CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
SESI CURHAT


__ADS_3

Malam ini, Renata dan Ola menginap di rumah sakit. Keduanya memang sengaja bermalam di RS, kasihan mama Ceca biar istirahat dulu. Toh sang pasien udah clamitan juga. Tanda-tanda sembuh deh.


"Gue lama-lama gak nyaman sama Wira." Ujar Ceca sambil mendudukkan badannya, menatap sahabatnya yang lagi goleran di sofa kamar.


"Kenapa?" Ola mencoba mengoreknya, padahal ia sudah menduga kalau Wira dan Ceca bakal merenggang.


"Setiap lihat Wira, gue ingat istri simpanan bokap gue. hik..hiks.." Ceca mulai menangis. Renata dan Ola langsung memeluknya erat.


"Nangis aja Ca sama kita, kalau itu bikin Lo lega." Renata mengelus lengan Ceca pelan.


"Udah jadi perjanjian kita kan, kalau suka bilang suka, kalau marah bilang marah. Kalian bisa ngomong baik-baik." Saran Ola, tumben benar neh cewek, biasanya selalu mode senggol bac*k.


"Mungkin dalam waktu dekat ini gue minta Wira jangan muncul dihadapan gue dulu, kalian bisa kan kasih pengantar ke dia."


"Lo kata ini skripsi pakai kata pengantar." Ketus Ola, mulai kan mode juteknya muncul.


"Ola aja, gue gak mau."


"Kenapa? biasanya Wira bisa diatasi sama Lo, kan soulmatenya."


"Sembarangan." Protes Renata sambil menonyor pipi Ola.


"Kayaknya gue juga harus jaga jarak sama dia."


"Kenapa?" Tanya Ola lagi.


Ehem...ehem...Renata berdehem, menatap kedua sahabatnya satu per satu. Maju mundur juga mau bilang tentang Jea, tapi mereka adalah sahabatnya, lagian ini kabar bahagia yang tak perlu ditutup-tutupi. "Kak Jea sudah menemui bapak gue."


"Apaaaaaa?" Ola dan Ceca teriak bareng.


"Jea yang barusan kirim pesan ke Lo? Renata memastikan.


"Bos di kantor magang Lo?" Ceca ikut memastikan.


Renata hanya mengangguk, "Kok kita baru Lo kasih tahu sih."


Hemmmm....padahal belum memberi penjelasan sudah dipojokkan. Apalagi kalau ditutupi dan mereka dengar dari orang lain, bisa gempar dunia padepokan.


"Gue mau cerita, jangan di potong, dengerin gue baik-baik." Pinta Renata yang diangguki oleh kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Malam itu, saat Ceca masuk RS, gue ditelpon bapak, gue disuruh pulang Minggu depan ada yang melamar gue, katanya anak Jakarta dan dia mengaku teman gue, bapak gak bilang siapa namanya, yang jelas dia memberikan tiket pesawat buat gue pulang kampung dan itu Jea, ketua KKN, dan gue baru tahu tadi siang."


"Lalu?"


"Gue menerimanya, dia sudah berniat baik dan langsung bertindak, besok gue diajak ketemu sama mamanya."


"Ya Ampun, Ta. Yakin loh terima? Kan kalian belum kenal lama, hanya di KKN kan?" Ola gemes juga dengan Renata, bagaimana mungkin keputusan untuk seumur hidup tanpa dipikir panjang.


"Ini buat seumur hidup loh,Ta!" Ceca juga tidak percaya dengan keputusan Renata.


"Gue tahu, tapi dengar suara bapak gue kayaknya bapak gue suka sama Jea. Merestui banget."


"Takut kali anaknya gak laku, secara anaknya gak pernah pacaran. Takut jadi perawan tua, makanya diterima langsung." Seloroh Ola tanpa tedeng aling-aling.


"Enak aja gini-gini gue banyak yang ngarep kali. Cantik gilaaa." Cetus Renata sambil mengibaskan rambutnya, sengklek.


"Gue penasaran sama Jea kayak apa sih?"


"Hemmm bentar." Renata mengambil ponsel dan mencari foto Jea yang ada di galerinya, lebih tepatnya foto bersama mahasiswa KKN dengan spanduk.


"Nih " Renata menyodorkan ponselnya. Ceca dan Ola langsung menatap foto itu, detik berikutnya tonyoran di jidat Renata muncul, "Kenapa foto yang ini dodol, foto seuprit gak kelihatanlah wajahnya. Ampun deh Renata Adzkiya oonwati." Omel Ola gemas.


