CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
MAKAN SIANG-2


__ADS_3

Tepat pukul 12.10, Renata, Via, dan Intan menuju kantin kantor bawah. Ketiga anak magang beda devisi itu memang sengaja memilih makan di kantin bawah, selain enak harganya juga ramah di kantong mahasiswa seperti mereka.


Ting


Baru menyendok nasi, pesan masuk di ponsel Renata. Dari nomor baru.


Di mana?


Renata mengabaikan pesan itu, paling juga nomor iseng, pikirnya.


Beberapa detik kemudian nomor baru itu memanggil. Aneh?


"Halo," Renata menyapa


"Lagi di mana?"


"Siapa?" tanya Renata balik


"Jea"


Uhukkkk uhukkk.... Renata keselek.


"Kamu gak pa-pa?" Jea khawatir


Tut ....


Renata memutuskan sambungan telpon, melanjutkan acara keseleknya. Via dan Intan menyodorkan tissue dan air untuk Renata.


"Kenapa kamu?" tanya Via khawatir, sambil menepuk punggung Renata pelan.


Renata hanya menggeleng dan mengangkat tangannya, ia tidak apa-apa.


"Ya ampun, kamu bilang gak pa-pa tapi sampai nangis gitu." Cetus Intan, masih menyodorkan air.


Hah


Renata menarik nafas dan menghembuskan nafas pendek. Masih terdengar batuk kecil di sana, "Kamu ditelpon siapa si ampe segitunya?"


"Bos!"


"Maksud loh?"


"Tak bermaksud." Renata enggan menjelaskan siapa bos yang dimaksud, ia mencoba lagi makan siangnya, dengan sedikit pelan agar tidak tersedak lagi.


Drt...drt....


Pak Fahmi Manajer memanggil


Ketiga gadis itu saling tatap. "Halo, iya pak?" Renata menyapa pelan.


"Kamu di mana?"


"Saya sedang makan siang pak."


"Iya di mana?" tanya pak Fahmi sangat menunggu jawaban Renata.


"Di kantin bawah pak, kenapa?" heran juga tidak seperti biasa beliau bersikap seperti itu.


"Jangan ke mana-mana disitu saja."

__ADS_1


Renata bingung, kenapa sikap manajernya seperti itu. Apa jangan-jangan dia naksir gue gitu, aduh amit-amit jangan sampai, Mak lampir Elsa bisa jambak gue, jerit Renata dalam hati.


Tap


Obrolan ketiga anak magang berhenti, sosok pria tampan berdasi dengan setelan kerja sangat necis berhenti di sebelah meja mereka.


"Si...si...siang..pak?" sapa Renata ketika melihat sang bos di dekatnya. Via dan Intan yang tidak tahu siapa bos hanya mengangguk hormat.


"Ini bos yang katanya cuma sebulan sekali nengokin kantor ini?" tanya Via pada Renata sambil berbisik.


Renata masih menatap Jea, cukup kaget. Tapi dia masih bisa mendengar dengan jelas pertanyaan Via, ia pun mengangguk.


Keduanya sontak berdiri, tinggal Renata yang masih melongo. Jawilan Via tak dihiraukan, kaki Renata juga ditendang-tendang Via gak mempan.


Mau nyari mati deh nih anak, gerutu Intan dalam hati melihat Renata yang tak kunjung memberi hormat.


"Hai!" sapa sang bos dengan melambaikan tangannya pada wajah Renata. "Kaget ya?"


Renata mengerjapkan bola matanya dua kali, sangat menggemaskan. "Silahkan duduk." Pinta Jea pada kedua teman Renata.


Ehem..ehemm.. Renata berdehem, menghilangkan groginya.


"Kakak...eh maksud saya bapak kok duduk sini?" Aduh pertanyaan bodoh, rutuk Renata dalam hati. Lancang sekali mulutnya ini yah, serah dia lah mau duduk mana.


"Gak usah canggung gitu, Ta. Aku masih Jea sama seperti dulu,"


Via dan Intan melongo, mereka saling kenal???


"Temani aku makan, aku pesan dulu ya." Titahnya.


"Tapi makan siang saya su---- awww!"


"Kami permisi dulu, Pak. Bapak mau pesan apa sekalian saya orderkan." Tawar Intan ramah.


"Ouh baiklah, terimakasih. Saya order soto daging sama teh hangat seperti kalian ini saja."


"Baik pak, kami tinggal dulu, permisi."


"Baik-baik kamu sama bos, biar dapat nilai A+!" bisik Via sebelum pergi.


Renata hanya mendengus kesal. 'Kenapa sih dengan nilai, kalau dapat nilai jelek itu tandanya pemberi nilai gak obyektif,' keluh Renata dalam hati.


