
/Aku sudah di depan/
Begitu pesan Daffa ketika baru memarkirkan mobilnya di depan pintu gerbang kos Neva. Setelah pemaksaan yang dilakukan oleh Nyonya Jea, mau tak mau Neva dijemput Daffa. Weekend ini benar-benar liburan singkat ke puncak yang disponsori oleh Renata. Dia begitu getol menjodohkan Neva dan Daffa, bahkan sang mama pun juga semangat turut serta ke puncak, demi Daffa.
Yah..mama sudah menganggap Daffa seperti anaknya sendiri, sejak dia menjadi mahasiswa magang di perusahaan papa Jea, mama langsung jatuh cinta pada Daffa, pandangan beliau pada Daffa mengingatkan pada Wijaya, anak pertama beliau. Bahkan mama memaksa papa untuk merekrut di perusahaannya. Kebetulan juga Daffa lulusan manajemen bisnis.
Awal pertemuan mama dan Daffa adalah saat mama butuh supir untuk ke butik, tapi supir kantor sibuk semua, alhasil Daffa anak magang dipanggil untuk mengantarkan mama ke butik. Kesan pertama dia anak yang sangat sopan, ganteng, dan ramah.
Saat Renata bilang ke mama mau menjodohkan Neva dengan Daffa, mama langsung setuju. Sudah saatnya Daffa membina rumah tangga, usianya cukup matang. Setelah mama melihat foto Neva, beliau sangat setuju, dan berjanji menjadi tim sukses mereka till pelaminan. he..he..he
"Maaf ya kamu harus repot-repot jemput aku, Renata tuh yang maksa."
"Gak pa-pa, udah biasa." Jawab Daffa datar.
Keduanya menuju mobil, masih canggung. Tapi tak lama kemudian Daffa mampu memecahkan suasana kecanggungan ini.
"Kamu tahu gak Renata kenapa bisa ngadain acara kayak gini?"
"Enggak, dia bilang cuma mau ngadem. Aneh juga ya, bumil pengennya aneh-aneh."
Daffa terkikik, "Ngadem, alasannya konyol banget emang."
"Kenapa emang?"
"Demi kita?"
Neva langsung melongo, "Maksudnya?"
"Dia tahu kali, kalau aku PDKT sama kamu."
"Kamu cerita?"
Daffa menggeleng, "Aku gak merasa juga, mungkin Jea yang bilang. Kamu tahu sendiri kan, mereka tuh seperti sandal jepit!"
"Kok sandal jepit?" Neva tak kuasa menahan tawa mendengar perumpamaan Daffa untuk sahabatnya itu.
"Gak bisa dipisahkan, nempel muluk!"
"Iya juga sih, palingan mereka jadiin kita bahan ghibah. Lebih tepatnya Renata."
Daffa mengangguk, apalagi melihat karakter Renata yang gak bisa ngerem buat ngomong. Jea mah gak suka ngomong, pasti juga cuma iya iya doang, yang nyerocos pasti Renata.
Keduanya tiba tepat pukul 6 pagi, mama Jea sudah bergaya cantiknya, menggunakan dress sifon, dan tas branded yang ditenteng dengan elegannya.
"Oh ini calon mantu mama?" tanya mama Jea yang langsung memeluk Neva dengan ramahnya.
Neva bengong, manut saja dipeluk mama Jea. Tersenyum canggung, lalu menyalami beliau tanda hormat.
"Pagi, Va!" sapa Renata dengan ceria, pagi itu dia menggunakan blouse hamil warna lilac dan celana jeans. Ouh my God hamil 4 bulan masih pakai celana jeans. Memang sih masih perut aja yang jembil, kayak orang cacingan.
"Gue tahu niat tersembunyi dari Lo!" bisik Neva dengan nada ancaman.
__ADS_1
Renata hanya cengengesan, dan merangkul lengan sahabatnya menuju mobil, "Niat baik harus disegerakan,"
"Sok tahu!" cibir Neva sambil menonyor pipi sang sahabat.
Mereka berangkat ke puncak dengan mobil mama, lebih luas dan ada Pak Dirman yang mengantarkan. Mama duduk bersama Neva, sedangkan Jea dan Renata berdampingan. Posisi Daffa menemani Pak Dirman di depan.
"Yang, kalau di Villa bisa main apa aja?" Renata yang bergelayut manja di lengan Jea. Meskipun weekend tetap saja, Jea tidak lepas dari ponselnya, apalagi kalau tidak melihat pergerakan saham-sahamnya.
"Main enak sama aku!" bisiknya dengan menoleh ke arah Renata.
"Gak usah mesum deh!" protes Renata masih berbisik juga. Namun Jea malah mencium pelipisnya.
"Je...ingat ada yang jomblo, kondisikan kemesumanmu!" intrupsi mama, sengaja memang mama memilih jok paling belakang bersama Neva, kasihan saja sama Renata kalau duduk paling belakang, posisi Bumil harus nyaman.
"Tuh kan malu ketahuan mama!" Renata cemberut, kelakuan absurd suaminya ini memang perlu dikondisikan.
"Emang siapa sih yang jomblo? Mama? kayaknya mama lagi kangen papa nih Yang," ledek Jea yang langsung mendapat cubitan dari arah belakang, mama pelakunya.
"Ih...mama kalau nyubit beneran ih!" Jea mengusap lembut bekas cubitan sang mama.
"Sukurin, dibilang yang sopan kalau sayang-sayangan sama istri. Gak tahu tempat kamu." Mama masih
Neva yang sejak tadi hanya menjadi pendengar hanya tersenyum kecil, merasa bersyukur sahabatnya mendapatkan suami yang begitu menyayanginya, bahkan kelewat mesra.
