
Bapak ke Jakarta ada workshop selama 3 hari, ibu juga ikut. Kita nanti tidur di hotel, kamu ke sini ya.
Begitulah pesan bapak yang Renata baca usai sholat shubuh. Ia segera menelpon sang ibu.
"Assalamualaikum, Bu!" sapanya pelan saat sambungan telpon sudah diangkat oleh ibu.
"Waalaikumsalam, nduk, bapak dan ibu masih di bandara. Kamu di mana, bisa jemput gak?"
"Kia nginep di rumah sakit, Bu. Ada teman yang sakit, bantu jaga. Boleh, Setelah ini Kia berangkat ke bandara. Bapak mulai workshop kapan?"
"Besok, sengaja bapakmu berangkat lebih dulu, katanya biar puas jalan-jalan sama kamu, sekalian ketemu sama calon mantunya."
Uhukkk....Renata keselek air liurnya. Masih pagi pembahasan yang cukup menyeramkan, calon mantu. Ya elah. "Kia siap-siap dulu ya, Bu. habis itu langsung cus ke bandara." Ia pun mematikan sambungan, dan membangunkan Ola.
"La, gue mau ke bandara. Bisa anterin gue?"
"Hoooooammmm...ngapain ke bandara?"
"Bapak gue ke sini, ada workshop."
"Apaaaa Lo mau dikawinin?" inilah resiko ngajak orang bangun tidur bicara, omongannya ngelantur.
"Melek dulu, kawin-kawin. Dah segera sholat antar gue ke bandara."
Ola dengan lunglai masuk ke kamar mandi mengambil wudhu dan segera sholat shubuh. Ceca masih tidur, Renata mengirim pesan ke mama Ceca kalau ia dan Ola ada urusan pagi ini, dan beliau menjawab akan segera ke rumah sakit.
Hawa dingin langsung menembus kulit Renata dan Ola ketika menuju parkiran mobil, masih gelap dan sepi. Ola terus menggerutu karena bangun terlalu pagi.
"Ck..anak perawan bangun setengah 6, gak malu sama ayam!" omel Renata mendengar kebiasaan bangun Ola.
"Ini terlalu pagi, Ta. Baru jam setengah lima lebih juga, yassalam Ta. Ayam aja belum keluar dari kandang."
"Heleh bilang aja Lo males ngantar gue ke bandara kan, ingat La mungkin ini bisa jadi gue ngerepotin Lo yang terakhir. "
Seketika Ola menghentikan langkahnya, "Jangan ngomong gitu, ah, kayak mau pergi jauh aja."
"Dih....emang Lo juga mau ke luar negeri, gue juga mau nikah."
"Iya iya yang udah laku." Ola mengalah, memang sedikit baper aja dengan ucapan Renata tadi. Sebisa mungkin Ola ingin bersama para sahabatnya hingga tua. Punya teman yang satu aliran, satu server itu termasuk rizeki loh. Sedih dan bahagia gak ada bedanya, pasti ada momen sengklek yang tercipta.
Hanya setengah jam berkendara, mereka sampai di Bandara. Menunggu di pintu keluar penerbangan domestik, menanti kedatangan bapak dan ibu Renata.
"Ibu...bapak!" ucap Renata sambil menyium tangan kedua orang tuanya. Begitupun dengan Ola, ia juga mencium tangan kedua orang tua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Langsung ke hotel atau sarapan dulu nih?" tawar Ola.
"Sarapan aja dulu ya pak, bu!"
"Manut!" ucap Bapak.
Ola melajukan mobilnya menuju warung kremes Bu Yekti. Warung itu memang buka mulai pagi jam 6 hingga jam 11 siang saja. Dekat dengan bandara. Ada berbagai menu sarapan di sana antara lain: pecel, rawon, soto, nasi kremes, nasi campur dan aneka minuman. Warung ini bersih dan selalu ramai pengunjung.
"La, potoin gue sama bapak ibu gue!" pinta Renata sambil menyodorkan ponselnya setelah mendapat tempat.
Cekrek...
Bapak dan ibu yang posenya ala orang tua tanpa ekspresi dan Renata hanya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya terabadikan. Layaknya anak zaman sekarang, foto itu langsung diunggah ke status WA.
