CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
PUSARA


__ADS_3

"Wira marah kayaknya." Ucap Jea yang sengaja berjalan beriringan dengan Renata, gadis itu menoleh, "Marah kenapa?"


"Tahu kalau kita jalan bareng."


"Idih, jalan bareng, ralat, takziyah bareng."


"Jutek banget sih, Ta!" protes Jea.


Seketika Renata berhenti, dan menghembuskan nafas pendek, "Maaf ya, Kak. Aku gak mau ada omongan gak enak tentang kita, takutlah kalau aku dijambak." Sambil berucap, Renata menahan tawa ketika kata dijambak keluar.


"Ckk... masalah itu lagi. Udah kelar, Ta!"


Renata kembali menyunggingkan senyum, "Dah, yuk. Kembali ke mobil." Jea hanya mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan, meskipun kini Vino yang menjadi sopir. Keempat gadis itu tak lama juga terlelap.


"Sepertinya mau ada yang punya pacar baru nih." Sindir Vino dengan senyuman mengejek.


"Susah."


"Anak sultan susah naklukin cewek??? gila, kiamat emang benar-benar udah deket nih."


"Gak usah rese' Lo!"


Vino tertawa pelan, melirik ke belakang sebentar ke arah Renata. "Pepet terus lah, bro. Kayak gak punya cara aja."


"Dibilangin susah kok Lo ngeyel sih."


"Pesona Lo kayaknya udah pudar sih emang, makanya dia gak tertarik."


"Sembarangan."


Obrolan mereka berdua terhenti saat suara Renata terdengar, halo. Yah gadis itu menerima panggilan telpon.


"Rumahnya di Semarang." Jawab Renata sepertinya ia sedang menjelaskan posisinya sekarang pada seseorang.


"Penting gak sih, dah ah, gue ngantuk, udah malam juga." Si penelpon kayaknya bikin kesal Renata.


"Gue takziyah, bukan liburan."


Tut

__ADS_1


Sekali lagi Renata memutuskan sepihak. Ia mengubah posisi duduk, dan tak berselang lama terdengar nafas yang teratur, dia sudah tidur kembali.


Ting


Notif pesan masuk di ponsel Jea kali ini,


/Jagain Renata, jangan ditikung, calon istri gue/


Jea tersenyum sinis, pesan Wira itu membuatnya semakin tertantang untuk mendekati Renata, apalagi saat ini mereka sedang bersama, tidak ada teman KKN, terutama Wira tentunya. Terbersit niat untuk memanas-manasi si Wira sableng itu.


Malam semakin larut, jalan cukup sepi dan lengang, Vino mempercepat laju mobil agar segera sampai ke rumah sang kekasih, meskipun keadaannya berduka.


"Sayang, ini sudah di alun-alun Semarang." panggil Vino pada Sita, namun sang pujaan tak kunjung bangun, justru Renata terlebih dahulu membuka mata.


"Udah sampai ya kak?"


"Masih di alun-alun, terus ke mana?"


Renata membangunkan Sita, wajah murung kembali terlihat, semakin dekat saja mobil Vino ke rumahnya. Saat ini ia cukup menata hati untuk berlapang dada saat melihat jenazah sang adik, Ilyas.


Tes


15 menit dari alun-alun Semarang, di depan rumah yang sudah terpasang tenda, meskipun dini hari masih terlihat banyak orang yang begadang, terutama bapak-bapak.


Berkali-kali Sita menghembuskan nafas pendek, bibirnya bergetar menahan isak, ia juga meyakinkan dalam hati jangan sampai terlihat sedih, khawatir dengan keadaan ibunya yang pasti tepukul dengan peristiwa ini.


"Cempluk." Sapa Nek Mi, neneknya Sita begitu sumringah melihat rombongan cucunya datang, meski raut sedih kentara sekali di raut tuanya itu.


"Nek!" tumpah sudah air mata Sita dipelukan sang nenek, kedua wanita itu sesenggukan bersama. Renata, Ilma dan Elea juga mengusap air matanya. Tak tega dengan musibah di keluarga ini.


"Mari duduk, mbak, mas!" ujar perempuan berkerudung, mungkin salah seorang kerabat Sita pada mereka dengan ramah.


Kelima teman Sita duduk lesehan, membiarkan Sita berkumpul dengan keluarganya dulu. "Diminum, mbak, mas!" Ujarnya lagi dengan cangkir teh.


