CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
GRILL


__ADS_3

Malam di puncak tanpa bakar-bakar rugi besar, apalagi mama Jea memiliki peralatan bakar cukup lengkap. Mulai dari kompor portabel, alat grill, spatula, dan berbagai pisau untuk menyantap daging. Ditemani Mbok Sum Pak Dirman dan Neva, mama Jea belanja daging slice, aneka sosis, dan minuman kaleng untuk nanti malam. Di mana Jea dan Renata?


Pasangan gak ada akhlak itu masih tertidur pulas, sejak tiba di villa hingga pukul 11 siang keduanya tidak keluar kamar, barulah saat makan siang tepat jam 1, keluar dengan wajah tanpa dosa, dan rambut lembab mereka. Pemandangan yang tidak mengenakkan bagi jomblo seperti Neva dan Daffa.


Apalagi Daffa tahu apa yang terjadi pada keduanya sejak tadi, pikiran liar pun sempat terlintas di benak Daffa. "Gak ada akhlak." Gumamnya sinis.


"Udah?" tanya mama dengan nada sinis. "Katanya mau melakukan misi, ternyata misinya di kamar toh, apa bedanya dengan di rumah?" sindir mama sambil menata meja makan.


"Sayang mamaku!" peluk Renata pada wanita yang masih cantik di usia senjanya.


"Sayang mamaku juga!" Jea memeluk sang mama sembari mengecup pipi cinta pertamanya.


"Yang mau kamu comblangin aja udah resmi jadian."


"Yang bener, Va?" Tanya Renata kaget, memastikan raut sahabatnya.


"Udahlah, kelamaan nunggu Nyonya CEO!" Cibir Daffa sembari merangkul pundak Neva dengan wajah menyebalkan.


Jea hanya mencibir, tak ikut menimpali ocehan Daffa yang terlihat bahagia itu, bagus deh, istrinya gak perlu rayuan maut untuk menjodohkan mereka.


"Selamat makan!" ucap Mama mempersilahkan semuanya untuk makan. Renata seperti biasa melayani makan sang suami, lalu mama mertuanya baru dirinya mengambil jatah makannya. Suasana kekeluargaan terasa saat makan siang itu, Renata dan Mama saling memuji, keduanya dekat sekali tak tampak kalau mereka adalah menantu dan mertua.


"Lain kali aku ajak ketemu mamaku ya?" bisik Daffa disela kunyahan makanannya.


"Emang rumah kak Daffa di mana?" bukan Neva yang kepo tapi Renata.


"Dih....siapa yang ngajak ngomong situ sih." Daffa sinis pada Renata.


"Jawab aja kenapa sih!" protes Jea tak terima.


"Tahu, awas aja kak, kalau mau tambahan bonus buat melamar, jangan dikasih."


"Beres sayang." Jawab Jea dengan tertawa mengejek.


"Cih., kompak banget kamu, Ta sama Pak CEO!" Sindir Neva, sebenarnya Neva ini anaknya rame, cerewet dan jutek. Mungkin belum terbiasa dengan Daffa dan mama Jea, dia begitu insecure untuk menimpali candaan. Toh kalau sama Renata, mau ghibah sampai pagi juga dijabani.


"Udah menyatu sih, kompak rese' nya." Balas Daffa.


"Menyatu apanya?" mama bertanya, kali ini dengan nada serius. Tapi Daffa tahu, pemikiran mama Jea pasti menjurus pada adegan 21+.


"Hatinya, Tante!" Daffa meluruskan apa yang dipikirkannya.


"Tubuhnya juga!" serobot Jea yang langsung mendapat tabokan di bibir lemesnya. Mama pelakunya.

__ADS_1


"Punya anak blong banget ya tuh mulut."


"Gue gak menyangka, Ta. Suami Lo juga 11-12 sama Lo!"


"Namanya juga sehati, sejiwa, ya Yang?" Renata membuat Daffa memutar bola matanya jengah, terlebih Jea membalas uluran jari Renata yang membentuk love, sejak kapan dia bucin level akut ini. Ya Allah Tuhan.


Keseruan mengobrol dengan suasana kekeluargaan berlanjut hingga acara bakar-bakar setelah isya. Bahkan Mbok Sum dan Pak Dirman turut serta, bahan makanan yang dibeli mama tadi siang sudah siap di pemanggang.


"Kamu mau apa sayang?" tanya Renata ketika membalik daging slice yang sudah diolesi saus barbeque.


"Daging aja!" jawab Jea, masih dengan menatap fokus ponselnya.


"Kamu tuh kalau lagi sama istri taruh dulu ponselnya kenapa sih!" protes mama, beliau juga sibuk mengoles saus di permukaan daging, cumi, udang, dan aneka sosis.


"Kayak gak ada waktu lain aja ya, Te!" sahut Daffa dengan nada mengejek.


"Kenapa sih istri aku aja gak protes!"


"Protes dalam hati lah!" Renata mendadak sewot.


Huuuuuu


Sorai mama, Daffa, dan Neva tentunya. Jea kincep dan menyimpan ponselnya di saku celana. Bergabung dengan sang istri tampak asyik membalik berbagai makanan dengan Neva.