Anak rantau lagi di sambang sama bapak dan ibu ❤️❤️❤️❤️❤️
Begitu caption yang menyertai foto tadi. Tak lama kemudian makanan yang dipesan datang. Hemmm....sungguh menggoda selera, makanannya fresh masih panas. Nikmat.
Mereka makan dengan tenang dan diselingi candaan ala bapak. Ola sangat mengimbangi candaan bapak, cocok jadi anak beliau. he..he..
Lagi enak makan, ponsel Renata berbunyi. Ibu sempat melihat Pak Bos, begitu nama kontak Jea.
"Anak ibu penting banget sampai dihubungi bos pagi-pagi," celoteh ibu.
"Penting, pentiiiiiing banget, malah dilamar juga." Ola kompor meleduk.
Beuh mak-mak, suaranya tidak bisa dikondisikan. Ola cekikikan mendengar respon ibu Renata.
"Bos Renata itu ya Jea, Bu!"
"Loh jadi kalian itu satu kantor?"
"Renata magang Bu, cuma magang."
"Heleh...mau jadi Bu bos juga," masih juga Ola jadi kompor, teruuuuus...teruss saja ngoceh, minta dicoelin sambal deh si Ola itu.
Drt...drt...
Jea telpon lagi
"Angkat aja!" perintah bapak.
Renata hanya menurut dan segera menggeser tombol ijo, "Halo." Sapa Renata
__ADS_1
"Bapak sama ibu di Jakarta?" tanyanya.
"Iya, baru sampai tadi habis shubuh."
"Kok gak bilang, tahu gitu aku jemput."
Renata cuma meringis, gini ya kalau punya hubungan sama cowok itu, hal sepele juga diperhatikan. Pengalaman baru.
"Gak usah, ada Ola kok."
"Aku mau ngomong sama bapak, boleh?"
Renata melirik ke arah bapak, eh si bapak juga menatap Renata, tahu aja kalau dicari Jea, hemmm...
"Ngapain?" tanya Renata ragu.
"Nyapa camer lah. Udah kasih bapak aja,"
Renata pun menurut, ia pun memberikan ponselnya pada bapak, "Kak Jea mau ngomong sama bapak."
"Halo calon mantu."
Alamakkkkk Bapaaaakkkkk, langsung sebut calon mantu aja. Sedangkan ibu langsung menempel dekat bapak, pengen dengar suara mantu katanya. Ya Allah Gusti, Ola...hah Ola hanya menahan tawa, ia yakin Renata bisa gesrek diturunkan oleh siapa, bapak dan ibunya unik gitu.
"Kamu nanti malam diajak ketemu mamanya Jea?" tanya bapak setelah mematikan sambungan dengan Jea.
"Rencananya gitu, Pak."
"Sama bapak dan ibu sekalian ya, biar ketemu sama besan sekalian."
Serius? nanti malam, ketemu camer dan calon besan? Ya Allah pakkk, putri bapak grogi neh.
"Gak usah masuk magang, Ta, gue ajak ke salon." Bisik Ola, sontak saja Renata menoleh pada Ola. Ini apa sih, semua kok mendadak gini.
"Kamu ada kuliah gak hari ini, kita belanja naja ke mall gimana?" Jiwa shopping holic ala ibuku muncul.
"Ibu dan bapak istirahat saja di hotel gimana, biar Ola saja yang antar Kia belanja."
"Eh...gak bisa, bapak ke sini cuma bawa baju batik, masak mau ketemu besan batik kerja."
"Ya terus bapak mau pakai apa kalau gak batik, kemeja? atau baju kokoh?"
"Ya batik juga, tapi yang bagus gitu."
__ADS_1
"Ibu juga mau beli baju. Kita juga kasih buah tangan lah, masa' ke rumah besan gak bawa apa-apa!"
Yap... Renata kalah kalau sudah berurusan dengan bapak ibunya, dia hanya menurut. Oke..hari ini ia tidak berangkat magang, segera saja ia mengirim pesan ke Pak Fahmi izin tidak masuk magang. Semoga izin hari ini tidak mempengaruhi nilai magangnya.