CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
BIAN


__ADS_3

"Ta, besok ikut meeting dengan bos jam 10. Bawa video promosi yang kamu setorkan kemarin." Ucap Fahmi, manajer devisi kreatif marketing.


Hah?? bisa diulang gak, Renata mendadak lola. Meeting? sama bos? Gak salah? Anak magang looohhh!!!!


"Kok bengong?" tanyanya kemudian.


"Gak salah, Pak! Saya anak magang loh?" Renata masih belum percaya kalau diberi kesempatan itu.


Fahmi berdecih pelan, "Ck....emang kenapa kalau anak magang, kamu di sini kan sedang belajar mengaplikasikan ilmu kamu, gak disuruh fotokopi berkas melulu, gimana sih."


Renata terkekeh, "Ya mungkin pak, kan saya juuuuniiiiooor buanggettttt."


"Justru kayak kamu gini yang dicari perusahaan biar maju,"


"Wah, Pak Fahmi open minded sekali ya, mau memberi kesempatan kepada anak belum lulus loh."


"Udah jangan puji terus, besar kepala saya nanti."


Renata mengangguk, dan melanjutkan lagi tugas yang diberi Pak Fahmi. Saat lagi berkonsentrasi, ada seseorang yang tanpa permisi duduk manis di hadapan meja kerja Renata. Ia hanya melipat tangan di depan dada, mengamati detil wajah Renata dengan angkuh.


"Ternyata kamu pinter juga, menarik perhatian Fahmi. Jarang-jarang loh dia begitu ramah, sama gue yang tiap hari satu ruangan aja gak pernah selembut itu kalau bicara. Kamu sudah tidur sama dia?"


Deg....


Renata yang semula enggan menatap siapa wanita yang duduk dihadapannya itu kini mendongak, menunjukkan raut ketidaksukaan terlebih ucapannya sangat menjatuhkan harga dirinya, namun ia sebisa mungkin tidak tersulut emosi.


Renata hanya tersenyum, "Cih..murah banget harga diriku, mbak. Kalau dibayar dengan desain itu doang."


"Sombong banget sih."


"Maaf mbak, saya tidak pernah mengganggu mbak, saya juga tidak pernah merebut posisi kerja mbak, saya hanya berkerja sesuai dengan perintah atasan, bahkan saya juga sering kan disuruh fotokopi berlembar-lembar sama mbak, karena saya sadar mbak saya hanya anak magang. Tapi karena ucapan mbak yang gimana ya ..bisa dibilang merendahkan harga diri saya, boleh dong saya bilang SYIRIK TANDA TAK MAMPU. Situ boleh senior tapi watak junior."


Betapa marahnya Elsa mendegar rentetan ocehan Renata, anak magang berani-beraninya ngomong seperti itu mentang-mentang mendapat rekom dari manajer.


"Lihat saja penilaian kinerja kamu saya kasih D."

__ADS_1


"Gak pa-pa, mbak. Itu terserah mbak, silahkan. Karena saya yakin Pak Fahmi dan HRD mungkin akan memberi nilai A+."


"Kamu...."


"Maaf saya mau mengerjakan tugas dari Pak Fahmi dulu, silahkan kembali ke tempat duduk Anda." Ucap Renata sembari menganggukkan kepala tanda hormat, ia pun membiarkan Elsa duduk dengan tatapan tajam di depannya, Renata terlalu asik pada layar komputer kerjanya tak mempedulikan apa yang akan dilakukan Elsa selanjutnya. Baginya kerja kerja aja, gak usah senggol orang lain, kalau disukai atasan syukur anggap aja bonus, tak perlulah menjadi penjilat untuk memantapkan posisi, apalagi sampai jual diri, naudzubillah.


*****


Sore itu, sepulang magang, Renata berniat menjenguk Bian di rumah sakit. Ia sudah menghubungi Ceca agar bisa berangkat bareng, dan Ceca pun menyanggupi. Sedangkan Ola akan menyusul selepas maghrib.


"Widiihh, anak magangnya Abang Ipar udah punya mobil baru neh." Ledek Renata ketika Ceca membuka jendela mobil.


"Berisik, cepet naik."


Renata terkekeh, "Pajaknya jangan lupa kali."


"Iya kapan-kapan gue traktir dah."


"Ca, emang si Bian sakit apa ampe di rawat di RS?"


