
Setelah pengambilan data selesai, kini Renata mengisi kesibukan liburan semester ganjil dengan analisis data penelitian. Masuk bab IV analisis dan pembahasan. Dia menyusun bab itu dengan sangat teliti, membandingkan hasil uji coba dan hasil penelitian di lapangan.
Hampir tiap hari ia berdiam diri di kamar. Jarang sekali ke kantor Jea. Ya meskipun saat makan siang kadang masih disuruh menemani bos muda itu makan di kantornya.
Lembur? pastinya. Kadang setelah melakukan tugas sucinya sebagai istri, ia kembali berkutat dengan laptop, kembali mengerjakan bab analisis itu.
"Kamu sakit?" tanya Jea setelah sholat shubuh, pagi itu mereka tidak berjamaah karena Renata lebih dulu sholat, sedangkan Jea susah bangunnya, dan sekarang Renata malah kembali berselimut tidak seperti biasanya.
"Enggak, cuma lemes dan agak pusing."
"Kebanyakan lembur kamu, lagian kan masih liburan gak usah ngoyoh lah garap skripsinya."
"Aku pengen cepat selesai, sudah muak dengan skripsi."
Jea tertawa, kadang rasa jenuh saat bergelut dengan skripsi memang ada, apalagi mahasiswa yang skripsinya susah, pasti ingin mengakhiri saja, seperti istrinya.
"Gak panas!" ujar Jea saat menempelkan tangannya di dahi Renata. "Aku antar ke dokter aja, ya?"
Renata yang sedang berbalut selimut hanya menggeleng. "Aku cuma pengen tidur. Maaf ya, gak aku siapin sarapannya."
Yah...tubuh Renata benar-benar lemas. Matanya saja sudah merem, Jea keluar kamar pun ia tak tahu.
"Ma, Renata sakit, dia belum bisa ikut sarapan." Jea memberi tahu kondisi Renata.
"Sakit apa?" tanya Mama kaget, beliau pun tak jadi mengambil nasi langsung ngeloyor naik tangga. Jea yang mau menjawab hanya mangap saja. kekekkeke.
"Perasaan kalau aku sakit gak segitunya deh!" protes Mita, cemburu dengan sikap mama yang kelewat protektif dengan Renata daripada dirinya.
"Lo kurang cantik, kurang imut, kurang lucu. Gak kayak istri gue."
"Ngomong sama tangan, gini-gini gue adik Lo."
Jea mencibir Mita. Masih gak rela juga punya adik yang kelewat jauh umurnya, Jea hampir 24 tahun, Si Mita masih 13 tahun. Jea pikir dia akan menjadi anak tunggal setelah kepergian sang kakak, Wijaya. Ternyata tidak.
Sepanjang hari, Jea mengirim pesan pada Renata tapi tak kunjung dibalas, WA mama jawabannya masih tidur ,gak usah khawatir, ada mama. Perasaannya khawatir dengan kondisi Renata, tapi pekerjaan yang menumpuk tidak bisa ditinggal begitu saja. Belum lagi ada meeting setelah makan siang.
__ADS_1
Ting
Lagi fokus kerja, pesan Renata membuat Jea tersenyum lebar.
/Aku mau nyalon dan jalan ke mall sama anak kos, udah dijemput juga/
"Lah tadi katanya masih tidur, kok sekarang izin nyalon." Gumam Jea heran.
/Udah sehat?/
/Udah/
/Naik apa?/
/Motoran/
Jea spontan mendelik, ia langsung menelpon sang istri yang cukup sembrono, tadi pagi lemas minta ampun sekarang mau jalan-jalan.
"Assalamualaikum, iya, Yan?" sapa Renata tepat sebelum naik motor. "Bentar suami gue telpon." Lanjutnya pada Neva yang biasa menjadi sopir baginya.
"Waalaikumsalam, lah bener mau jalan. Katanya sakit?"
"Hati-hati, kalau ada apa-apa langsung telpon. Nanti aku jemput."
"Oke, aku jalan dulu. Mmuuahh."
Renata menutup sambungan telpon dan langsung naik motor bersama Neva. Sudah lama sekali mereka tidak jalan bersama. Naik motor keliling kota, mampir ke mall hanya untuk beli es krim, atau ke time zone sekedar pukul tikus. Renata kangen akan hal itu.