"Hemmm lupa."


"Dasar Laviola Regita sok pinterisasi!" Ejek Renata memberi embel-embel nama Ola. Ceca tertawa ngakak, dua sahabatnya ini konyol level dewa, main ganti nama anak orang seenak jidatnya.


"Punya IG gak?" tanya Ceca. Mungkin karena dimasuki infus, otak cerdiknya berjalan juga. Renata segera mencari IG Jea, ada beberapa foto Jea sendiri, ha ...narsis juga ne cowok.


Renata memilih foto Close up Jea, berdasi dan berjas, sepertinya foto untuk daftar wisuda, he..he..he.


"Ganteng." Ucap kedua sahabatnya spontan.


"Dia seorang model dasi?" komentar Ola, Renata menggeleng.


"Model Jas?" tebak Ceca. Renata menggeleng lagi.


"Kok?"


"Ini foto daftar wisuda kali."

__ADS_1


Spontan saja bantal pasien mendarat cantik di kepala Renata, geblek. Maksud kedua gadis itu, Jea ini pekerjaannya apa, model kah, karena sangat tampan. Tapi Renata gagal paham.


"Kerja dia apa?" Ola sudah tak tahan, masalah kayak gini aja Lola minta ampun, tapi urusan kuliah nomor satu. Kok bisa sih????


"Putra tunggal Sanjaya Group."


"Sumpah????" Ola dan Ceca teriak. Kedua gadis yang dibesarkan di kalangan pengusaha cukup familiar siapa Sanjaya Group itu. Gila, calon mantu Pak Sanjaya, teman dekat mereka. "Pelet Lo kenceng, Ta." Ledek Ola.


"Wah sahabat kita jadi Nyonya CEO!" puji Ceca dengan nada mengejek.


"Sini sungkem." Titah Renata berlagak sombong. Ketiga gadis cantik sengklek semua. Hadeh.....


"Gue restuin!" Celoteh Ola kemudian. Ceca pun mengangguk, "Gue juga, daripada si Wira." Imbuhnya sinis.


"Gak boleh gitu, Ca. Wira juga sahabat kita, dan gue emang dari awal sudah menduga Wira gak akan berani melamar gue. Jadi, ada laki-laki baik, berani bersikap, ganteng, kaya, kenapa gue tolak."


"Baguuuuuuuuuussss, jadi cewek harus realistis. Gak usah deh ngomongin cinta doang, buat hidup, karena hidup juga butuh uang dan penampilan." Tutur Ola,


Dihh....prinsip apaan tuh, tapi ada benarnya juga sih. he..he..he...


Hampir tengah malam mereka asyik curhat, setelah Renata, giliran Ola yang membuat heboh dengan pengakuan ia akan kuliah S2 di luar negeri, hening seketika karena bagaimanapun mereka akan terpisah. Sempat ada tangisan dan rangkulan erat oleh Ceca dan Renata pada Ola.


Gadis ajaib dengan mulut tak berfilter punya sisi Sholehah juga, ia mau melanjutkan kuliah karena menuruti permintaan sang papa. Kata beliau, perusahaan akan diberikan pada Ola, otomatis Ola harus pintar dalam segala hal, terutama dalam inovasi dan pengambilan keputusan.


"Kapan Lo berangkat?" tanya Renata merusak suasana.


"Lo emang gak ada akhlak, Ta. Gue belum lulus kali."


"Ya kali aja dalam waktu dekat, Laaaa. Kalau gue ternyata nikah Minggu depan kan Lo bisa lihat gue jadi manten, ntar silahkan nyolong deh melati gue."


"Gebleg, Lo S1 kok cita-citanya nyuruh oang nyolong melati sih."


"Siapa tahu pengen dekat jodoh juga." Ledek Renata yang langsung dihadiahi pukulan bantal oleh Ola.


"KDRT woyyyyyy."


Ceca di ranjang pasien hanya geleng kepala melihat kelakuan calon sarjana itu yang sangat kekanak-kanakan, dan itu adalah dua wanita kesayangan Ceca. Andai saja tidak ada Renata dan Ola yang gesrek, mungkin hidup Ceca flat dan semakin frustasi dengan keadaan akhir-akhir ini.


"Makasih ya Allah karena Engkau mengirimkan mereka sebagai sahabatku, terimakasih." Doa Ceca sebelum mengajak mereka untuk tidur. Kalau tetap guyon bisa-bisa Ceca ditendang dari rumah sakit tengah malam.

__ADS_1


__ADS_2