CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
PERTEMUAN KELUARGA


__ADS_3

Daffa ngambek, baru kali ini ia tidak mengikuti perintah Jea, meskipun dengan iming-iming tambahan bonus bulan ini. Pasalnya, ia sudah lelah hari ini dan berniat tidak lembur, dan dengan seenak jidatnya bos bucin itu menyuruhnya lembur. Oh tidak bisa. Berontak sekali gak pa-pa deh, bonus bulanan hangus untuk bulan ini tidak masalah. Yang penting hari ini dia tidak mau lembur.


"Yah...kak Daffa ngambek." Renata kecewa.


"Gak bisa ya?" Ola memastikan.


"Gak bisa, maaf." Jawab Jea.


"Ceca nanti datang kan, suruh rekam aja deh. Aku gak ikut." Renata tidak mau memaksa suaminya untuk mengikuti rencana Ola. Perusahaan lebih penting daripada menerima ajakan Ola, meskipun Renata juga penasaran dengan pertunjukan yang sepertinya menarik.


"Oke. Istri yang baik." Puji Ola sambil mengelus rambut Renata. Merasa bangga juga punya sahabat yang tidak egois dan memikirkan kepentingan suaminya.


Renata dengan jumawa menepuk bahunya, "Gue."


Sedangkan Jea memutar bola matanya malas, dua orang sahabat yang tak perlu ditanggapi, buang-buang emosi.


Sepeninggal Ola, Jea menelpon Daffa agar ke ruangannya, menyelesaikan dokumen tadi, dan ia bilang kalau tidak jadi keluar. Tak berselang lama, Daffa muncul dengan decakan sebal melihat Renata yang sok manis. Ia duduk di kursi dan mulai berdiskusi dengan Jea terkait beberapa dokumen perusahaan.


Sedangkan sang pujaan hati Jea, memilih tidur di ruang istirahat sang suami. Sebelum ia tidur, Renata mengambil ponselnya, ada pesan masuk dari Wira.


/Nanti malam gue dan Ola akan tunangan. Lo gak mau lihat kita, Ta? Gue pengen lihat ekspresi Lo. Adakah rasa kecewa karena gue lebih memilih Ola daripada Lo pada akhirnya./


Renata hanya tersenyum sinis, "Emang Lo udah gila, Wir." Gumamnya tanpa membalas pesan itu. Bagi Renata, lebih baik memang menjauh dari Wira. Memutuskan Wira akan tidak berefek apapun dengannya, justru ia bersyukur segera menikah dengan Jea. Apalah jadinya kalau dia sampai terjebak seperti Helwa. Naudzubillah.


"Bos, emang beneran mau tanam modal di perusahaan bokap cewek itu?" tanya Daffa penasaran.


"Membuang beberapa digit uang gue kayaknya gak masalah. Lo urus aja,"


"Lah bos kok gue?"


"Harus siapa? gue?"


Daffa mengangguk. Ia belum tahu alur berpikir Jea yang out of the box itu. "Gini ya, Daf. Gue udah megang perusahaan ini aja udah puyeng. Belum lagi anak cabang. Kasihan istri gue juga lah."


"Kok kasihan istri bos daripada saya?"


Jea memukul kepala Daffa dengan gulungan kertas, "Lo cuma asisten kantor, sedangkan dia asisten gue luar dalam, kasihankan kalau dia nganggur kayak sekarang."


Daffa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, maksud dari omongan bos nya ini apa sih?


"Lupa, lo kan bujang lapuk, mana ngerti begituan."


Daffa mencibir tabiat baru bosnya ini. Memang dia jomblo, tapi sedikit tahu lah masalah itu, meskipun belum ahli. Eh😂😂😂😂


*******


Wajah sumringah kedua keluarga tampak jelas, sapaan hangat dan menanyakan kabar cukup membuat orang mengira mereka kawan yang cukup dekat. Padahal ada anak yang harus berkorban demi bisnis semata.

__ADS_1


Papa Renata sebenarnya tidak terlalu memaksa Ola menerima perjodohan ini, tapi desakan dari papa Wira tidak bisa diremehkan juga. Ancaman tarik modal menjadi momok yang tak bisa dielakkan.


