
Renata hanya mendengus kesal, dari sekian teman cewek KKN nya kenapa si centil Maya ini sih yang datang. Baru nongol udah ngatain pelakor, punya hak apa dia. Merebut Wira? helloooowww sebelum kenal Maya, Wira sudah cukup dekat dengan Renata, secara mereka satu kelas dan sahabatan.
Mantan pacar Wira juga tahu kedekatan Wira dan Renata, tapi sebenarnya tidak hanya Renata si, ada Ola dan Ceca yang dekat dengan Wira. Hanya saja Ola dan Ceca punya pacar, alhasil Maya selalu menganggap Renata sebagai alasan putusnya dengan Wira.
"Yang pelakor siapa?" Jea memasang wajah polos.
"Renata lah!"
"Eh... Neng Maya yang terhormat, gue gak pernah tuh ganggu hubungan Lo sama cowok siapapun. Termasuk Wira."
"Kok jadi bawa-bawa gue sih!"
"Ya emang Lo, kalau Lo gak berkoar-koar gue calon istri Lo, si jubedah ini gak bakal ngecap gue pelakor."
"Nama gue Maya, bukan jubedah!!!!"
"May, kita udah mantan kali. Gak usah baper terus deh, gue dan Renata kan memang lebih dulu kenal daripada Lo."
"Ya emang kita mantan, tapi dia udah mau ngerebut gebetan baru gue."
Ketiganya saling pandang, siapa gebetan barunya???
"Siapa?" ketiganya kompak bertanya.
"Kak Jea." Lirih Maya
Bhhahhawhahaaa, Renata dan Wira tertawa sekencang kencangnya. Bahkan si Wira sampai memegang perutnya, dan Renata tak henti-hentinya mengusap air matanya, cukup geli mendengar pengakuan Maya.
Jea, target gebetan baru Maya hanya mencebik. Sebenarnya ia sadar betul sejak pertama bertemu dengan uler keket ini, ada signal-signal PDKT, tapi Jea selalu menepisnya. Ia tak mungkin membalas tebar pesona si Maya.
Sebagai ketua jelas ia harus mengesampingkan percintaan dulu, tak mau lah berurusan dengan para cewek. Takut jambak-jambakan juga, he..he..he. Terlebih ada Nadya, sang mantan. Setidaknya ia harus menjaga perasaan sang mantan yang masih mengharap untuk CLBK.
"May, bukan gue yang harus Lo waspadai, tapi si Nadya. Secara pak ketua diam-diam masih sering curi pandang sama si mantan."
Jleb.
Ngaco Lo, Ta! batin Jea protes. Mana pernah dia curi pandang pada Nadya, orang sakit hati karena dia cukup dalam.
"Bener kak Jea?"
"Kalau iya gimana?"
"Ya tinggal ganti judul aja dah, Maya vs Nadya." Celoteh Renata mengambil langkah seribu menghindari omelan Maya.
******
"Lo tau gak, Ki." Renata menjedah ocehannya sambil lirak lirik ke arah pintu depan. " Maya tuh ngarep pak ketua loh!"
Kikan menoleh, lalu cekikikan. Ia sempat menonyor kening Renata pelan. "Udah lama kali dia memplokamirkan, Kak Jea sebagai gebetan barunya. Anak-anak sudah banyak yang tahu."
"Ck...gue juga udah tahu, tapi dia udah kasih pengakuan di depan Kak Jea tadi."
"Sumpe Lo? Yang bener?"
"Ya elah, gue di depan mereka coba."
"Kok bisa?"
"Gue dicap pelakor, dia kira gue lagi PDKT sama Kak Jea. Yassalam, mimpi apa gue PDKT sama cowok."
Kikan tertawa pelan. Meski baru mengenal Renata, gadis itu sering sekali curhat bersamanya, terutama alasan Maya yang cukup emosi dengan kehadiran Renata.
"Lo yakin, Ta. Gak pengen gitu pacaran?"
"Enggak."
"Ama Wira?"
"Gak juga, gue anggap dia murni sahabat."
"Tapi dia enggak kali, Ta. Pasti dia ada rasa sama Lo!"
Renata hanya mengangguk.
__ADS_1
"Kalau sama kak Jea?" lanjut Kikan kepo.
"Apaan?"
"Lo gak merasa kak Jea naksir Lo?"
Kali ini Renata menggeleng. Ia tidak sedekat itu dengan Jea, terlebih topik pembicaraan antara keduanya hanya sebatas masalah KKN.
"kenapa Lo tanya gitu?"
"Feeling. Karena gue udah berkali-kali lihat dia curi pandang sama Lo, apalagi saat sama Wira."
"Masa' sih?"
Tonyoran di kening kembali mendarat pada Ranata, "Lo mana peka!"
"Gue tuh gak ada niatan pacaran, Ki. Maunya langsung dihalalin aja."
"Yakin Lo? Kalau yang ngelamar Lo tua?"
"Ya jangan dong."
"Botak?"
"Yassalam, Ki."
"Gendut."
"Mundur gue."
"Punya istri selusin."
"Tega."
"Ya makanya terima kek, kalau ada yang nembak."
"No...bapak gue juga pastilah menimbang siapa yang pantas jadi suami gue. Termasuk usia dan latar belakangnya, gak asal terima dodol."
"Kalau Wira dan Jea yang ngelamar Lo, siapa yang bakal Lo pilih?"
"Hiii ne anak, mau membuktikan kalau Kak Jea naksir Lo?"
