
Malam ini dilalui Ceca dengan derai air mata.Di dalam selimut ia meringkuk dengan sesenggukan. Pikiran negatif terus berputar di kepalanya tentang apa yang telah dilakukan sang kekasih dengan perempuan lain, dan di mana mereka? apa di hotel seperti foto yang dikirim Ola?
Masih ada rasa sesal saat bilang putus tanpa mendengar penjelasan Edo, hanya saja kata 'sayang' sudah menjelaskan semuanya. Ocehan Ola saat awal jadian terngiang terus menerus.
Edo playboy
Edo Tukang Selingkuh
Kenapa Lo terima kayak gak ada cowok lain
Sejak kapan kalian PDKT
Putusin sekarang sebelum menyesal
Lo sahabat gue, dengerin gue please
Yah.. begitulah Ola, firasatnya sekarang terwujud, menyesal juga tidak mendengar omelan Ola, seharusnya ia lebih mendengarkan sahabatnya. Kini semua sudah selesai.
Hampir dini hari, Ceca akhirnya menyalakan ponselnya. Tang Ting Tung...banyak pesan yang masuk, dan beberapa panggilan, terutama grup CALON ORANG SUKSES pasti mereka menanyakan keberadaan Ceca.
"Heh kemana Lo?" begitu ocehan Renata saat sambungan telpon terhubung pada Ceca.
"Gue baru beres ngobrol sama bokap."
Suara parau Ceca tertangkap kuping Renata, ada yang tidak beres nih. "Jujur sama gue, Ca. Kenapa Lo?"
"Renataaaaaaaaaaaa," rengek Ceca. Tumpah sudah air matanya, ia ingin sekali curhat tapi tidak mungkin di telpon, akhirnya ia memilih menangis saja.
Satu jam ia menangis tanpa ada suara Renata. Srooootttt....bunyi jorok Ceca barulah membuat Renata sewot. "Kira-kira ajalah, Ca. Dari tadi denger nangis ditutup dengan suara gini. Bengek Lo, dah tidur, besok jemput gue magang."
"Tega loh, Ta. Orang lagi sedih disuruh jemput, motor loh gimana?"
"Gue naik ojol berangkatnya. Dah gue mau tidur."
"Taa......." tahan Ceca namun sia-sia, Renata sudah mematikan sambungannya.
******
Seorang pemuda dengan wajah tegang duduk di depan gadis imut yang memasang wajah datar. Wajah gadis itu sayu, terlihat kalau dia kurang tidur.
Sudah hampir 10 menit mereka hanya diam dan saling pandang, tak ada yang berani memutuskan siapa yang akan bicara terlebih dulu, hingga deringan ponsel milik Edo berbunyi dan tertulis nama kontak SAYANG ā¤ļøā¤ļø.
Ceca tersenyum sinis, meskipun ponsel segera disingkirkan oleh Edo dari meja, ia sudah melihatnya. "Cewek mana lagi itu?" tanya Ceca tenang.
Diam
"Aku cewek nomor berapa?" ketus sekali Ceca bertanya.
Diam
"Kok gak ngomong, kamu ngajak ketemu tapi aku doang yang ngomong."
"Aku...." Ragu sekali Edo mau ngomong, semakin menunjukkan dia ketahuan selingkuh.
"Aku mau balik kantor, nanti dimarahi bos, anak magang keluyuran." Ceca beralasan, padahal di tempat magang, mana ada yang berani menegur selain Abang iparnya.
"Maaf, Ca!" hanya itu saja yang dikatakan Edo sebelum Ceca beranjak meninggalkannya.
"Jelasin, Do!" pinta Ceca kemudian terduduk kembali. "Gue bakal denger apa yang Lo katakan, entah itu hanya dusta atau kejujuran."
"Kamu memang selingkuhan gue, cewek yang menerim telpon itu adalah cewek gue. Ya gue mau cari sensasi aja, pacaran sama cewek yang gak bisa diapa-apain."
__ADS_1
"Maksud Lo?"
"Ya selama gue pacaran sama Lo, kita belum pernah ngapa-ngapain kan?, ternyata pacaran sama Lo tuh bikin gue ingat dosa yang udah gue lakukan sama cewek gue."
SIALAN
Ingin rasanya menyiram wajah sok baik itu dengan jus yang masih ada separoh, lumayan kan buat cuci muka biar topeng busuknya luntur.
"Jangan pernah muncul di depan gue, jijik tau gak."
Akhir dari sebuah kisah yang tak patut dikenang, putus saat masih sayang. Sakit hati lebih mendominasi daripada harus mempertahankan hubungan yang sudah setahun dijalani. Bodohnya Ceca, tidak pernah curiga.
*******
"Ta!" panggil Ceca dengan menurunkan kaca jendela mobil.
"Hidup Lo!" sindir Renata sembari masuk mobil.
"Hidup lah, ngapain bunuh diri cuma gara-gara cowok brengsek kayak dia."
