CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
KEPUTUSAN


__ADS_3

POV JEA


Flashback On


Aku kalut, sangat kalut setelah Renata mengatakan Minggu depan, Wira akan datang ke rumah gadis itu. Ah... perjuanganku harus selesai sampai di sini kah? Bukan Jea kalau menyerah sebelum berjuang.


Saat di rumah aku langsung mengajak bicara mama, yah beliau adalah orang yang meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta pada Renata.


Sejak bertemu dengan Renata, aku selalu bercerita pada mama tentang Renata, apapun itu. Cerewetnya, juteknya, prinsip yang selalu dipegang Renata bahkan soal kedekatannya dengan Wira.


Mama sangat penasaran dengan Renata, beliau terus memintaku bertemu dengan gadis itu. Ah .... bagaimana mangajak jalan, orang wa saja jarang dibalas kalau bukan urusan kantor. Unik memang.


"Kamu dulu kan buaya, masa' menaklukkan Renata gak bisa." Cibir Mama. Ya Allah....mamaku pemaksa sekali.


"Beda, Ma. Renata itu beda dengan cewek sekarang, dia mana mau berduan dengan cowok."


"Normal kan?"


Ck....aku kesal sekali sama mamaku, masa iya Renata belok, ya meskipun dulu aku pernah berpikir seperti itu sih. Tapi aku yakin Renata bukan seperti yang dipikirkan mama.


"Lah ..kalau kamu gak bisa jalan, gak bisa berduan terus gimana jadiin dia teman bobokmu sayang."


"Jea nikahin boleh?"


Penawaranku langsung mendapat jitakan oleh mama, kenal saja baru langsung ngomongin nikah. Terlalu terburu-buru anak mudaaaaaa.


"Ya terus bagaimana, Ma?Dia kalau ditembak cowok langsung kasih ultimatum bilang ke bapak gue." Seru Jea dengan menirukan kebiasaan Renata.


"Ya udah temuin bapaknya, susah amat."


"Oke deal ya, aku ke rumah Renata."


Mamaku hanya mengacungkan jempol. Ah...mamaku the best sangat mendukung keinginanku, alamat rumah Renata sudah kudapat, restu dari mama sudah kugenggam. Saatnya ekskusi.


Keputusan ini terkesan buru-buru, aku tidak mau terlambat untuk mendapatkan Renata. Apapun hasilnya setelah bertemu beliau, aku akan terima. Kalau diterima, aku akan segera meminangnya, biarlah kita membangun kedekatan setelah memiliki sertifikat halal, toh itu juga sesuai keinginan Renata.


Kalau tidak diterima, aku juga akan menerimanya, dan berusaha ikhlas mumpung rasa ini belum terlalu dalam, mungkin gampang melupakannya. Tapi aku yakin, niatku baik, tidak ingin mengajaknya pacaran, pasti Allah akan memberi jalan. Iya kan?????

__ADS_1


Menuju Pacitan aku berangkat menggunakan pesawat Jakarta-Surabaya, sekalian ada urusan bisnis di kota tersebut. Setelah urusan Bisnisku selesai, aku langsung menuju Pacitan diantar oleh sopir kantor cabang Sanjaya Group.


Deg-degan


Aku sangat gugup, aku ke rumah Renata seorang diri. Aku hanya membawa niat baik, diriku, dan buah tangan saja. Bersyukur rasanya karena Pacitan cukup jauh, aku bisa istirahat agar aku terlihat fresh saat tiba di kediaman calon mertuaku, ecie...calon mertua, semoga diterima ya gaessss, he...he...


Setelah memastikan rumah dihadapan ku adalah rumah Renata, aku dan keberanianku mengetuk pintu. Jangan ditanya bagaimana irama jantungku saat ini, tabuhan gendang musik dangdut kalah jauh deh.


Ceklek


Pintu terbuka, sosok wanita paruh baya muncul di balik pintu. "Waalaikumsalam!" jawab beliau. "Cari siapa ya, mas?" tanya beliau kemudian.


Ehemm..aku berdehem hanya untuk menghilangkan grogiku. "Apa benar ini rumah Renata Adzkiya?" basa basiku. "Saya teman Renata dari Jakarta."


Wanita paruh baya tersebut terseyum kemudian mengangguk dan mempersilahkan aku masuk. Kesan pertama ibunya ramah.


Aku dipersilahkan duduk, kemudian menawarkanku minuman, dan beliau akan memanggil bapak.


