
Usai makan siang, Jea menggandeng Renata masuk ke ruangannya. Berjalan beriringan sambil bercanda membuat beberapa karyawan patah hati.
/Sumpah ini mimpi, babang Jea gak boleh nikah sama dia/
/Duh pak bos cinta mati sama istrinya/
/Nyesek pak bos/
Rentetan keluhan patah hati tak menghalangi keduanya, dengan santai pasangan pengantin itu melewati karyawan yang sebagian besar melongo, semoga tidak ada yang terkena serangan jantung.
"Pak CEO banyak yang naksir juga kayaknya?" sindir Renata saat berjalan di lorong menuju ruangan suaminya.
"Enggak, mereka hanya refreshing mata sama orang ganteng."
"Cih....padahal dalam hati bilang iya aku kan ganteng makanya banyak yang naksir." Ucap Renata, akting sebagai hati nya Jea.
Jea menahan tawa, harus menjaga wibawanya, ia pun merangkul pundak istri dan mencium pelipis sekilas.
"Ehem..di kantor," intrupsi suara Daffa yang berjalan melewati kedua pasangan gak ada akhlak itu, mesra-mesraan di lorong kantor. Hadehhhhhh
Sial.
"Setengah jam lagi rapat bos!" Daffa sengaja memberi alarm rapat, siapa tahu bos nya itu khilaf, ada si pengganggu konsentrasi gitu.
Renata mengerucutkan bibir, malu tau, kebiasaan sang suami, nyosor di sembarang tempat. "Jangan mancing gitu bibirnya." Sindir Jea ketika masuk ke ruangannya. Renata memukul punggung suaminya itu, dih jahil banget.
"Kalau mau tidur, di kamar situ ya!" tunjuk Jea pada ruangan yang berada di belakang kursi kebesarannya. Renata penasaran, bukan mau tidur hanya ingin tahu kamar yang dimaksud Jea seperti apa.
Oh ... ternyata ruang untuk istirahat Jea, ada single bed, TV, lemari satu pintu dan kamar mandi. Mungkin dipakai saat lembur kantor. Tapi semenjak menikah, Jea gak pernah lembur. Pulang kantor paling malam jam 10, yah meskipun di dalam kamar sering berkutat pada tablet sampai dini hari sih.
"Mau tidur?" Jea datang menyusul, padahal tadi sudah berkutat dengan laptop. Lalu masuk kamar mandi, ouh wudhu ternyata.
" Belum sholat?" tanya Renata.
"Belum, kamu?"
"Belum keramas."
"Udah berhenti?"
Renata berdecak sebal, kenapa sih tanya sedetail itu, malu tau. "Udah kayaknya."
"Kok kayaknya?"
"Cepetan sholat." Titah Renata kesal, terus saja interview masalah halangan.
"Bentar dong, pembahasan penting nih. Tuh ada kamar mandi siapa tahu udah beres, keramas di sini saja."
"Aku gak bawa baju ganti."
"Gampang, ada Dina tinggal nyuruh beli baju. Beres!" Ucap Jea sambil menaik turunkan alis. Dih... kenapa sih.
"Udah sholat aja dulu." Renata mengakhiri 'diskusi' menjengkelkan siang itu. Ia pun keluar dan duduk di sofa sambil bermain ponsel. Memotret kursi kebesaran Jea, ada nama Jea Andra Sanjaya beserta posisinya, tak lupa finger heart juga.
__ADS_1
Cekrek
Langsung diunggah ke status WA dengan caption NYONYA.
Ting
Ceca
/Nyonya lagi di kantor Pak CEO, kasih servis plus plus ya/
Kalau saja Ceca ada didekatnya udah ditonyor mungkin jidatnya. Punya pikiran kok belok terus.
/Iya dong, dobel servis kalau bisa/
/Anak perawan gueee.....otak Lo, nak/
Renata cekikikan membaca pesan Ceca, mungkin Ceca shock dengan balasan Renata yang dianggap gadis polos yang gak tahu hal begituan. Eits...Ceca lupa kali kalau Renata selangkah lebih maju, sudah nikah. he...he...
"Kenapa cekikikan?" Jea baru selesai sholat, langsung berkutat pada ponselnya. Ternyata menghubungi sang sekretaris.
"Lagi di luarkan, sekalian belikan baju untuk nyonya plus hair dryer ya, makasih."
Hem ...dasar jiwa bos, main seenaknya saja perintah. Udah dibilang masalah keramas aja bisa panjang.
"Aku mau rapat dulu, nanti kalau Dina datang langsung dicek ya, udah selesai halangan apa belum."
"Kenapa sih maksa banget, curiga deh."
Jea mencium bibir Renata sekilas, "Katanya penasaran sama kebiasaanku."
"Dih ngambek, nyesel loh kalau gak mau tahu."
