CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
MENJELANG PERGI


__ADS_3

"Cie ..papa udah punya mantu neh, semangat sembuh, ntar aku buatin cucu yang banyak." Cicit Jea. Duh ...Renata yang ada di sampingnya sontak menoleh dengan pelototan tajam. Bisa-bisanya ngomongin banyak cucu depan orang banyak. Malu lah.


"Heleh...malam pertama di rumah sakit mau bikin cucu banyak, ngimpiiiiii." Ditambah ocehan Vino dari arah belakang.


"Diam Lo!" sambar Jea.


Kami pun mengobrol apapun, ada canda, tawa, tangisan haru, dan ledekan mewarnai kamar inap papa. Beliau pun tampak bahagia, bahkan meminta duduk agar bisa melihat satu per satu orang yang menyanyanginya.


Mita juga antusias dengan kakak perempuan iparnya, ia duduk bersila di dekat Renata sambil melontarkan celoteh lucu khas anak SMP.


"Kak Renata, tahu BTS?" tanyanya pada Renata. Sedangkan yang lain masih mendengar celotehan ibu Renata, lebih tepatnya tentang penerawangannya, tapi kini tentang tetangga di Pacitan. Mama sangat antusias mendengarkan ibu, begitupun bapak yang beberapa kali menginterupsi celotehan istrinya.


"Tahu, ada yang namanya jongkok kan?" Astaga Renata baru saja melakukan salah eja, anak ABG baru meltek itu langsung cemberut, "Bukan jongkok kak, Jungkook." Ia meralatnya dengan memperjelas ejaan.


"Yang lagunya oooo...uuu...oooo!" Sita ikut nimbrung, "Pernah dengar dari playlist laptopnya Mbak Renata." Ujarnya yang langsung membuat Mita sumringah. Itu adalah intro lagu BTS feat Nicky Minaj, Idol.


"Kakak suka bener deh!" cicitnya bahagia.


"Itu lagu apa suara Tarzan di hutan sih?" Vino pelakunya.


Sebagai seorang Army jelas Mita langsung mengomel, "Eh...tolong ya, kak Vino kalau gak tau diam aja, gak usah ngrusak mood."


Vino cengengesan. "Lagian Lo, kurang kerjaan banget nanggepin penggemar kakek-kakek." Ujar Jea yang langsung mendapat pukulan dari adik semata wayangnya.


"Oppa, bukan kakek. Diam juga deh." Tambah keki saja Mita oada kedua cowok dewasa itu. "Kak Renata kalau panggil kak Jea apa?" Renata yang baru saja mau bermain ponsel seketika berpikir keras, karena pertanyaan Mita itu membaut Jea langsung menatapnya.


"Jangan alay." Bukan Jea yang bilang, tapi Vino. Ia tahu Renata termasuk gadis sengklek 11 - 12 dengan sang kekasih, pasti panggilannya alay, sok sweet.


"Oppa Jea?" Renata sengaja memancing amarah sang suami, e cie suami.


"Tuh kan!" sahut Vino dan Jea serempak, dan membuat Mita serta Renata cekikikan.


Candaan mereka berhenti saat dokter masuk. "Alhamdulillah, panasnya sudah turun. Semangat sehat ya Pak Sanjaya."


Yah...satu jam setelah pernikahan kilat terjadi, panas papa memang turun, termometer digital yang memang terpasang sudah menunjukkan angka 36,3 derajat.


"Ah ..mungkin beliau memang menginginkan pernikahan Jea dan Renata tapi beliau kesulitan mengutarakan sehingga panas." Ibu berkata layaknya dokter, Renata hanya melengos ada rasa malu dengan ceplos ceplosnya ibu.


"Nyonya Handoko amajing!" bisik Sita di telinga Renata dengan nada mengejek. "Diam Lo!" balas Renata.


Malam semakin larut, Bapak dan Ibu sudah pamit sejak pukul 9 malam begitupun dengan Vino dan Sita mereka juga pamit takut kemalaman, khawatir pintu gerbang kos tertutup juga. Mama dan Mita sudah terlelap di kasur penunggu pasien yang menjadi fasilitas kamar inap papa.


Tinggal Renata dan Jea yang masih melek, dan sibuk dengan gadget masing-masing. Mereka berdua duduk berdampingan tak berjarak. Jea sibuk dengan tablet yang menampilkan pekerjaan kantor.

__ADS_1


Renata sebenarnya sudah mengantuk tapi ia juga kasihan pada Jea yang masih berkutat pada pekerjaan. Alhasil ia bermain ponsel meladeni chat Ceca dan Ola, serta group lorong 13.


/Selamat mbaaaakkkk/ tulis Ilma


/Widiihhhh nikah juga/ tulis Elea


/Haduh....ganti teman tidur dong/ Neva si usil mengirimkan voice note. Gesrek emang tuh anak.


Renata cekikikan mendengar voice note Neva sampai Jea menoleh. "Ada apa?" tanyanya pelan.


"Anak kos heboh." Jawab Renata sambil tersenyum.


"Dikasih tahu Sita mungkin." Tebak Jea yang sudah tahu topik obrolan di group kos istrinya itu.


"Siapa lagi." Renata memang belum memberitahu siapapun tentang pernikahannya, ia sedang mengumpulkan niat memberi tahu Ceca dan Ola.


