
Selepas maghrib penghuni lorong 13 kecuali Neva memutuskan ikut pulang ke rumah Sita di Semarang dengan menggunakan mobil Vino.
Renata dengan baggy pants, kaos lengan pendek dan cardigan, serta rambut dikuncir kuda dan sandal teplek andalan selalu dipeluk Sita yang masih terisak.
Ilma dan Elea bagian membawa keperluan mereka selama di Semarang nanti, maklum mereka masih libur kuliah, namun ada tugas les privat sebagai side job mereka, dan terpaksa diliburkan hingga tiga hari ke depan.
"Udah semua?" tanya Vino yang memasukkan satu per satu tas bawaan anak lorong.
"Udah!" jawab Ilma, Elea kompak.
Keempat gadis cantik itupun masuk mobil, begitupun dengan Vino yang duduk di samping kemudi, ternyata ia bawa sopir.
Ting
Ponsel Renata berbunyi, ada pesan WA dari nomor baru. Gadis itu hanya mengernyitkan dahi ketika membaca pesan itu.
Kita ketemu lagi, Renata Adzkiya......(Jea)
Kok bisa?? balas Renata
"Udah gak usah chatting mbak Ren, orangnya jadi sopir sekarang." Ujar Vino seperti tahu bunyi ponsel Jea yang mendapat pesan dari Renata.
"Ouhhh pantes," begitu Renata hanya menanggapinya. Dia pun melihat spion dan tepat bertemu dengan mata Jea. Canggung.
"Ini siapa yang tahu rumah Sita?" tanya Vino yang memang belum pernah main ke rumah Sita setelah perjalanan hampir setengah jam.
"Semarang kota kok, Kak. Dekat alun-alun." Jawab Elea.
"Oke, kalian tidur saja, nanti kalau sudah sampai alun-alun kita bangunkan."
"Kita gak diculik atau diapa-apain kan kak Vino?" sebuah pertanyaan yang unfaedah dari Renata.
"Duh pikiran anak S1 kayak gini amat ya!" balas Vino jengah. Jea yang sedang menyetir hanya tersenyum kecil.
"Dah deh, Mbak. Merem!" perintah Elea gemas juga.
Ketiga gadis tidur dengan nyenyak, Sita mungkin kelelahan menangis, sedangkan Ilma dan Elea memang sudah mengantuk. Hanya Renata yang tidak bisa memejamkan mata, entah mengapa, mungkin karena dia semobil dengan laki-laki yang tidak begitu ia kenal, meski ada Jea juga, tetap saja dia khawatir.
Sepanjang perjalanan, ia hanya memandang menatap jendela, menikmati pemandangan jalan di malam hari. Kadang ia bermain ponsel meski sesekali menguap.
"Kalau mengantuk tidur aja, Ta!" cetus Jea, sesekali pemuda itu menatap spion, mencuri pandang pada teman KKN nya itu.
"Enggak bisa merem."
"Kenapa? takut diculik?" tanya Jea sambil tersenyum mengejek.
"Siapa tahu ada niat itu."
"Tapi gak pa-pa sih kamu gak tidur, nemenin aku nyetir."
Hening
__ADS_1
"Kenapa bisa ikut?" Renata penasaran kok bisa Jea semobil dengan dirinya dan ikut mengantar Vino ke rumah Sita.
"Diajak Vino, lah."
"Ooooooo,"
"Tadi waktu teman kamu kabarin Sita, aku dan Vino lagi ngopi."
Renata manggut-manggut, "Gak capek habis pulang KKN langsung ngopi?" tanya Renata kemudian.
"Cie.mulai perhatian nih!"
"Cih..rese."
Jea terkekeh, puas juga membuat kesal Renata. Gadis itu semakin imut kalau cemberut. "Ini nanti nginep kan?"
"Kalau kita nginep sih, udah bawa baju ganti juga."
"Hem..kalau kita gak bawa, tapi gak pa-pa sih soal baju tinggal beli."
"Percaya deh, sultan."
"Calon istri sultan juga boleh kok kalau mau dibeliin baju."
"Preeeeetttttttt."
Hening lagi, Renata tidak meneruskan obrolan dengan Jea, membiarkan cowok itu fokus mengemudi.
"Boleh deh, kebelet."
Jea hanya mengangguk kemudian fokus mengemudi lagi, lagu syahdu diputarnya untuk menemani perjalanan, ia tak mau mengajak Renata mengobrol, sebab gadis itu tampak sibuk dengan ponselnya.
Tak berselang lama, mobil masuk ke pelataran Rest Area..Renata membangunkan Elea dan Ilma, Sita dibiarkan tidur saja. Kasihan.
