
Setelah drama testpack, pagi ini Jea benar-benar mengantar Renata ke rumah sakit, layaknya calon ayah lainnya, Jea begitu protektif dengan Renata. Bahkan Renata jalan saja digandeng terus.
"Aku tuh cuma hamil, Yang. Gak sakit." Protes Renata kesal. Jalan agak cepat diprotes, pegang hp sambil jalan diprotes, akhirnya Jea menggandeng Renata hingga di depan ruang praktik dokter kandungan. Mereka mendapat antrian kesepuluh, untung masing belum antri banyak, sehingga mood Renata tidak terlalu anjlok.
"Yang, kamu gak punya rumah sakit gitu, kan pak CEO?" tanya Renata dengan menatap wajah Jea yang sedang fokus dengan ponselnya. Meskipun raga di poli kandungan, pikiran di kantor bersama Daffa.
"Belum punya sayang,"
"Berarti belum seperti CEO yang di novel-novel dong." Mata Renata mengerjap lucu, ada sorot mengejek juga. Dih.... menggemaskan sekali.
"Emang kamu mau aku punya rumah sakit?"
Renata tampak berpikir dengan jawabannya. "Gak usah, nanti kamu tambah sibuk."
Jea mengacak rambut Renata, terlalu gemas bila melihat istrinya ini berlagak manja sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku heran deh, kak. Kamu kan sibuk ya, tapi aku bisa hamil juga."
Uhuk....
Jea keselek salivanya. Pertanyaan macam apa itu. Sibuk sih tiap hari, ngadon si debay juga tiap hari. Situ lupa? seandainya Jea bisa mengumpat kesal pada perempuan itu.
"Jangan menggoda. Aku sudah nahan biar gak cium kamu di sini loh!" bisik Jea yang langsung mendapat cibiran Renata.
Kepala yang masih terasa pusing. Membuat Renata menyandarkan kepala di lengan kekar Jea, tak ayal rasa kantuk pun melanda.
"Ibu Renata Adzkiya," panggil seorang perawat beberapa saat kemudian.
Renata memanyunkan bibir, panggilan ibu, duh...tua banget.
"Yang, aku kok dipanggil ibu sih, tua banget, habis ini juga pasti dipanggil emak-emak sosialita." Protesnya masih dengan bibir mengerucut.
"Nanti aku kepret deh tuh perawat, berani-beraninya panggil istri aku yang cantik dan imut se-Indonesia raya ini dengan ibu. Emang kamu mau dipanggil apa sayang?"
"Bunda." Jawab Renata dengan ekspresi sol imut.
Ya elah, kirain mama atau mommy atau ummi, biar keren dikit. Ternyata bunda, memang lebih manis sih, oceh Jea dalam hati.
Keduanya masuk ke ruang praktik dokter kandungan, sengaja dipilih Jea dokter kandungan perempuan, dokter Emilia. Beliau masih muda mungkin usianya baru menginjak usia 35 tahun. Cantik dan sepertinya ramah.
"Silahkan duduk, Bu, Pak!" Ucap dokter Emilia dengan ramah, namun ekspresi Renata manyun, gak suka dipanggil Bu, berasa tua.
__ADS_1
"Dokter panggilan buat aku, bunda saja, biar lebih kece."
Jea hanya meringis, bisa-bisanya dokter diajak bercanda begini. Sengklek sih sengklek sayang, tapi jangan bikin dokter menurut ke kamu juga, Jea hanya sanggup mengoceh dalam hati.
"Ouh, bisa bisa. Bunda Renata Adzkiya yah."
"Nah saya jadi semangat bertemu dokter."
"Khas anak muda ya, ceria." Eh ngomong-ngomong muda, dokter ramah itu tidak berpikir Jea-Renata hamil di luar nikah kan?
Setelah mendengar keluhan dan hasil testpack Renata, dokter ramah itu meminta calon ibu itu berbaring, akan dilakukan USG. Cukup tegang juga wajah Renata, baru pertama kali berurusan dengan alat medis. Takut kalau dia menderita penyakit tertentu.
"Selamat!" hanya itu yang diucapkan dokter perempuan itu. Beliau langsung kembali ke meja dan keluarlah hasil USG tersebut. "Dedeknya masih kecil, masih 7 Minggu. Dijaga baik-baik ya," saran beliau dengan menuliskan resep sepertinya.