/Gue udah nikah, Ca!/ tulis Renata to the poin dengan melampirkan foto akad nikahnya. Begitupun dengan Ola, Renata mengirimkan pesan sama persis yang dikirim ke Ceca.


Drt...ponsel Renata langsung bergetar, panggilan dari Ceca namun ia tolak. "Kenapa gak diangkat?" tanya Jea.


"Udah malam, lagian nanti dia nyerocos mencari berita."


Jea menatap Renata, ingin sekali ia memeluk tubuh perempuan yang halal baginya itu, tapi ia tidak berani. Mereka belum sedekat itu.


"Belum, lagian kasihan kak Jea melek sendiri. Aku temani." Cicit Renata tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. Jari-jarinya masih sibuk dengan membalas sederet ocehan Ceca.


"Ditemani apanya, ditinggal hp-an juga." Jea pura-pura cemberut, Renata lalu meletakkan ponselnya.


"Emang mau ditemani kayak gimana?" pertanyaan Renata menimbulkan pikiran aneh di otak Jea. Ia segera meletakkan tabletnya dan menatap wajah polos istrinya.


"Kayak gini." Tanpa permisi, Jea langsung mencium lembut bibir Renata. Mendapat serangan tiba-tiba, Renata melotot seketika, ia memukul dada suaminya agar dilepaskan. Mentang-mentang udah halal, main nyosor tak tahu tempat.


"Makasih." Cengir Jea tanpa dosa.


"Cih....ciuman pertama aku itu." Protes Renata.


"Gak pa-pa sama suami sendiri. Mau lagi?" Renata langsung membungkam mulutnya dengan tangan.


"Rumah sakit." Gumam Renata pelan tapi terdengar jelas di telinga Jea.


"Gak ada yang lihat." Balas Jea sambil menurunkan tangan Renata, namun cepat ditepis isterinya itu. Jea tertawa, menyadari sang istri masih beradaptasi dengan kemesumannya.


"Ingat, sayang. Ini malam pertama kita loh!"

__ADS_1


Blush


Suara lirih Jea bikin merinding, Renata langsung menatap tajam ke arah Jea, "Gak usah macem-macem." Ancamnya.


Jea tertawa sedikit keras, semakin marah, istrinya ini sungguh menggemaskan. Ia pun menarik tubuh Renata dan memeluknya, mengelus rambut panjang istrinya itu, "Makasih, temani aku selamanya ya?"


Renata membalas pelukan Jea, masih malu sebenarnya, tapi mau gimana masa' tangannya menggantung. Ia juga mendongakkan kepala, berusaha menatap manik mata sang suami, "Bukan nikah kontrak-an?"


Jea terseyum sambil mencium puncak kepala sang istri, "Kontrak seumur hidup sampai punya anak cucu."


Renata akhirnya meletakkan kepalanya di dada suami sambil tersenyum, menghirup aroma maskulin yang mulai malam ini akan menjadi rutinitas barunya, dipeluk.


Ting


Ponsel Renata berbunyi. Jea mendengus kesal. "Ganggu saja." Ujarnya lalu melepas pelukan dan kembali fokus ke tablet.


"Kak!" panggil Renata, Jea menoleh.


Renata menyodorkan roomchat dihadapan Jea, pesan dari ibu.


/Nduk, belum tidur? Ajak suamimu sholat dua rakaat, lalu suamimu suruh melafalkan syahdat di telinga kanan papa, kamu ngaji ya sin, di samping suamimu/


Sontak keduanya berhadapan, kaget dengan isi pesan itu.


Slep


Selimut papa terjatuh, mereka menoleh. Jea mengambil selimut itu dan memegang telapak kaki sang papa. Dingin.


"Ta!" panggilnya lirih. Renata menghampiri Jea, ikut memegang telapak kaki papa, matanya mendelik. Tapi berusaha menyingkirkan pikiran negatif, ia pindah ke lengan papa, hangat sesuai suhu normal. Ia bernafas lega. Ia pun mengajak Jea melakukan apa yang dikatakan ibu. Mereka sengaja tidak membangunkan mama, kasihan, beliau sudah terlalu capek mendampingi papa.


Pukul 03.00


Jea memegang lengan papa, sudah dingin. Renata terhenyak, dan melihat monitor detak jantung. Angka yang menunjukkan denyut nadi mulai berkurang.


"Kak, panggil dokter!" pinta Renata. "Aku bangunkan mama!"


Jea kalut tapi masih paham dengan ucapan Renata, ia menekan tombol panggilan perawat. Mama masih belum sadar terpenuhnya.


"Ma....papa butuh mama!" ucap Renata pelan. Beliau tergagap, lalu mencuci muka sebentar. Beliau amat kaget dengan keadaan papa. Tangan dan kakinya dingin dan pucat, tapi leher dan kepala masih hangat.


"Tinggal berdoa ya, Bu!" ucap dokter selesai memeriksa. Dokter keluar, mama sudah menangis, Renata memegang tangan Jea memberikan kekuatan, sebisa mungkin Renata tidak ikut menangis.


Ia menghubungi bapak, memberitahu kondisi papa. Jea menghubungi kerabatnya. Mita sudah menangis tersedu-sedu dalam pelukan mama.

__ADS_1


__ADS_2