Renata mengerjapkan mata, menatap Ceca di balik kemudi yang terlihat sangat emosi.
"Kok?"
"Ntar di cafe gue cerita."
"Traktiran."
"Traktiran mulu pikiran Lo!"
"Pajak putus."
Keduanya tertawa, memang dengan sahabat itu hidup terasa berwarna, kadang Ceca sangat setuju dengan prinsip Renata, menghindari pacaran, memikirkan orang yang gak penting untuk dipikirkan ternyata bikin nyesek.
Oke. Sementara Ceca tidak ingin membuka hati untuk laki-laki, menjalankan hidup dengan jomblo kayaknya lebih asyik.
"Jadi?" Renata menagih penjelasan hubungan Ceca dan Edo.
"Gue ternyata selingkuhan Edo, ingat, bukan pacarnya."
Bukannya iba, Renata malah ngakak keras. "Kok ketawa si, Ta jahat Lo!" protes Ceca kesal.
"Lo cewek baik-baik, gak pantaslah pacaran sama Edo. Ingatkan, omelan Ola saat awal jadian Lo dulu.
Ceca mengangguk, "dan Gue nyesel. Mimpi apa gue jadi selingkuhan. Astaghfirullah."
"Tapi Lo gak diapa-apain kan?"
"Enggak, gue masih tersegel." Jawab Ceca mantab, Renata juga melihat sahabatnya itu lega dengan keputusannya. Semoga saja apa yang dia tampakkan sesuai dengan hatinya.
"Gimana sih mbak, kok bisa ceroboh gini." suara Omelan cewek di seberang meja menarik perhatian keduanya.
"Wah...." Ceca heran. Baru tadi siang tidak ingin bertemu dengan sang mantan, nyatanya sore ini ia terpaksa bertemu, dan ditambah pemandangan yang tidak mengenakkan. Edo dengan cewek resminya. Menyebalkan.
"Bar-bar juga ceweknya, Ca!"
"Klop lah, cewek dan cowoknya bar-bar."
"Cemburu, mbak?"
"Ogah."
__ADS_1
"Ya udah gak usah dilihatin, Ca!"
Ceca menyeka air mata yang sempat keluar, mau bagaimanapun ia pernah menyayangi cowok itu.
"Nangis ..nangis aja, Ca! Gak usah malu sama gue." Renata begitu perhatian pada Ceca, ia mengelus lengan Ceca, menenangkan sahabatnya.
"Gue gak pengen nangis sebenarnya, tapi air mata gue gak ada akhlak, main keluar aja."
Renata tertawa, "Bilang aja Lo sakit hati."
"Rese' Lo, Ta. Putus juga baru tadi malam, apa kabar perasaan setahun gue buat dia."
"Nyesek."
"Renataaaaaaaaaaaa."
"Gak usah disamperin ya, Ca. Gue gak mau viral."
Tonyoran pipi kembali diterima Renata, "Najong juga nyamperin, gue yang dianggap pelakor kali.
Renata tersenyum, ide jahil muncul, ia mengambil ponsel.
Ting
Ceca membuka ponselnya, dan seketika Renata mendapat lemparan box tissue, Ceca pelakunya. Sedangkan Renata ngakak. Sore itu kebahagiaan Renata hanya dengan melihat Ceca kesal, ya itulah cara Renata menghibur Ceca.
Renata sadar ada kesedihan di mata Ceca karena putus cinta, tapi ia tahu Ceca bukan tipe cewek yang lama larut dalam kekecewaan. Ceca lebih suka dibuat tertawa untuk melupakan kesedihannya, meskipun itu hanya sementara.
"Tega Lo!" protes Ceca, kesal membaca caption yang dikirim Renata di grup mereka.
Side job Ceca, P.E.L.A.K.O.Rššššš
Bian mengetik
"Ca, Bian mengetik, pasti konyol jawabannya."
"Lo sih!" meski geram, tetap saja Ceca menunggu komentar Bian.
Bian: Biasanya neh pelakor yang bar-bar, lah ini pelakor nya melempem.
Renata: Tullll
Ceca: Sori ya, princess mah gak level jadi pelakor.
Wira: Lo urutan berapa, Ca?"
Ceca: š¤š¤š¤š¤š¤
Wira: š¤£š¤£š¤£š¤£š¤£š¤£š¤£
Ola: Gak pa-pa, Ca. Lo pelakor terhormat.
Renata: Bukan hanya terhormat, tersuci juga. Belum diapa-apain katanya.
Ceca: Jus gue masih banyak, Ta. Mau ke muka atau baju Lo!
Renata: ke muka babang Edo dong.
Ceca: š¤š¤š¤š¤š¤š¤š¤š¤š¤
Harus bersyukur atau nelangsa punya sahabat seperti mereka. Tidak ada yang merasa kasihan, malah jahil banget, meledek mulu, seolah putus dengan Edo adalah kebahagiaan bagi mereka.
__ADS_1