"Jangan terlalu matang Yang cuminya!" Jea sudah siap dengan piring kecil dan sumpitnya.


"Dih ..tiup dulu!" pinta Jea, Renata meniup cumi yang masih mengepul itu. Kemesraan mereka tak luput dari pandangan Neva. Gadis itu sampai menopang dagu melihat kedekatan Renata dan suaminya.


"Gue kira Lo gak bisa bersikap manis, Ta sama cowok, secara Lo gak pernah pacaran." Komentar Neva yang dijawab kekehan oleh Renata.


"Manis banget, Va, sekarang. Dulu ma datar, dipancing-pancing juga mana peka." Jea membalas dengan mengunyah cumi yang berturut disuapi Renata.


"Wajarlah, aku gak pernah punya pengalaman dekat sama cowok, apalagi sekamar."


"Kalau sekarang?" pancing Jea dengan kerlingan mata mesumnya.


"Mulaiiiiii!" protes Daffa sebelum bos dan istri beradegan mesra di depannya. Kebetulan mama lagi menerima panggilan dari teman arisannya.


"Biasa aja kali, Fa. Nanti kalau kamu udah punya yang halal, yakin deh kamu bakal kekepan terus. Awas aja sampai bolos."


"Ya gak masalah aku bawa ke ruang kerjaku lah, meniru bosnya!"


"Kode tuh Va!"

__ADS_1


"Kenapa sih menjurus ke situ terus!" protes Neva, dirinya paham hanya saja untuk membahas seperti itu risih juga, dan anehnya Renata sudah tidak sepolos yang dikira. Melesat jauh! "Lo juga, Ta, kok bisa jadi gini sih?"


"Gue dulunya emang polos, tapi gara-gara dikasih les gratis sama dia, bikin otak gue gesrek."


"Kamu juga menikmati sayang." Jea tak mau kalah. Masih saja membahas hal gak penting bagi Neva.


"Biarin aja, Va, tutup kuping kamu kita nikmati bakar-bakaran aja. Pasangan gesrek gak usah didenger."


"Padahal nih, Kak. Renata tuh dulu ditembak dosen aja, gak berani duduk depan waktu mata kuliah beliau."


Sepertinya Neva salah ucap, ekspresi Jea langsung datar. Kunyahannya pun berhenti sejenak, melirik ke arah Renata yang kikuk juga. Sedangkan Daffa sedang menahan senyum sambil menyenggol lengan Neva.


"Dosen siapa, Yang?" tanya Jea masih dengan nada datar.


"Siapa ya, lupa!" Renata menjawabnya enteng, toh memang dirinya lupa. Kejadian itu ketika dia mahasiswa semester 4 sepertinya.


"Dosen statistika gak sih waktu Lo cerita dulu." Yah Neva malah membongkar, cerita yang tadinya dilupakan Renata malah dibuka Neva. Tawa Daffa pecah juga, Neva tidak tahu maksud senggolan Daffa.


Renata mendelik, "Lupa, Va!" berusaha mengalihkan pembicaraan Neva.


"Ih...dosen, yang ke kos. Bawa kue roll banyak ituloh, aku aja ingat. Anak kos heboh, eh gak ding, anak lorong doang."


"Nevaaaaaa!" teriak Renata karena Neva tak kunjung mingkem. Neva cekikikan, sengaja memang. ingin tahu bagaimana kalau Jea dan Renata bertengkar.


"Tuh kan, dosen siapa sih, Shandy?" Jea masih mengintrogasi.


"Eh kayaknya iya deh, Pak Shandy ya." Neva masih bikin gara-gara. Jea sudah berhenti makan, menatap sang istri dengan tatapan sinis.


"Bukan."


"Tuh kan kamu ingat berarti, ayo ngaku siapa?" Jea mencubit pipi sang istri gemas.


"Pak Ehsan kayaknya. Toh aku juga gak makan kuenya. Noh Neva noh yang makan."


"Kan sayang kalau dimakan, padahal yang kasih tuh ganteng, mapan, masih muda. Ditolak sama Renata."


"Va, Lo bikin gara-gara tau."


"Kalau kamu diposisi Renata gimana?" Daffa yang tertarik menimpali ocehan Neva.


"Mancing nih!" Neva sengaja menggantung jawaban Daffa.


"Heleh, cewek tuh pada dasarnya suka banget kalau didekati cowok, tapi di bibir bilangnya ogah, udah kak Daffa, santai saja. Nanti kalau Neva gak mau terima kak Daffa, aku punya teman buat aku kenalin deh." Renata gemas pada Neva yang masih ragu dengan Daffa. Dilihat dari apapun, Daffa sudah pas untuk dirinya. Mungkin gengsi kali mau jawab iya langsung, jadi main tarik ulur dulu.

__ADS_1


"Biro jodoh mbak," ledek Jea.


"Setuju, Ta!" jawab Daffa pasrah, pura-pura menyerah saja daripada terlalu mengharap Neva, dia ingat ucapan Renata, makin dikejar makin jauh nanti Neva.


__ADS_2