"Wah, nak Wira ganteng sekali." Sapa mama Ola yang bernama, Mia. Beliau sangat setuju dengan Wira, karena ia pernah bertemu dengan Wira beberapa tahun yang lalu, di ulang tahun perusahaan papa Wira, beliau sangat kagum dengan Wira karena tampan dan sopan.


"Tante bisa saja." Jawab Wira basa basi. Sebenarnya ia tidak ingin berlama-lama di rumah Ola, karena ia tahu, Ola tidak mau perjodohan ini. Pikir Wira semua silahkan diurus orang tuanya saja sampai menikah, toh dirinya hanya mengucap ijab Qabul doang, tanpa harus membiayai hidup sang istri nantinya. Papanya sudah menyiapkan segala macam kebutuhan untuk anak menantunya. Kalaupun Wira mau punya istri lebih dari satu akan disetujui.


Ola datang saat makan malam akan dimulai, ia sangat cantik dengan balutan dress warna navy. Wira mengakui juga, sahabat sengkleknya bisa secantik ini. Detik berikutnya ia harus mengumpat kekesalannya, karena injakan heels Ola berhasil membuat kakinya ngilu.


"Ngapain Lo injek gue?"


"Nyiksa Lo sesi pertama."


Ola sengaja memang menggunakan heels lancip meskipun di dalam rumah. Bukannya tampil di depan calon mertua harus jempol. Bener gak???


Kedua keluarga makan malam dengan tenang, ada sedikit gurauan yang membuat Ola dan Wira mencibir kala mama Mia menggoda ' Ola ambilkan makan Wira dong,'


'Ola jangan diam aja, memang Ola ini pemalu.'


Hingga keceriaan makan malam itu berubah menjadi perdebatan sengit tatkala papa Wira meminta Ola menjadi menantunya.


"Bagaimana Ola, mau kan menjadi menantu Om?" tanya papa Wira dengan penuh percaya diri.


"Menjadi menantu kita kamu pasti bahagia kok!" lanjut mama Wira dengan senyum angkuhnya.


"Tapi sayangnya saya tidak mau bahagia dengan keluarga Om dan Tante!" ucap Ola tegas. Tatapannya sangat tajam pada kedua orang tua mantan sahabatnya itu. Dirinya yang terkenal ceplas-ceplos sudah tidak bisa menyembunyikan raut murkanya.


"Jaga ucapanmu, La!" Ketus Papa Ola tak kalah kaget dengan ucapan sang putri.


"Papa tidak tahu saja, mantu yang papa promosikan ke aku, yang papa dan mama banggakan, tak lebih dari seorang sampah."


"Jaga ucapanmu, Ola!" mama Wira mulai emosi. Sampai menunjuk wajah Ola dengan tangan telunjuknya, matanya melotot marah, dadanya kembang kempis menahan emosi agar ucapan kasar tak terlontar.


Ola tersenyum sinis, "Lo mau ngomong sendiri atau gue bongkar, Wir?"


Wira memasang wajah sinis, sambil melipatkan tangan ke dada, "Silahkan kalau mau kamu bongkar." Ujarnya angkuh. Wira menganggap Ola tidak kenal dengan Helwa, dan pasti Ola mendengar kabar kehamilan Helwa dari Renata. Itu saja.


Ola izin sebentar naik ke kamarnya, di dalam kamar sudah ada Ceca dan Helwa. Gadis malang itu berapa kali sudah tidak mau berhubungan dengan Wira lagi, anak yang dikandungnya siap dilahirkan tanpa ayah. Biarlah.


"Dokter tuh gak boleh nyerah, tunjukkan pada Wira Lo kuat, dan Wira akan menyesal bila menelantarkan kamu." Ceca memberi nasehat.


"Lo harus bisa bikin Wira keok, Wa. Jangan pernah menjadi cewek tertindas. Lo udah salah dengan berbuat ini, jangan sampai Lo berbuat dosa lagi dengan menghilangkan nyawa bayi Lo." Jelas Ola ketus. Ya seperti itu Ola, ucapannya menohok tapi tepat sasaran.


