
Jea mengumandangkan adzan dengan suara bergetar di liang lahat sang papa. Yah...papa sudah pergi tepat adzan shubuh berkumandang tadi pagi. Keluarga besar Jea kehilangan orang yang sangat ia cintai. Renata yang baru saja menjadi anggota baru keluarga Sanjaya sudah bisa merasakan bahwa papa mertuanya orang baik. Terbukti sejak sakit, Istri dan kedua anaknya begitu telaten dalam merawat dan menemani beliau hingga wafat.
Belum lagi para pelayat yang tak hentinya datang silih berganti usai pemakaman, menunjukkan bahwa papa memiliki banyak teman, dan selalu menjalin silaturahmi dengan berbagai kalangan. Rangkaian bunga mengucap bela sungkawa terus datang dari kolega Papa. Hilir mudik ART dan kerabat Papa dan mama menyapa para tamu. Belum lagi, kehadiran teman Jea dan Mita. Bahkan hingga tahlil akan dimulai, mama masih menerima petakziyah.
"Kamu belum makan dari tadi siang loh!" Renata mengingatkan sang suami untuk segera makan, karena terkahir Jea menyuap nasi usai pemakaman tadi pagi.
"Belum sempat." Jawabnya sambil menyesap teh yang dibuat oleh sang istri. "Kamu jadi ke kos ambil baju?"
"Gak jadi, udah WA Sita buat bawain bajuku. Nanti dia ke sini setelah tahlil mungkin." Jea mengangguk lalu kembali ke ruang tamu untuk mempersiapkan tahlil.
"Ki, enaknya ibu pulang nanti malam atau besok saja ya?" tanya Ibu yang baru selesai sholat maghrib, menghampiri Renata di ruang makan.
"Bapak gimana, Bu. Bisa gak izin sehari?"
"Kata bapak gak bisa, apa ibu di sini saja dulu?"
Renata berbinar, ditemani ibu di Jakarta ya mau aja. Apalagi statusnya sekarang seorang istri, ia ingin sekali meminta wejangan dari kanjeng maminya ini. Meskipun dengan drama penerawangan dulu, tapi beliau bisa dijadikan teladan dalam berumah tangga.
"Ta!" panggil Jea sambil berjalan ke arah Renata. "Ada anak KKN di depan."
"Hah? Trus aku mengaku apa?" spontan saja Renata mengkhawatirkan statusnya jika ditanya anak KKN.
Jea tertawa, lalu merangkul pundak sang istri dan berjalan beriringan, "Ya istriku lah." Ucapnya sambil mencium pelipis Renata.
"Yassalam, banyak orang loh, malu tahu."
"Halal." Ucap Jea dengan nada orang Arab. Dasaaaaarrrrr.
Benar dugaan Renata. Teman KKN langsung melongo melihat Renata dirangkul Jea, kok bisa?
"Loh Ta, kok ada di sini?" Agus yang pertama tanya, heran dan sedikit kaget dengan kehadiran Renata di samping Jea.
"Kenalin Renata Adzkiya, Nyonya Jea Andra Sanjaya." Jea usil juga, Agus sampai terbatuk mendengar pengumuman menyakitkan dari Jea. Meskipun sudah lama tidak bertemu dengan Renata, Agus masihlah seorang pengagum Renata.
"Biasa kali, Gus." Ujar Renata santai.
"Dih...jadi nyonya sultan, sudah jadi korban Jambak belum?" Ah Kikan bikin suasana riuh saja, ini niat takziyah atau reuni sih, bikin gak bisa berhenti tertawa. Mengingat kejadian saat KKN dulu.
"Wira patah hati dong." Celetuk Cipul.
"Dia gak ikut?" tanya Jea.
"Gak, gak bisa katanya. Aslinya gak ikut karena Renata gak bisa dihubungi, eh taunya Renata malah dikekepin sama pak Ketua." Celoteh Filza.
"Bahasamu Za!" Protes Renata karena masih risih dengan hal yang menjurus ke konten dewasa.
"Gue tahu...gue tahu!" Agus mulai berulah, "Kalian belum ngapa-ngapain kan?" tebaknya asal. Kulit kacang langsung dilempar ke wajah tengil Agus, Cipul, Rendy dan Kikan pelakunya.
__ADS_1
"Eh Tuan Agus, niat takziyah bukan ajang ndagel. Ayo ikut tahlil." Ajak Jea yang malam itu tampan sekali, menggunakan kemeja lengan pendek warna hitam dengan memakai sarung.
Di sisi lain, Renata diinterogasi Kikan, Filza dan
Helwa. Maafin anak mantu ya Pa, karena belum ikut tahlil, batin Renata.
"Kapan nikahnya?" Helwa yang memulai obrolan di ruang tengah saat itu. Mama Jea ikut tahlil begitu juga ibu Renata.
"Tadi malam."
Uhukk ...aneh, ketiga gadis itu tersedak bareng. Sepasang suami istri ini seneng banget bikin tamunya keselek.
"Kok bisa?" Kikan sudah tidak sabar dengan cerita Renata.
