
Moment wisuda tidak afdhol bila tidak berfoto ria. Banyak stand foto dan aneka souvernir untuk wisudawan. Mita yang tadi tidak masuk gedung, dititipkan Renata ke anak kos, karena ada Neva dan Elea yang hadir di sana dan bernasib sama, tak bisa masuk ke gedung. Renata sudah meminta Mita untuk membeli buket snack, boneka dan bunga untuk Jea. Tak lupa catatan manis di kartu ucapan yang tertulis
Happy Graduation my lovely Jea
With ❤️
Renata Adzkiya
"Romantisnya istriku!" ucap Jea ketika diberi aneka buket sambil mencium kening sang istri di depan mama, adik dan sahabat istrinya. Mereka hanya memutar bola mata malas melihat keromantisan keduanya yang tak tahu tempat.
"Ayo foto!" tegur mama yang langsung melipir ke area stand foto. Beliau masih memilih background apa yang cocok.
"Kenapa gak di studio aja si Ma?" rengek Mita yang mulai kepanasan dan bosan karena sudah menunggu lama.
"Eh...wisuda kalau gak foto di sini kurang afdhol, iya kan Pak!" Ceplos mama yang langsung diangguki tukang fotonya.
Mita mendengus kesal, ya iyalah tukang fotonya mengangguk cari konsumen. Mama dan Mita ribut, Jea dan Renata selfie berdua. Malas sebenarnya, hanya saja istrinya ini sadar kamera banget, sayang kalau galeri ponselnya kosong.
"Mbak, Gak ngucapin selamat buat mas Ibam?" tanya Elea yang tiba-tiba muncul dengan kekasihnya, Ibam.
"Selamat ya kak, semoga bermanfaat ilmunya dan segera nikahin sahabat aku." Ucap Renata sambil tersenyum serta menyenggol lengan Elea.
"Aamiin, terimakasih. Insyaallah." Jawab Ibam ramah. Ia pun pamit sebentar untuk menemui orang tuanya yang sudah menentukan background foto wisudanya.
"Selfie yuk," ajak Renata pada Neva dan Elea, melupakan suaminya yang lagi ngobrol sama teman-teman yang terlambat lulus juga.
"Sayang, ayo!" Jea mengajak Renata ke arah mama dan Mita. Renata pun pamit pada kedua sahabatnya.
Mama memilih background rak buku, giliran pertama Jea terlebih dulu foto sendiri. Foto kedua mama, Mita dan Jea, foto ketiga Jea dan Renata, Foto keempat mama, Mita, Jea dan Renata, foto kelima dan keenam Mita dan Jea dengan pose bebas.
"Mas, ada background yang kayak pantai gak, atau background yang cocok untuk lamaran gitu?" tanya Renata, Jea heran kenapa ide istrinya ini out of the box.
"Nanti diganti aja mbak, bisa diedit kok."
"Foto ala lamaran yuk. Anggap aja lamaran kita." pinta Renata dengan memegang lengan Jea.
Entah mengapa, Jea tersentil dengan permintaan sederhana Renata itu. Ia sadar, dalam pernikahannya tidak ada proses lamaran dan seserahan. Membelikan cincin nikah saja baru beberapa minggu kemarin. Saat akad nikah pun, Renata hanya berbalut mukenah, tidak ada kebaya berbalut payet indah, hanya mata sembap dan wajah sayunya.
Renata yang masih sempat mencari pose lamaran di Instagram langsung meniru pose itu, dan meminta Jea mengikuti gambar tersebut.
Cekrek
__ADS_1
Cekrek
Satu foto lamaran ala Renata diambil dari kamera fotografer, dan satu lagi dari ponsel Renata.
Renata puas dengan hasil jepretan di ponselnya, Jea langsung mencium puncak kepala istrinya.
"Eh..di tempat umum tau!" protesnya sambil cemberut.
Jea merangkul pundak sang istri, mengekori mama dan Mita menuju parkiran. "Minggu depan kita resepsi.
"Eh." Renata menoleh kaget.