"Mana gue tahu, orang kita keseringan hang out bertiga doang, jarang wa juga sama tuh anak. Eh Lo tau gak status Bian tuh kayaknya galau deh, putus kali ma Kia." Jiwa akun gosip mulai merasuki Ceca.


"Lagian dia tuh sok sok an melowww, diajak hang out alasannya Kia mulu."


"Gak ada Wira mungkin, males kalau ngekorin kita."


"Mungkin, Wira juga kenapa sih ngambek lama amat."


Renata mengedikkan bahu, "Udah lama gak chat dan gak ketemu, orang libur magang kita aja gak ada yang sama, Sabtu Minggu, kita pakai hibernasi."


Ceca cekikikan, memang sejak magang Sabtu-Minggu sudah tidak pernah jalan bareng, alasannya capeklah, mau tidur lah, bahkan untuk nyalon si Renata malah milih salon dekat kos yang keramas aja 5 rebongggggg, saking malasnya keluar.


Ola lebih parah, karena magang di perusahaan orang tuanya, dikira dia gak banyak tugas karena anak owner, ternyata dugaannya salah besar, sang papa malah sering mengajak dia meeting dengan beberapa klien, belum lagi kalau di rumah sering diajari papanya lihat saham, Sabtu Minggu sering diajak tinjau lapangan, sering sekali Ola update status 'Mari lambaikan tangan ke kamera'.


Sungguh magang luar biasa, biasanya anak magang kan diminta fotokopi doang atau bikin kopi di pantry, diakalin senior lah. Tapi tidak untuk Renata, Ceca dan Ola, mereka sungguh magang, diperas otak untuk mengaplikasikan ilmu desain grafisnya.

__ADS_1


Awas kalau gak dapat nilai A, gue bejek tuh kepala devisi. Ancam Ceca.


Lah gue lebih apes, bapak gue yang kasih nilai coba, kepala devisi desain gak berani berkutik. Nasib dah milih perusahaan bokap buat magang. Keluh Ola


Gue udah dikasih warning dapat nilai D gara-gara pegawai di devisinya cemburu maklum manajer devisi gue puas sama hasil kerja gue, dan memuji gue di depannya. Jelas Renata.


Begitulah jungkir baliknya Renata Cs saat magang, stress dan capek. Gitu banyak mahasiswa yang pengen cepat lulus terus kerja, hufh...lu pikir dunia kerja gak berat men??? Tolong dipikir ulang deh kalau mau lulus kuliah cepet.


******


Mobil Ceca sudah masuk pelataran RS, kedua gadis itu berjalan ke meja resepsionis, mengisi daftar pengunjung dan langsung menuju kamar Bian.


Ceklek


"Assalamualaikum!" Sapa Renata dan Ceca kompak.


Pemandangan tidak etis dilakukan di RS dan pelakunya adalah sang pasien dan pacarnya.


"Maen nyosor di rumah sakit, mana pintu gak dikunci. Cih..." Ceca nyerocos sambil meletakkan beberapa makanan di meja.


"Yang ada kalian, masuk tanpa ketok pintu dulu, gak sopan." Bian tak mau kalah.


"Haduh, mata gue tercemar, tolong yaaaaa!" protes Renata yang langsung duduk di meja dan membuka bungkusan martabak telor. "Mari makan, Ki!" tawarnya kemudian.


"Lo niat jenguk gue gak sih, Ta! mana ada makanan untuk pasien Lo embat."


"Pasien apaan, udah bisa nyosor gitu."


"Sialan!" ketus Bian sambil melempar bantal pasien ke arah Renata.


"Sakit apa dia, Ki?" tanya Ceca.


"Tipes mbak." Jawab Kia sopan, gak menyangka juga, cewek yang kelihatan polos dan lugu, ternyata mau juga disosor sama Bian. Ckck.


Renata tertawa lalu melirik ke beberapa bungkus makanan, "Ca, kayaknya dia gak bisa makan ini semua deh, kan kalau tipes itu butuh yang halus-halus kayak bubur gitu, lah ne makanan berat semua, pedes juga."

__ADS_1


"Sini, Ki. Ayo makan bareng gak usah ngurusin dia doang, udah sehat kayaknya bapak pasien." Renata celometan, Kia pun tersenyum dan bergabung dengan Renata dan Ceca. Siap menghabiskan makanan.


"Gak ada akhlak Lo!" Bian kesal.


__ADS_2