Jea tahu Renata tidak nyaman duduk berhadapan seperti ini, berdua lagi. Apalagi ini kantor, sebagian besar pasang mata menatapnya curiga. Yassalam.


"Jadi?" Renata memecahkan keheningan mereka. Bagaimana tidak, dia seenaknya saja makan senyantai mungkin tanpa menghiraukan kanan-kiri, nyawa Renata terancam tau.


"Akhirnya kita makan berdua lagi."


"Penting banget kayaknya."


Jea tersenyum, semakin tampan saja pak bos ini.


"Ke mana saja setelah pulang kampung dulu? Kok gak ada kabar?" tanyanya sambil menyeruput teh hangatnya.


"Gak ke mana-mana, pulang kampung terus di kosan dan magang."


"Kamu masih sama ternyata, susah sekali di dekati." keluh Jea masih dengan senyum tenangnya, menatap lurus pada Renata. "Wira apa kabar?"


Renata mengangkat bahu, "Tak tahu."

__ADS_1


"Putus?"


"Jadian kapan juga."


Jea terkekeh, "Dia pernah chat aku ngancam gak jelas tentang kedekatan kita. Hem... boro-boro dekat, nomorku aja gak kamu simpan, iya kan?"


Renata tersenyum dan mengangguk.


"Sebenarnya setelah antar kamu, aku pengen banget ngechat. Maju mundurlah, apalagi Wira kayak gitu, daripada rusuh sekalian gak usah dekat kamu juga. Tapi lihat kamu di kantor ini, boleh dong berharap kalau kita berjodoh."


Renata hanya tertawa kecil dan mengangguk, "Boleh, selagi belum ada janur kuning."


"Wira belum melamar kamu kan?"


"Kita tengkar sejak di terminal Semarang itu, sampai sekarang kita gak pernah dekat lagi."


"Hem sayang sekali." Jea menampakkan wajah kecewa, padahal dalam hati bersorak ria.


Keduanya terdiam, kemudian Renata melirik tangannya, ia pun pamit untuk sholat terlebih dulu sebelum kembali ke ruangan.


******


/Gila anak magang pesona kenceng amat, langsung dideketi bos muda/


/Pelet ..pelet/


/Gue yakin tuh cewek bakalan dikasih nilai A+ sama si bos, padahal gak pinter-pinter amat/


Masih banyak lagi celometan dari penggemar bos mudanya, emang si pesona bos tidak diragukan lagi, pertengahan bulan selalu by ditunggu ciwi-ciwi melihat bos muda nya itu.


"Maaf, pak saya telat!" ucap Renata merasa bersalah ketika masuk ke ruangan sudah ada Pak Fahmi dan Elsa.


"Mentang-mentang kenal pak Jea seenaknya saja kamu balik ke ruangan terlambat hampir 10 menit. Gak sopan."


Semakin menunduk saja Renata.


"Sudah gak usah marahin, Renata. Tadi Pak Jea sendiri yang mengizinkan kamu ke saya. Justru saya kaget kok kamu kembali, saya kira kamu kencan sama Pak Jea."


Hah???? Renata melongo. Kencan??


"Kamu siapanya Pak Jea?" Elsa masih saja ketus.


"Hanya te-----"


"Adik kelas, tapi sepertinya Pak Jea naksir kamu deh."


Hah????? Renata melongo lagi, siang itu berasa oon setengah mati. Pak Fahmi kenapa bilang seperti itu. Apa jangan-jangan tadi setelah meeting, beliau disuruh ke ruangan bos hanya membahas dirinya?


"Kamu gak usah kerja berat-berat ya ,Ta! Kalau kamu kenapa-napa saya jadi takut."


Tuh kan, pasti ada sesuatu nih. Entah apa yang diucapkan Jea sampai membuat Pak Fahmi begidik ngeri.


"Sudah tugas saya pak membantu bapak menyelesaikan berbagai pekerjaan, saya bisa kok!"


"Bener? Saya takut kamu ngadu sama Pak Jea."


Renata ingin tertawa keras, bagaimana mungkin seorang manajer begitu ketakutan pada anak magang. "Saya tidak sedekat itu sama pak Jea, beliau hanya ketua di KKN saat itu, pak. Tidak lebih." Begitu Renata menjelaskan tentang dirinya dan Jea tidak ada hubungan spesial.


"O..." Fahmi hanya membalas singkat, meskipun Renata menjelaskan panjang kali lebar tentang Jea, tetap saja Fahmi takut. Karena ia bisa melihat bosnya menaruh hati pada anak magang ini.

__ADS_1


__ADS_2