"Mbak, makan pop mie dulu ya, kita tadi belum makan malam loh!" pinta Ilma saat di toilet wanita.
"Boleh, kalian mah enak bisa tidur. Gue dari tadi melek tau."
"Salah sendiri gak tidur." Balas Elea.
Setelah urusan toilet, ketiga gadis itu menuju penjual pop mie dan memesan teh hangat sekaligus.
"Aku ditinggal." Ucap Sita yang tiba-tiba turun dan ikut bergabung antri pop mie.
"Gak tega, Sut!" jawab Elea. "Mau pesan pop mie?"
Sita mengangguk dan menuju ke meja Vino yang lagi menikmati kopi bersama Jea.
"Kurang berapa jam lagi sayang?" tanya Vino ketika Sita ikut duduk di sampingnya.
" 2 jam lagi."
__ADS_1
Di seberang meja lain, ketiga gadis menyantap pop mie dengan nikmat, apalagi Ilma, gadis bongsor yang tak bisa menahan lapar.
" Mbak, temannya kak Vino itu teman Mbak?" tanya Elea yang kebetulan menangkap pandangan Jea mengarah pada meja ini, mungkin ke Renata tepatnya.
Renata hanya mengangguk, masih meniup pop mie yang mengepul. "Kenapa?" tanyanya lagi.
"Tadi ngelihatin mbak terus."
Sontak Renata menghentikan kunyahannya dan melihat ke meja seberang. Uhukk....
"Kan?" Elea mempertegas ucapannya tadi, apa yang dia lihat memang benar.
"Iya teman gue, ketua KKN."
"Naksir mbak?" giliran Ilma yang penasaran.
Renata hanya mengerutkan bahu, melanjutkan sisa pop mie yang sebentar lagi tandas.
"Cewek ini mah mana peka dengan begituan, Il. Wira yang sudah setengah mati cinta juga dianggap sahabat."
"Apaan bawa Wira, kalau dia cinta kenapa bisa pacaran sama orang lain, tinggal nemuin bapak gue apa susahnya sih."
"Eh mbak Renata yang baik hati dan tidak sombong, emang nemuin mertua itu gampang, apalagi Wira belum punya kerjaan. Mikir nenggggg." Elea terlalu gemas dengan prinsip Renata itu.
"Kalau masih ngetek ke orang tua ya gak usah kenal cinta apalagi pacaran juga. Eh mak dan bapak Lo kasih duit buat makan Lo, bukan traktir anak orang. Sodara bukan, diperhatikan melebih orang tua. Coba kalian pikir, selama ini kalian ingat gak nanyain apa kabar mak, pak. Udah makan belum Mak, pak? Yakin deh gak pernah, nah sama pacar? padahal orang tua loh kasih uang, kasih apapun yang kalian butuhin. Nah pacar? cuma kasih cinta doang, palsu lagi.
Elea dan Ilma kincep, benar juga sih apa yang dikatakan Renata. Anak kuliahan, masih ngetek sama orang tapi sok sok an ngasih makan anak orang. Hati kedua gadis itu goyah, selama ini juga mereka sering beliin baju pacar dengan uang jajan dari orang tua, duhhhhhh kasihan bapak Mak nehhhh.
"Mbak Lo kok santai banget sih jadi jomblo?" Ilma masih heran berteman dengan Renata yang benar-benar tidak mau mengenal cinta.
"Gue mau menikmati hiduplah, Il, tanpa ada gangguan orang lain yang menuntut perhatian. Enak banget coba gak ada tanggungan gini. Berteman dengan siapapun no problemo, kemana-kemana gak usah pamit ke pacar, santai banget lah. Trus yang paling penting gak boros pengeluaran," Renata terkekeh, ia bukan gadis pelit, termasuk royal malah sama teman. Tapi dia ilfeel kalau mendengar apalagi melihat cewek atau cowok yang kasih barang-barang mewah ke pacarnya, kata Renata sayang sekali.
Drt....drt.....ponsel Renata bergetar, tampak nama Wira Sableng, dan dia pun mengangkatnya.
"Apa?" tanya Renata
"Dimana? Wira balik tanya.
"Gue lagi Otw ke rumah Sita, adik kos, kenapa?"
"Kok bisa sama Jea?"
"Lah kok Lo tau?"
"Ck...buka statusnya dia doang. Wajah Lo terpampang nyata."
"Gue gak nyimpen nomernya."
"Gitu ya Lo sekarang udah berani nikung gue."
"Rese',". ....Tut, Renata mematikan sambungan telpon.
__ADS_1
"Pacar tua gak terima." Ejek Elea disambut tawa Ilma.