"Nggak usah repot-repot, mbak Sin." Ucap Elea yang sudah mengenal beberapa kerabat Sita.


"Gak pa-pa mbak El, kalian baru sampai loh!"


"Gimana kejadiannya, mbak?" tanya Elea mengawali obrolan.

__ADS_1


Mbak Sin menghembuskan nafas pelan, mengusap air mata yang jatuh sebentar lalu menceritakan kejadian sore itu.


Ilyas baru saja dari rumah Pak Sur, salah satu pelanggan di toko kelontong ayahnya Sita. Pak Sur itu memesan berbagai sembako untuk hajatan. Kebetulan dua pekerja toko libur, tinggal Idrus yang masuk. Dengan terpaksa Ayah Sita meminta tolong Ilyas untuk menemani Idrus mengantar pesanan Pak Sur.


Idrus dan Ilyas masing-masing membawa motor dan mengangkut segala pesanan Pak Sur. Saat pulang, Ilyas mau ke konter beli pulsa dan melewati jalan raya, ada jalan berlubang yang tertutup kubangan air, Ilyas melewatinya dan jatuh, di belakang Ilyas ternyata ada truk yang melaju kencang, dan kecelakaan pun terjadi.


"Bagian kepala yang terluka parah, mbak El!" jelas mbak Sin dengan tangisan.


"Ayo, kalian istirahat dulu, saya antarkan ke kamar tamu." Tawar Mbak Sin kemudian.


"Bu Mirah mana Mbak?" tanya Renata. Anak lorong memang cukup akrab dengan Bu Mirah, mamanya Sita, karena beliau sering mengunjungi Sita.


"Masih menemui keluarga dari Solo, Mbak. Baru datang kayaknya."


Mereka pun mengangguk, mengikuti arahan Mbak Sin, sedangkan Vino dan Jea ikut bergabung dengan bapak-bapak, begadang menemani jenazah.


******


Jam 7 pagi


Dengan baju putih dan pasmina yang diselampirkan di bahu, Renata tampak ayu. Dia, Elea dan Ilma duduk tak jauh dari Sita. Ketika melihat jenazah Ilyas untuk terakhir kalinya sebelum disholati, Sita hampir pingsan, tubuhnya lemas seketika. Sedangkan Bu Mirah hanya duduk sambil membaca surat Ya-Sin tak henti-hentinya.


"Sabar, Sut!" bisik Renata, Sita sekali lagi memeluk tubuh Renata dengan sesenggukan.


"Mari kita sholatkan!" Ucap Pak Mail.


Peziarah laki-laki segera mengambil posisi untuk menyolati jenazah, termasuk Jea dan Vino.


Setengah jam kemudian, Pak Mail mewakili keluarga memberikan pengantar berupa permintaan maaf atas kesalahan yang pernah Ilyas lakukan. Tangis haru menggema mengantarkan Ilyas di tempat peristirahatan terakhirnya. Lantunan tahlil terus berkumandang, hingga tiba di pemakaman.


Tak butuh waktu lama, prosesi pemakaman Ilyas berakhir. Pihak keluarga masih setia menemani Ilyas dengan duduk bersimpuh mendoakan anak kelas 1 menengah pertama itu.


"Maaf ya, Dek!" ucap Sita pilu, suaranya terdengar parau, tangis tak berhenti begitu saja. Elea, Renata dan Ilma tak henti-hentinya mengusap punggung Sita, memberikan kekuatan. Dia tak boleh terlarut dalam kesedihan, dia harus kuat ada ayah dan mamanya yang butuh dukungannya.


"Aku gak punya adik lagi mbak, hatiku sakit banget."


Duh....melihat kondisi Sita pagi ini sungguh menyedihkan, gadis cantik itu terus saja menangis, ucapannya terdengar sangat pilu. Berkali-kali ia mengucapkan maaf, gak punya adik, aku sendiri, sungguh menyayat hati.


Renata sebagai sandaran Sita hanya membalasnya dengan sabar, Sut. Begitupun dengan Ilma dan Elea yang terus saja menepuk pundak Sita, menguatkan gadis itu.

__ADS_1


"Pulang, yuk!" ajakan Vino membuyarkan sesi berpelukan Renata cs.


__ADS_2