******
Mungkin karena anak pertama
Mungkin jiwa bos sudah melekat dalam jiwanya
Mungkin ia ingin membahagiakan istrinya
Keinginan Jea untuk mengadakan resepsi benar-benar tidak bisa diganggu gugat. Alasan yang selama ini dipakai Renata untuk mengadakan resepsi pernikahan tidak ditanggapi Jea lagi.
Hanya Renata yang diam, bahkan Mita sudah woro-woro di grupnya bahwa Minggu depan ada makan gratis, tempat menyusul ya guys, begitu pesan di group WA nya.
"Kenapa sih, cemberut gitu?" tanya Jea pura-pura tidak tahu, ia mencium pipi Renata tapi ditahan dengan telapak tangan Renata.
"Aku kan udah bilang, gak usah resepsi..Aku tuh gak suka dipajang gitu."
"Pakai masker aja nanti kalau wajah kamu gak mau terpampang."
"Difoto dimasukkan koran ujung-ujungnya jadi bungkus nasi goreng. Melasnya!" sindir Renata. Jea jelas tertawa ngakak mendengar ocehan istrinya. Iya juga ya, masuk koran cuma sehari, hari berikutnya sudah jadi bungkus nasi goreng.
"Anggap aja buat acara keluarga dan teman dekat sayang. Berbagi kebahagiaan biar dapat doa buat pernikahan kita."
"Tumben bijak. Bukan untuk ajang pamer pada cowok-cowok yang naksir aku kan?" tanya Renata curiga.
"Itu alasan nomer dua. Dah ah, ayo bayar janji."
"Bentar, resepsi gak usah mewah-mewah. Baju pengantin sewa aja gak usah bikin."
"Urusan mama."
__ADS_1
"Catering juga, menunya gak usah banyak-banyak."
"Urusan mama."
"Souvernir harga lima ribu sampai sepuluh ribu aja."
"Urusan mama."
Renata memukul lengan sang suami, "Semua urusan mama, yang resepsi kita apa mama?"
Jea meletakkan tangan Renata ke atas kepalanya agar mau dielus, "Aku gak mungkin urus ini itu, kamu juga gak bakal mau repot. Ya udah mama aja, toh kalau gak sesuai konsep mama bakalan ngomel juga."
Renata masih cemberut, Jea mendongak memandang wajah cantik istrinya. "Kamu tuh aneh, biasanya perempuan punya konsep pernikahan impian, tapi kamu malah gak mau resepsi."
"Aku tuh sayang banget uang dibuat resepsi, apalagi kamu dan mama, mana mau barangnya receh-receh. Menurut konsep aku tuh, mahar gak usah mahal-mahal, yang penting bulanan besar, termasuk resepsi.yang sederhana saja." Ucapnya diiringi cekikikan, terkesan matre.
"Kayak kredit motor dong, DP 0 rupiah, bulanan enam ratus ribu."
Renata tambah tertawa, tahu dari mana coba anak sultan ini urusan kredit motor. "Ya udah biaya resepsi maksimal 10 juta aja."
Jea langsung bangun dari rebahannya, memegang dada, pura-pura kaget. "Itu mah baju kamu aja."
"Astaghfirullah, udah gak usah resepsi. Ya...ya...! Sayang uangnya. Beneran ya Allah, emang dipikir uang tinggal petik."
"Sekali-kali deh, Yang."
"Ya iyalah sekali, emang kamu mau resepsi nikah berapa kali?"
Sepertinya Jea salah ucap nih, gawat. Acara kekepan bakal gagal, ah...tidak!
"Udah ah, bayar janji, katanya habis wisuda, ini udah lebih dari habis wisuda loh." Ucap Jea mulai membuka baju Renata tapi selalu ditepis.
"Lagi halangan."
"Gak percaya!" Jea tak mau kalah, toh tadi isya masih sholat, ia mulai menarik-narik baju Renata yang dipegang erat.
"Beneran!" Renata tak kuasa menahan tawa dengan tetap memegang bajunya agar tidak dilepas paksa oleh Jea.
"Bohong dosa!"
Renata masih tertawa. "Biar aku periksa!" Cicit Jea dengan usaha kerasnya, dan Renata bisa apa selain pasrah. Tenaganya kalah jauh dengan singa yang menahan lapar selama enam hari itu.
__ADS_1