Masa kesendiriannya memang telah usai, bagaimanapun keadaannya, Renata harus sadar ada suami yang butuh perhatiannya. Tujuan mereka ke salon. Sekedar creambath dan facial doang. Setelah nyalon, sudah merasa fresh, mereka jalan ke mall, sekedar windows shopping alias cuci mata. Makan takoyaki, jamur crispy, siomay, dan ceker pedas, semua dicoba, saling incip ala anak kos, Renata yang traktir siang itu.
Petaka muncul saat mereka mau masuk ke bioskop. Sita yang sudah beli tiket via aplikasi dikejutkan dengan Renata yang tiba-tiba berlari ke toilet terdekat. Neva pun mengikutinya. Panik.
Renata mengeluarkan semua jajanan yang ia makan tadi sampai cairan kuning. Wajahnya pucat, badannya lemas. Neva memijat tengkuknya sedangkan Sita mengelap bibir Renata dengan tissu.
"Mbak, Lo sakit apa sampai kayak gini?" Sita khawatir juga dengan kondisi Renata, setelah membantu mengelap mulut mantan mbak kos nya, segera menghubungi Kak Vino.
__ADS_1
"Kita cari tempat aja yuk, minum teh hangat dulu ya, Ta!" Neva memberi saran, mereka pun memapah Renata.
Saking lemasnya kepala Renata hanya bertengger lemah di atas meja, wajahnya pucat.
"Lo si kebanyakan makan tadi, Ta!" oceh Neva sambil mengelap keringat dingin yang keluar di pelipis Renata.
"Diem bawel, kepala gue pusing."
"Kak Vino udah hubungi suami mbak." Sita menyimpan ponselnya setelah menghubungi Vino. Keduanya membiarkan Renata terlelap dengan kepala yang masih lemah di atas meja.
"Gimana bisa jadi gini?" Jea sudah datang dan melihat istrinya terkulai lemah, Sita dan Neva hanya saling pandang, melempar tatapan agar menjelaskan pada Jea.
"Renata makan banyak tadi, jamur crispy, ceker pedas, banyaklah pokoknya. Habis itu kita mau ke bioskop dia muntah. Lemes deh." Neva yang akhirnya menjelaskan kronologi Renata bisa lemah begini.
Jea mengelus pipi Renata, pucat sekali istrinya ini. "Sayang bangun, yuk. Ayo pulang."
Renata mulai mengerjapkan mata, tersenyum lemah melihat suaminya sudah di depan mata. "Kuat jalan?" tanya Jea lagi, saat Renata sudah bisa mengangkat kepala.
Renata hanya mengangguk lemah. Jea merangkul pundak Renata sembari membawa tas ransel mini milik istrinya. Neva dan Sita menahan tawa melihat seorang Jea membawa tas ransel mini, warna pink pula. Astaga.
"Kalian pulangnya gimana?" tanya Jea pada dua sahabat istrinya yang setia mengekori Renata.
"Kita naik motor tadi." Jawab Sita.
"Ya udah, terimakasih yah. Kita pulang dulu." Pamit Jea.
"Kapan-kapan gue traktir deh, maaf ya!" Ucap Renata dengan menurunkan kaca mobil.
"Gampang, kabari kita kalau sudah sampai rumah." Neva memegang tangan Renata sebelum pasangan muda itu pergi.
"Tidur aja, nanti kalau sudah sampai rumah aku bangunin." Jea memegang kepala sang istri, cukup tegang juga melihat wajah pucat Renata. "Apa kita ke rumah sakit aja?" tawar Jea kemudian.
"Gak usah, kayaknya aku masuk angin aja." Jawab Renata lemah. Jea menghela nafas pendek, istrinya ini susah sekali kalau diajak ke dokter, selalu menyepelekan.
Pernah saat dia salah makan, bahkan sampai keluar bentol merah dengan entengnya dia menggeleng untuk ke dokter dan hanya minum air kelapa hijau. Ajaib...esok harinya bentol merah hilang.
__ADS_1
"Kalau besok masih lemes, langsung ke dokter."
Renata mengangguk saja, entahlah untuk kali ini ia tidak bisa memprediksi apa yang terjadi pada tubuhnya. Tidak pernah Renata mengalami seperti ini. Pusing, lemah, mual, padahal ia tidak makan yang aneh-aneh sebelumnya.