Renata pun menceritakan awal kedekatannya dengan Jea. Rencana lamaran dan kondisi papa saat itu. Kehadiran bapak dan ibu menambah mulus rencana itu. Sampai akhirnya ijab qabul di rumah sakit dan dini hari papa wafat.
"Cepet banget, Ta! Jodoh beneran ini mah!" Kikan berceloteh dengan gaya mendramatisir seperti ibu.
"Aamiin." Jawab Renata.
"Loh udah cinta sama Jea?" kali ini Helwa, calon dokter ini lembut sekali kalau bertanya.
"Cinta sih belum, masih belajar lah, orang aku gak pernah mikirin cowok, kan!".
"Bener juga sih, mau dilirik, dipandangi cowok diam-diam kamu mana peka." Cibir Kikan yang sudah tahu kebiasaan buruk Renata, kurang peka.
"Nyeseknya jagain jodoh orang!" ledek Renata.
"Sialaaannnnn."
Jea dan Renata masuk kamar pukul 10 malam, usai tahlil, teman Jea berdatangan. Mulai dari teman SD sampai kuliah. Belum lagi kehadiran Sita dan Vino yang tak hentinya menggoda Renata akan malam pertamanya sebagai seorang istri.
"Udah bobok bareng belum?" ledekan Vino pada Jea dan Renata.
"Cuekin aja, Yang!" males Jea meladeni Vino, tubuhnya ingin sekali istirahat karena sejak semalam mereka berdua belum tidur sama sekali.
"Habis ini gue ngungsi bobok aja, gak berani gue tidur sendiri." Keluh Neva yang mulai tadi malam sudah ditinggal Renata.
"Kak, emang aku gak boleh tidur kos?" sebuah pertanyaan unfaedah yang dilontarkan Renata.
"Gak boleh."
"Percaya deh yang mau kekepan terus. Ingat, Je. Masih berduka masa' iya buka kado."
Astaghfirullah Kak Vino, ini pembahasannya menjurus ke arah situ terus.
"Sut, yakin Lo mau dilamar doang, trus nikah setahun kemudian, bahaya tahu." Renata memprovokasi rencana lamaran mereka. Terlebih omongan Vino selalu mengandung konten dewasa, yakin tahan?
__ADS_1
"Padahal nikah enak Lo! Halal." Lagi-lagi Jea berlogat wan Abud. Ia mencium pipi Renata begitu saja, tanpa lihat situasi.
Kulit kacang langsung dilempar Vino ke arah Jea, "Gak ada akhlak Lo."
"Mbak gue yang polos tercemar sudah." Sita pura-pura sedih melihat Renata tampak pasrah dicium sang suami.
"Kakaaaaaaakkkk." Rengek Renata kesal. Ia malu lah dari tadi dicium Jea di sembarang tempat. Mama pun sempat mencubit Jea hingga berbekas, beliau gemes dengan kelakuan Jea yang main nyosor saja.
"Kalau gak tahan sana semedi di kamar."
Drt .drt....Wira memanggil. Posisi hp Renata berada di samping Jea, sedangkan si empunya masih mengambil air di dapur. Getaran ponsel Renata berbunyi terus, tidak ada niatan untuk mengangkat ponsel sang istri, karena bagaimanapun ponsel adalah barang privasi istri.
Nanti kalau sudah ada kesepakatan, terutama masalah ponsel barulah ia berani mengangkat telpon yang masuk.
"Kenapa gak diangkat?" tanya Renata yang membawa segelas air.dan diletakkan di meja rias.
"Dari Wira, takut kejer kalau aku yang angkat."
"Bisa aja si tuan!" ledek Renata sambil tersenyum, ia mengangkat sambungan ketika ponselnya berbunyi yang kelima kalinya.
"Halo?" sapa Renata, ia juga meloudspeaker, sengaja agar Jea juga mendengar, meskipun suaminya itu sibuk juga dengan ponselnya.
"Ta, bener gak apa yang di group KKN?"
"Tentang?"
"Lo nikah sama Jea?" terdengar suara seraknya, benarkah ia menangis.
"Oh itu. Iya gue udah nikah sama Jea."
"Jangan ngeprank Lo, Ta! Gak lucu."
Jea hanya menahan tawa, konsentrasi pada chat teman-temannya diabaikan, ikut nimbrung dengan obrolan istrinya.
"Ngapain gue ngeprank."
"Gue gak percaya!"
Tut..
Wira mematikan sambungan. Renata heran dong, ia kira akan menjelaskan hingga detil pernikahan ini terjadi. Eh ternyata cuma marah gak jelas gitu aja, dasar Wira Sableng.
Baru saja, Renata akan beranjak dari kasur, Wira melakukan panggilan video. Jea tahu itu. "Angkat aja." Jawabnya datar.
Renata menurut saja, ia tidak mau bertengkar dengan Jea gara-gara salah paham dengan Wira. Ia akan terbuka tentang apapun, termasuk Wira. Tombol video digeser Renata. Panggilan Video berlangsung, Jea sengaja mengambil ponsel Renata dan cup...lagi, Jea mencium bibir ranum Renata.
"Brengseeeekkk." Wira emosi melihat adegan itu.
__ADS_1