"Ada pantangan selama hamil gak dok?" bukan Renata yang bertanya namun si calon bapak terlihat antusias.
"Dari segi makanan jangan terlalu banyak dan sering makan durian, nanas muda. Kalau punya alergi makanan tertentu juga sebaiknya dihindari. Selebihnya bebas. Perbanyak sayur dan buah ya bunda."
Renata mengangguk saja, kepalanya kembali pusing, ia ingin sekali pulang tapi suaminya begitu cerewet tanya ini itu, haduh kayak gak punya ponsel pintar saja. Banyak tanya, begitu batin Renata protes.
"Idih kamu malu-maluin deh, banyak tanya." Protes Renata ketika mereka sudah di mobil.
"Eh....tanyalah pada sang ahli." Bela Jea yang sudah puas dengan jawaban dari sang dokter.
"Bisa si bisa, tapi kurang mantap. Coba deh kalau tanya si mbah, pasti banyak kalimat horornya."
Renata belum paham. "Maksudnya?"
"Coba si Mbah bilang kalau hamil pada trimester pertama tidak boleh melakukan hubungan suami-istri, tapi tadi kata dokter boleh asalkan pelan dan tidak sering."
Renata memukul lengan sang suami. Kesal juga, hal kayak gitu kenapa ditanyakan juga. "Dih...kamu ya, gak malu gitu tanya sama Bu dokter hal yang begituan.
"Gak lah, ngapain. Demi kesejahteraan si junior. Aku rela."
Renata menggelengkan kepala. Punya suami ajaib beneeer. Tampan dan sopan di luar, mesum di dalam dan kebangetan.
"Mau makan apa? Nanti di kantor agak lama ya, jangan merengek minta pulang."
"Hemmm...nanti aja, aku bisa order. Ada rapat kah?"
Jea mengangguk, beberapa detik kemudian menghela nafas. "Ito tiba-tiba mengajukan proposal proyek bareng."
__ADS_1
"Oh."
"Kok cuma Oh?"
"Ya kan kalian pengusaha, wajar dong kalau bekerja sama."
Jea mencibir. Polos sekali pemikiran istrinya ini. "Ada maksud lain lah."
"Pak CEO sejak kapan jadi suudzon terus."
"Sejak jatuh cinta sama kamu."
"Aku mah orangnya baik, gak pernah suudzon." Ujar Renata sambil mengibaskan rambut panjangnya.
Si Jea yang super jahil, tiba-tiba menepikan mobilnya, melepas sabuk pengaman, lalu mencondongkan wajahnya pada ceruk leher Renata. Kaget dong, di jalan loh bertindak mesum gini, yah meskipun kaca mobil Jea aman.
"Eh..eh...kamu mau ngapain, ini di jalan loh. Jangan gini dong, kamu tuh mesum banget." Renata gelagapan, ia memukul pundak sang suami berkali-kali, tapi Jea masih nongkrong di leher perempuan halalnya sambil cekikikan.
"Yang kamu itu omes banget deh."
Jea tertawa sambil memegang perutnya, kemudian menyalakan mobilnya menuju kantor. "Bilangnya orang baik, beuh... suudzon gitu sama suami, aku kan sopan dibilang omes...dih ngatain laki, gak sopan tahu."
"Kamu yang mulai, wajar dong aku bilang kamu omes."
"Aku tuh bukan omes sayang." Ujar Jea sambil memegang pipi sang istri dengan tangan bebasnya.
"Trus?"
"Pencari pahala, mau numpuk pahala dari ibadah yang mengasyikan."
"Bisa aja Pak CEO."
dan detik berikutnya, Jea harus menahan khawatir setengah mati. Tak ada aba-aba, Renata langsung muntah tepat di dadanya.
"Yang!" Jea kaget, langsung mengambil tissu di dashboard, dan segera mengelap bibir Renata. Ia mengesampingkan kemeja kotornya.
"Minum dulu." Lanjutnya sembari membuka botol air. "Kita pulang dulu aja ya?"
Renata hanya bisa mengangguk, badannya lemas. Ia menyandarkan ke jok mobil, "Maaf, kemeja kamu."
"Gak masalah sayang. Kita pulang ya,"
__ADS_1
"Maaf, kayaknya aku gak kuat di mobil lama-lama."
Jea mengangguk, ia tetap mengelus puncak kepala sang istri, tetap khawatir dan menghubungi Daffa untuk menunda meeting bersama Ito.