dah ah, persiapan sholat magrib, habis itu keluar." Renata beranjak dan segera mempersiapkan sholat maghrib.
Setengah jam kemudian, keduanya pamit pada mama untuk keluar, karena peringatan mama, jangan makan sembarangan, Renata mengurungkan niatnya makan sate, alhasil tujuannya tetap menuju mall.
Renata hanya meringis, memperlambat langkahnya. "Lupa."
Kali ini bukan baju seukuran dia yang dicari, tapi kaos BT21 size anak, Jea langsung mendelik. "Yang, jangan bilang kamu mau beli buat anak kita."
"Pintar sekali pak bos ini!" Girang sudah Renata dengan kaos size kecil, matanya ijo, main comot dengan berbagai warna. Jea hanya menghela nafas berat.
"Yang anak kita belum tahu jenis kelaminnya, gimana kalau laki-laki, masa iya dikasih kaos warna pink?"
"Eh gak pa-pa, anakku harus punya semua warna."
Jea menunduk, kesal sumpah kesal. Bisa-bisanya hasil usahanya tiap malam bakal didandani ala cowok cantik negeri koreyah juga. Yassalam.
"Udah gak usah banyak-banyak." Jea mengintrupsi, tidak hanya kaos tapi legging, jepit rambut, topi yang Renata ambil.
"Biasanya suruh belanja banyak, sekarang kenapa jadi pelit sih." Gerutu Renata yang masih sibuk memilih kaos kaki unyu. "Atau kamu mau cari baju kembaran, kita bertiga gitu?"
"BT 21 juga?"
Renata mengangguk, dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Gak, terimakasih."
"Cih .. segitunya. Gak usah benci-benci, ntar anak kita mirip Jungkook gimana?"
"Naudzubillah. Aku yang nyetrum, kenapa jadi mirip dia."
"Bahasa kamu, Yang, ini tempat umum loh."
"Udah cepet bayar." Kesal juga Jea lama-lama berada di outlet ini. "Habis ini kita makan."
Renata hanya berdecih dan beranjak menuju kasir. Saat mereka keluar outlet, ponsel Jea berbunyi, dia mencari tempat yang sepi untuk menerima panggilan. Renata diminta untuk menunggu di depan outlet sebentar.
"Renata, kan?" tanya seorang pria yang datang secara tiba-tiba. Renata tak asing dengan wajahnya, tapi siapa dia lupa. "Baha'. Anak Tante Marta."
Renata mengerjap bingung, mati gue mati, begitu batin Renata meronta. Sepertinya pertemuan tak terduga ini mengancam kencan malam ini. Dia hanya tersenyum kaku, sekedar menghormati sapaan ramahnya. "Ya Allah, kamu tambah cantik." Puji Baha' dengan mengacak rambut Renata sambil tersenyum bahagia.
"Yang!" panggil Jea, suaminya itu sudah menampakkan wajah seramnya. Sontak saja Renata mendelik menatap Jea, begitu juga dengan Baha' yang mengikuti arah pandang Renata.
"Pacar kamu, Ta?" tanya Baha' dengan wajah sok kenal sok dekat begitu. Menyebalkan.
"Suami lebih tepatnya." Ketus Jea yang segera berdiri di samping Renata.
"Oh kamu sudah menikah?"
Renata yang sejak tadi diam, dan belum menjawab apapun ocehan Baha' hanya mengangguk.
"Anda siapa?" Jea memastikan, nadanya ketus.
Baha' menyodorkan tangan, Jea pun membalasnya, "Calon suami Renata gak jadi, ha...ha.."
Jea dan Renata sontak saling tatap, apa-apaan ini. Gak ada angin gak ada hujan mengaku calon suami, yah meskipun ada kata 'gak jadi' sih. "Maksudnya?" Renata akhirnya bersuara.
"Masa' kamu lupa sih, atau pura-pura lupa?" Goda Baha'. Sumpah kalau gak lagi hamil, mungkin tuh mulut cowok gondrong udah dikrues Renata, kalau perlu diuleg campur rujak cingur.
"Bahkan mamaku dan ibu kamu kan sering ajak kita jalan bareng." Masih saja Baha' mengurai masa lalu keduanya yang sialnya Renata tak ingat akan kejadian itu.
"Kalau ngomong yang bener, Om!" sentak Renata, sifat aslinya keluar tuh jutek level mampus. "Saya gak pernah ya jalan bareng sama situ, kalau ngarang yang pinter dikit dong!"
"Maaf ya, Pak. Mungkin Bapak salah orang." Jea menurunkan intonasinya, sepertinya ia harus segera memenangkan emosi sang istri.
"Gimana salah orang, saya punya kok foto Renata."
Deg
Renata melongo, benar kah? Sumpah Renata tak ingat siapa dia, memang sih wajahnya familiar, dan Renata juga kenal dengan Tante Marta, sahabat sang mama yang sudah pindah ke Surabaya.
__ADS_1
"Ini!" jawab Baha' dengan menunjukkan ponselnya, ada seorang gadis berseragam putih abu-abu dan foto itu memang Renata.
"Yang?" Jea menoleh ke arah Renata, curiga juga dari sorot mata yang terpancar.