Helwa menarik nafas, mengusap air matanya. Masa depannya sudah hancur, sekalian saja hancur, pikirnya. Setelah ini terserah Wira mau bertanggung jawab atau tidak, yang jelas ia akan merawat dan membesarkan bayi ini sendirian. Pasti ia sanggup.


Helwa dituntun Ola menuju ruang tamu. Kedatangan keduanya membuat Wira mendelik, kaget. Apaan ini, kenapa ada Helwa??


"Wir, Lo gak mau nyapa ibu dari anak biologis Lo?" sindir Ola sembari mendudukkan Helwa di sofa. Punggung Helwa ditepuk pelan oleh Ola, seakan memberikan semangat padanya, memberikan keberanian untuk menatap wajah Wira. Tunjukkan pada keluarga angkuh itu kamu wanita kuat.

__ADS_1


Dan Helwa pun memandang Wira dengan tatapan tajam, air mata ia simpan rapat, benar apa kata Ola, jangan menunjukkan dirinya yang tertindas.


"Hai, Wir!" sapa Helwa santai.


"Siapa kamu?" tanya Mama Wira, masih dengan nada angkuh.


"Saya, perempuan yang dicampakkan oleh putra anda, sekarang saya hamil 5 Minggu dan putra anda menyuruh saya menggugurkannya."


"Wira!" bentak Mamanya.


Wira sudah gusar. Ada buliran keringat di pelipisnya, sepertinya takut. Sedangkan sang papa masih bisa tersenyum sinis, hebat. Kebejatan anaknya tidak menjadikan dia malu atau marah.


"Yakin itu anaknya Wira?"


Ola melongo setengah mati. Tidak bisa dilogika dengan pertanyaan pria paruh baya itu. Tega bin sadis.


Helwa bermain cantik, ia tak gentar sama sekali. Ia hanya tersenyum sinis, "Kemarin iya memang anak Wira karena saya masih meminta pertanggungjawaban darinya. Tapi sekarang saya yang menolaknya." Agak ketar ketir juga Helwa mengatakan ini, niatnya ingin tarik ulur saja. Tapi melihat gelagat orang tuanya sepertinya ide ini malah membuat keruh.


"Sadar kalau itu bukan anak Wira."


Helwa menggeleng, masih dengan tatapan sinis, "Anak bapak pengecut, habis dipakai main buang saja. Sepertinya putra bapak tidak mau memiliki keturunan. Tapi kayaknya memang gak bisa sih, saya sudah berdoa agar ayah dari bayi dalam kandungan saya ini tidak memiliki keturunan setelah menolak kehadiran bayi pertamanya."


"Saya tidak takut." Ucap Papa Wira masih dengan menantang. Sedangkan Wira mulai bisa mengontrol emosi. Ia tampak tenang dan seperti ada kekuatan untuk membela diri.


"Sudahlah masih 5 Minggu kan, gugurkan saja. Masih belum ada ruhnya." Usul Mama Wira.


Ola menggeleng lagi, sumpah terbuat dari apa hati mereka. Astaghfirullah.


"Lagian kamu, jadi cewek suka banget dicelup sampai hamil gini. Udah berapa kali ganti pasangan tapi minta tanggung jawab Wira." Asli mama Wira tak berperasaan sama sekali. Di mana hati nuraninya sebagai perempuan.


"Kamu pasti ingat kan Wir betapa sakitnya aku malam itu. Masa' kamu lupa dengan kata maafmu dan akan bertanggung jawab apapun yang terjadi?"


"Cukup, Wa!" perintahnya tegas.


"Kenapa?"


"Kamu berani menggagalkan tunanganku dengan Ola. Mau kamu apa? Uang?"


"Sori gue gak menyesal tunangan ini batal. Gue bersyukur gak bakal jadi menantu di keluarga kejam kayak kalian."


"Pak Firman, bagaimana kalau saya menarik---"


Puk..Puk...


Ola menepuk punggung papanya yang tampak ketakutan, "Tenang saja, Pak. Aku sudah mendapat investor untuk perusahaan papa yang baru."


"Si- Si- apa?" tanya papa tergagap.

__ADS_1


"Sanjaya Group." Jawab Ola jumawa. Keluarga Wira kincep.


__ADS_2