"Ogah, ribet."
"Sekali doang deh, Ta!"
"Ngapa Lo yang ngarep banget si?"
" Mata gue butek coba lihat Maya kegatelan sama Jea, gak pandang tempat dan waktu coba."
"Lah terus kenapa harus gue yang Lo sodorin ke Jea!"
"Maya menganggap Lo musuh utama, saingan terberat berebut cowok."
"Eh tolong ya ralat, gue gak pernah dekat-dekat dengan cowok ya, apalagi merebut cowok."
"Iya gue tahu, tapi kan pemikiran Maya yang cetek enggak."
"Apa untungnya juga gue nurutin usulan Lo!"
"Menambah daftar calon suami." Bisik Kikan jahil. Renata spontan memukul wajah tengil Kikan dengan bantal secara bertubi-tubi.
******
"Lo duduk belakang!"
Huft .. pagi-pagi harus sabar, berangkat ke pasar bareng Maya dan Nadya. Suasana absurd yang pernah ada, diantar Jea lagi. Hah...gak nyangka saja, dulu saat menerima jadwal masak dan ke pasar dengan orang-orang ini mah B aja, nah sekarang setelah ada beberapa kejadian terutama dengan Maya, ingin rasanya tukar jadwal. Malas banget.
"Sama gue aja, Ta. Ambil aja Jea, buat Lo dah!"
Ketus Nadya, yang langsung membuka pintu belakang mobil dan diikuti Renata. Sedangkan Maya melenggang cantik di bangku depan.
Sudah ada Jea di balik kemudi, dengan santainya bermain ponsel. "Sudah siap?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
__ADS_1
"Sudah kak, berangkat." Jawab Maya dengan suara manja. Nadya langsung mendengus kesal, sedangkan Renata pura-pura muntah.
"Oh ya Kak, ntar kita mampir sarapan dulu, yuk. Ada nasi rames enak di dekat pasar kata anak-anak aku pengen nyoba." Masih dengan logat manja ala Maya.
"Kelamaan, nanti anak lain sarapan apa?"
"Ya kan sudah ada sarapan, tadi Renata dan Nadya sudah sempet bikin nasi goreng. Ya kan, Ta, Nad?"
"Hem." Jawab keduanya hanya dengan deheman.
"Tuh kan kak, yuk!"
"Gimana?" Jea meminta jawaban pada Renata dan Nadya, namun kedua gadis itu masih sibuk dengan ponsel masing-masing. "Ta, Nad?" kembali Jea meminta jawaban pada mereka berdua.
"Mereka gak mau kayaknya kak, kita aja deh!"
"Gue di mobil aja!"
"Gue ngikut Nadya juga di mobil!"
" Kalau mereka gak ikut ya udah kita belanja bahan makanan habis itu langsung pulang."
Maya cemberut. Gagal dong makan berdua sama Kak Jea. Kenapa sih mereka harus nolak juga, batin Maya protes.
"Eh Ta, ntar kita yang belanja sayur aja ya."
"Boleh, berarti Lo ke bagian ikan dan daging ya, May?"
"Enak aja, ya kali gue keluar pasar bau amis. Kalian aja."
"Eh Lo dong, dari tadi kita masak sarapan elo masih merem, gantian kek. Enak terus ma Lo!"
Masih Maya vs Nadya yang adu nyolot.
"Ya udah gue mau, asal sama kak Jea, aku takut nyasar kak!"
"Gak usah sok manja, May!" lagi-lagi Nadya nyolot. Maya hanya menoleh dan menatapnya tajam.
"Suka-suka gue lah, ma kak Jea, ye kan kak?"
"Gak bisa ya, gue cuma duduk di mobil aja?"
"Bisa." Jawab Nadya dan Renata kompak.
"Gak bisa!" jawaban lain dari Maya.
"Kakak kok tega membiarkan aku belanja sendiri, mereka kan berdua."
"Udah temenin aja, Je, daripada ntar ilang kita juga yang susah nyari ular keket." Nadya sudah siaga jadi singa betina. Renata hanya melirik sambil menutup mulut rapat-rapat, jiwa julidnya jangan sampai muncul juga.
"Iri? Bilang Mbak, jadi mantan aja sok sok an ngatur."
Awwwww.....
Teriakan Maya, yup. Rambutnya sudah dijambak Nadya dari belakang. Ia hanya meringis kesakitan.
"Duh Nad, lepas-lepas. Jangan jambak-jambakan dong."
"Eh kalian bisa diem gak."
"Gak!" Maya dan Nadya teriak bareng.
"Udah, Nad. Yang waras mengalah, Nad!" Renata masih berusaha melepas tangan Nadya dari rambut Maya. Sedangkan Maya masih mengumpat Nadya dengan kata-kata kotor. Ia juga memberikan cakaran pada tangan Nadya.
Ciiitttttt.....
Jea terpaksa rem mendadak, keduanya pun terpental. Nadya langsung tengkurap ke kursi depan, sedangkan Maya otomatis ke dashboard. Jambakan maut pun terlepas.
"Duh..." keluh Maya sambil menggosok keningnya, sedikit memar.
"Sakit bego." Kali ini Nadya mengumpat kesal pada Jea.
"Gue korban woy." Renata juga mengumpat kesal, dia juga terpental, sikunya menatap jendela mobil. Apes.
__ADS_1
"Maya dan Nadya, turun, silahkan belanja dan pulang naik ojek."
Apaaaa????