Renata hanya mencibir dan menyuruh suaminya segera pergi rapat. Sangat tidak baik untuk kondisi jantungnya yang masih deg degan ketika berdekatan dengan Jea.
Tot..tok...
Renata membuka pintu ruang kerja Jea, ada wanita muda yang mungkin usianya sudah 30 tahun ke atas tersenyum sembari membawa dua paper bag.
"Pesanan pak bos, Nyonya!" pasti ini yang namanya Dina.
Renata tersenyum dan mengambil paper bag tersebut, "Terimakasih, mbak. Panggil saja Renata ya, jangan nyonya. Berasa tua saya."
"Hem tidak sopan Nyonya!"
"Gak pa-pa mbak, panggil nona, mbak atau adik saja deh, jangan nyonya, ya!" Renata si pemaksa.
"Baik, saya permisi mau menyelesaikan pekerjaan saya."
"Terimakasih ya mbak!"
Renata menutup pintunya lagi, dan segera membuka paper bag tersebut. Ada kaos lengan panjang berwarna peach muda, celana jeans dan hair dryer sesuai pesanan si bos. Sambil merentangkan kaos, Renata mengerutkan keningnya heran, "Kenapa bisa tahu ukuran baju aku ya, padahal belum pernah bertemu."
Renata lupa, saat papa meninggal, Dina turut serta melayat, sampai hari ketiga pun dia bolak balik ke kediaman sang mertua, menyerahkan berkas untuk Jea. Banyak tamu juga, wajar Renata lupa.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Renata tertidur di sofa. Gak ada yang dikerjakan, hanya menunggu suami, enaknya memang tidur. Cukup pulas juga.
"Bangun sayang!" Jea mengelus pipi sang istri, namun Renata tak bergeming juga. Cup, cup, cup, Jea memberikan kecupan di semua wajah Renata, barulah mata cantik itu membuka perlahan.
"Udah selesai rapatnya?"
"Udah dari sejam yang lalu."
"Jam berapa sekarang?"
"Jam 4."
Renata menguap sebentar, bibirnya manyun, masih belum lengkap nyawanya. "Dah segera mandi, habis itu kita jalan-jalan ke mall."
Langsung meltek deh tuh bola mata, mendengar kata jalan-jalan. "Seneng banget diajak kencan." Sindir Jea, karena memang hampir sebulan ini ia belum pernah mengajak Renata kencan.
Setelah papa wafat, ia harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, belum lagi Renata juga menyelesaikan magangnya, nah sekarang sudah agak longgar barulah bisa kencan.
Cup
Renata mengecup bibir suaminya sekilas, dan segera berlari ke kamar mandi, menyembunyikan wajah malunya, saking senengnya diajak jalan sampai bisa inisiatif mengecup begitu, dan reaksi Jea hanya membeku, memegang bibirnya sebentar lalu tersenyum tipis. "Kurang lama sayang." Teriaknya.
"Hemmm...udah cantik istriku." Puji Jea saat Renata keluar, sudah menggunakan baju yang dibeli Dina dan tunggu... rambutnya sedikit lembab. Mata Jea berbinar, itu artinya si bulan udah pergi. Yesssss!!!!
"Masih banyak kerjaannya?" tanya Renata sambil memakai bedak dan lipstik.
"Masih banyak, tapi gak pa-pa kok, belum deadline. Kayaknya aku mandi juga ne, biar wangi kayak istriku." Cicit Jea, menyempatkan mencium puncak kepala sang istri kemudian beranjak ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Jea sudah ganteng, kelewat ganteng malah. Menggunakan celana jeans navy, dan kaos lengan pendek polo warna putih. Sumpah ganteng, Renata saja sampai tak berkedip melihat penampilan Jea.
"Ganteng ya?" Jea membuyarkan lamunan Renata.
"Ehem...biasa."
"Hem gak dipuji neh, nyesel loh kalau aku keluar terus dipuji fans ku ganteng."
"Dih...fans katanya."
Jea memeluk Renata sebentar, "Ya udah aku aja yang muji kamu, istriku cantik amat, minta sun dong."
Renata langsung menjauhkan wajah suaminya, "Jadi jalan gak sih."
"Sun dulu."
"Gak mau."
"Nolak dosa loh."
Ancaman suami yang membuat istri tak bisa berkutik, dooooooosssaaaaaa. Keduanya keluar kantor. Sepanjang jalan, banyak pasang mata yang melihat pengantin baru itu, terutama karyawan perempuan yang tak henti-hentinya memuji ketampanan si bos muda.
/Aduh bossss tiap hari pakai baju gitu gue rela bos lembur tanpa dibayar/
/Vitamin mata sore ini/
__ADS_1
/Ya Allah bos gue ganteng amat/
Jea memasang wajah datar dan hanya sekali membalas sapaan karyawan yang berpapasan dengannya, ia hanya sibuk menggandeng sang istri.