Denting jam saat ini kurasa sangat horor. Degup jantungku semakin tak menentu, aku sedikit kaget manakala suara ngebas menyapaku.


Pak Handoko, itulah nama calon mertuaku setelah kami berjabat tangan. Beliau cukup ramah. Setelah minuman dan camilan dibawa ibu datang, beliau duduk di samping bapak dan menatapku intens seolah menyiratkan ngapain ke sini?


"Dekat dalam hal apa, nak Jea?" tanya bapak, aku pikir ini adalah pertanyaan menjebak, kalau salah jawab bisa-bisa keinginanku gagal.


"Saya ingin dekat dan mengenal Renata lebih dalam lagi, saya tahu Renata tidak mau menjalin hubungan dengan lawan jenis seperti halnya pacaran, bahkan saya mendekati Renata saja sangat susah, dia terkesan menjauh pada laki-laki yang tidak serius."


"Oh...jadi mau melamar Renata?" potong ibu sambil tersenyum, entahlah sepertinya bahagia sekali anak gadisnya diminta orang.


"Oalah, nak Jea yakin mau melamar anak saya? dia itu gak mau loh jarak lamaran dan nikah terlalu jauh, kalau dia meminta nikah saat lamaran bagaimana?" kali ini bapak yang bertanya.


"Insyaallah saya siap." Jawabku mantap.


"Jiwa anak muda, semangat benar urusan nikah.he..he..., suasana mulai mencair, kedua orang tua Renata tidak menakutkan kok.


"Kalau boleh tahu, nak Jea ini masih mahasiswa atau sudah kerja?"


"Saya akan wisuda bulan depan, Pak! Alhamdulillah saya sudah bekerja juga , jadi karyawan kantor."

__ADS_1


"Masa' hanya karyawan kantor?" bapak sepertinya kaget kalau aku hanya karyawan kantor, jangan-jangan calon mertuaku ini matre, astaghfirullah. Maafkan anak mantu, Pak, Bu.


"Iya, pak. Saya hanya karyawan kantor."


"Karyawan kantor kok mobil e apik le?" ganti ibu yang meragukanku.


Sial, aku lupa dengan mobil kantor cabang yang bertengger di halam rumah. Aku meringis. Oke fix lebih baik jujur. Akupun menceritakan siapa diriku, keluargaku, dan pekerjaanku. Tak lupa pertemuanku dengan Renata, dan kebiasaan Renata yang menghindariku.


Bapak cukup senang dengan ocehanku, sesekali beliau tertawa melihat wajahku sangat frustasi ketika menceritakan pesan wa ku yang tidak dibalas Renata.


"Lalu bagaimana dengan keluarga nak Jea?"


"Papa saya sedang sakit, hanya mama saja yang tahu tentang Renata, dan insyaallah mama saya setuju."


Beliau mengangguk, kemudian menepuk pundak ku, "Meskipun Renata bilang terserah bapak, saya tidak mungkin menerima lamaran seseorang tanpa persetujuan Renata, karena dia yang mau menikah. Bapak berharap dia menikah dengan orang yang bisa bertanggung jawab atas hidupnya kelak."


"Saya tidak bisa memutuskan secara sepihak, namun saya sangat merestui tujuan kamu. Kamu laki-laki yang baik, semoga kamulah jodoh putri saya."


Aamiin, jawabku senang. Hatiku berbunga-bunga, orang tua Renata setuju.


"Terimakasih, Pak, Bu. Setelah di Jakarta nanti saya akan berbicara pada Renata, mohon bantuannya dan doa agar saya bisa meyakinkan Renata untuk mewujudkan niat baik ini."


"Aamiin, Minggu depan saya akan menyuruh Renata pulang sekaligus membahas masalah ini."


"Bolehkah saya menemaninya Minggu depan?"


Bapak menoleh ke ibu, meminta persetujuan dan beberapa detik kemudian ibu mengangguk. Alhamdulillah. Inikah yang dinamakan jodoh, begitu lancarnya aku mendapatkan ini semua.


Ada rasa sesal juga menjadi play boy dulu, meskipun aku masih perjaka, tapi aku pernah memegang tangan dan memeluk perempuan yang haram bagiku, semoga Renata tidak kecewa dengan masa laluku.


Jakarta, aku pulang


Renata, terima aku ya


Itulah teriakan dalam hatiku. Love you Renata.


########

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya, terimakasih jempolnya ...love you all


__ADS_2