Anak lorong kalau mau kencan sama Renata pengajuan proposalnya lama, birokrasi Jea terlalu rumit, maunya Renata cuma nemenin dia kerja di kantor doang. Posesif, sangat menyebalkan.
Hampir 2 jam perjalanan, mereka isi dengan suara Renata yang tak henti-hentinya ngomong, kadang sama Neva ditimpali mama, lalu tertawa bersama. Kadang kalau volum suara Renata berbisik, itu artinya lagi ngobrol sama Jea. Aneh, perjalanan lumayan jauh malah tidak tidur sama sekali.
"Selamat pagi, Nyonya!" sapa seorang wanita paruh baya ketika rombongan datang.
"Ini menantuku, mbok!" Mama mengenalkan Renata pada mbok Sum, "Sini sayang!"
Renata pun menyalami mbok Sum dengan menyunggingkan senyum manisnya. "Cantiknya istri Den Jea!"
"Terimakasih, Mbok!" jawab Renata. Kemudian Jea dan Daffa serta Neva bertegur sapa dengan Mbok Sum.
Villa mama cukup luas, hampir sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca, mengingatkan rumah di drama Korea Full House. Renata sangat suka dengan suasana villa, sangat asri dengan cuaca cukup dingin di pagi seperti ini. Masuk ke belakang Villa terdapat taman dengan ditumbuh rumput yang tertata sangat rapi, kolam renang, dan gazebo. Di sekeliling tanam juga ada beberapa bunga yang warna-warni, sangat menyejukkan Mata.
"Ini kamar kita?" tanya Renata saat masuk ke kamar paling belakang dan langsung menghadap ke kolam renang.
Jea mengangguk, dan langsung merebahkan diri di atas ranjang. "Ini kamar aku kalau kita ke sini."
Renata mengabaikan omongan Jea, dia masih kagum dengan interior kamar ini. Lantainya terbuat dari keramik motif kayu, dengan jendela kaca lebar. "Ini Villa mama kamu?"
"Iya, kenapa sih?" tanya Jea yang mengubah posisinya menjadi duduk, melihat ke arah Renata yang sepertinya suka dengan villa ini.
"Bagus banget, suasananya apalagi."
"Ini tuh maharnya mama!"
"Papa kaya banget, ya?" Renata melongo, maharnya berupa villa, gila. Jea tertawa, melihat ekspresi istrinya yang kaget seperti itu.
__ADS_1
"Kamu tahu gak kenapa papa memberikan mahar ini?" Jea mengajak Renata rebahan sambil menatap langit-langit kamar.
"Kenapa?" tanya Renata menoleh ke sang suami.
"Villa ini adalah investasi papa saat memenangkan tender besar pertama kali,
dan saat itu mama masih menjadi sekertaris beliau, nah setelah itu langsung nikah deh."
"Villa kenangan memang."
"Banget." Jea kemudian memeluk sang istri, siaga satu, pelukan semakin erat, berawal dari cium pipi lanjut ke yang lain, you know lah!!!
Berbeda dengan suasana kamar belakang yang menghangatkan, di ruang tamu tampak mama Jea, Neva dan Daffa mengobrol dengan selingan candaan. Mama yang easy going begitu mudah bergaul dengan Neva, Daffa pun mengambil kesempatan untuk menanggapi candaan mama Jea, apalagi kalau menyangkut kehidupan mudanya dulu, eits sekarang masih muda tapi sudah matang, hehehheeh.
"Daffa dulu kurus kering kerontang gitu, badannya mliur, gantengan sekarang lah pokoknya." Mama mulai melancarkan aksi perjodohannya.
"Iyalah, Tante, sekarang kan bisa merawat diri."
"Ganteng doang jomblo apa hebatnya, Fa!"
"Bentar lagi, Tante, sabar!" Ucap Daffa percaya diri, sembari melirik Neva.
"Sama kamu aja ya nak Neva?" sodor Mama benar-benar klop jadi mertua si Renata, kalau ngomong langsung to the point. "Daffa gimana?"
"Ah...Tante, udah pasti mau lah! jomblo akut nih."
"Tuh, Va. Signalnya kenceng banget tuh, lagian Daffa itu wibawa."
"Tanteeeee!" rengek Daffa yang tahu arti wibawa versi mama Jea.
"Wi..bawa cinta....wi bawa sayang...wi bawa ketampanan....wi bawa anak orang."
Neva tertawa, fix. Renata tak salah pilih mertua, cocok. "Tante bisa aja!" cetus Neva sembari menahan tawa.
"Lagian Va, kesempatan gak datang dua kali. Tante yakin kok Daffa, laki-laki baik. Kamu juga perempuan baik, jadi apa salahnya untuk menjalin hubungan."
"Iya Tante!" jawab Neva dengan melirik Daffa, wajah laki-laki itu bahagia sekali mendapat dukungan dari mama Jea.
"Renata dulu mana cinta sama Jea, tapi dia berpikir gak akan datang kesempatan dua kali bila melepas Jea saat itu."
"Kak Daffa memang baik kok, Tante. Mungkin semua cewek juga bakal suka sama Kak Daffa, termasuk saya, insyaallah kita jalani dulu."
"Jangan PHP ya sayang, kasihan Daffa nanti."
"Insyaallah enggak Tante, saya juga takut kalau hanya mempermainkan Kak Daffa akan berakibat fatal pada rizeki jodoh saya nanti."
"Bijaknya!"
"Makasih ya Tante!" ucap Daffa yang langsung memeluk mama Jea.
"Makasih buat apa?" tanya mama Jea dengan memukul lengan Daffa.
__ADS_1
"Pokoknya makasih atas semua bantuan Tante!"
"Cih..." Mama Jea mencibir, padahal dalam hati beliau sangat bahagia, akhirnya Daffa bisa membuka hati untuk perempuan lagi.