
Tok...tok...tok...
"Siapa?" tanya Jea. Memang sengaja ia mengunci pintu ruangannya, agar dua makhluk jadi-jadian yang berstempel sahabat sang istri tidak masuk ke dalam ruangannya.
"Saya, Daffa!" asisten pribadinya itu bersikap formal jika di wilayah kantor. "Bawa dua tahanan yang bikin emosi." lanjutnya, dan berhasil membuat Renata dan Jea tertawa ngakak.
Renata membuka pintu ruangan Jea, tampak Daffa menyandarkan kepalanya di kepala, sangat jauh dari kata asisten tampan, wajahnya sangat mengenaskan. Renata jadi penasaran apa yang telah dilakukan sahabat somplaknya itu.
"Dia kenapa?" bisik Renata ketika dua sahabatnya sudah duduk di sofa, dan Daffa menuju meja kerja Jea.
Baik Ola dan Ceca hanya mengedikkan bahu, perasaan hasil sketsa dan penjelasan deskripsinya tadi baik-baik saja, eits...lupa beberapa pertanyaan dari Daffa tidak terjawab juga sih, semakin membuat sang asisten tidak yakin akan proyek Ola.
"Ya kalau ada yang percaya sama bisnis Ola, berarti gak waras, Ta!" Ceca sepertinya mulai membuka perdebatan.
"Lah kalau Jea di deal sama proyek gue, dia gak waras dong." Ola mencibir.
"Sembarangan bilang suami gue gak waras." Renata tak terima.
Daffa hanya melihat tingkah ketiganya, mendengus kesal hingga Jea cekikikan menatapnya.
"Gimana?" tanya Jea pelan. Saatnya dia mendengar penjelasan Daffa.
"Cukup sekian terimakasih." Daffa menyerah.
"Enak aja, lanjutkan! Itu tugas kamu."
"Jadi bapak fix jadi investor di perusahaan papanya cewek itu?"
Jea menggeleng, ia sudah mempelajari perusahaan papa Ola yang sebentar lagi tinggal nama, orang tua Wira hanya menjadikan perjodohan ini sebagai batu loncatan untuk menguasai perusahaan Ola, setelah itu..kick .. keluarga Ola bangkrut.
"Jadi?" Daffa masih belum paham karena untuk hari ini otaknya mendadak minimalis seperti Ola.
"Bantu wujudkan proyek imajinasinya."
"Lo ngeprank kan?" Daffa memastikan, berharap apa yang diucapkan pak bos rese' itu hanya candaan semata.
Jea menatap Daffa horror, dan itu sudah cukup sebagai jawabannya. Daffa berbalik hendak keluar ruangan, "Gak usah balik, habis ini kita jalan ke mall, temenin gue."
"Bunuh gue sekalian bos." Daffa langsung mendudukkan tubuh rapuhnya di kursi depan meja kerja sang bos.
Dua cowok necis dengan kemeja kerjanya tanpa dasi dan jas, mengekori tiga gadis sengklek. Ingat dua cowok itu adalah petinggi perusahaan yang hanya berperan baby sitter bagi ketiganya. Mengenaskan.
"Eh ini lucu, udah lama loh kita gak beli baju gini." Ceca mulai kalap, melihat baju couple ala dedek emes koreyah. Renata yang sekarang horang kayah, mengambil kaos couple yang bisa dipakai dengan sang suami.
"Pasti nolak. he..he." Gumam Renata masih memilih aneka motif baju couple dengan membayangkan ekspresi kesal sang suami nantinya.
Daffa dan Jea dengan sangat terpaksa hanya duduk di bangku depan toko, lebih baik bermain ponsel daripada mengekori mereka.
Hampir setengah jam mereka berkutat di outlet baju unyu itu, tapi masih belum selesai. Daffa sesekali menatap ketiga gadis yang masih heboh memilih padahal tumpukan baju sudah penuh di keranjang bawaan mereka.
__ADS_1
"Bos, istri Lo dan teman setengah jadinya gak kira-kira kalau belanja."
Jea melihat istrinya sebentar setelah mendengar ocehan Daffa. "Biarin, gue gak pernah ajak dia jalan, biar belanja sepuasnya."
"Gue heran bos, kok bisa Lo cinta mati sama gadis sengklek gitu."
"Sembarangan, Lo gak tahu aja sisi baiknya dia,"
"Cih...susah memang ngomong sama orang yang bucin parah."
Jea tak menanggapi, pergerakan beberapa nilai sahamnya lebih menarik daripada ocehan Daffa.
"Habis ini ke mana bos, mereka sudah di kasir."
"Terserah, paling juga kalau gak nonton ya makan."
Daffa mendengus kesal, masih lama ternyata berdekatan dengan dua gadis kupret itu. Hufh...mimpi apa dia semalam sampai mendapat hadiah 'spesial' seperti ini.
"Yang, udah!" Renata dengan senyum cerianya membuyarkan fokus Jea pada ponselnya.
"Mau ke mana lagi?" Tanya Jea sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana, lalu mengambil kantong belanjaan istrinya.
"Makan aja ya guys," ajak Renata yang disetujui kedua sahabatnya. Jea mendahului mereka sambil merangkul pundak Renata, tak membiarkan istri tercintanya dikuasai dua gadis setengah waras di belakangnya.
Pandangan kedua gadis pada kemesraan Jea dan Renata membuat mereka terdiam. Mereka tak juga melangkah, meski Daffa sudah menjauh dari keduanya.
"So sweet banget sih." Cicit Ola.
"Kalian gak ikut makan, cepetan!" suara ketus berhasil membuat keduanya melangkah dengan pasrah.
Makanan Jepang dipilih Renata kali ini, sebenarnya ia ingin makanan Korean grill tapi apa daya sang suaminya menolak keras.
Jea dengan telaten menyuapi apa yang dia makan ke istrinya, begitupun dengan Renata. So sweet pokoknya. Gak ada akhlak juga, pamer kemesraan kepada tiga orang jomblo di depan mereka yang makan dengan kikuk.
"Kalian kenapa?" tanya Renata menyadari ketiganya hanya diam, terlebih kedua sahabatnya yang biasa koar-koar kini kincep. Sangat aneh.
"Gak pa-pa!" jawab Ketiganya kompak.
Jea yang sedang asyik mengunyah langsung berhenti dan saling tatap dengan Renata, kompak bener????
"Makanannya gak enak?" tanya Renata lagi.
"Enak kok!" jawab Ketiganya kompak lagi.
Renata dan Jea mengernyitkan dahi, sumpah bingung. Ada apa dengan ketiganya.
"Kalian sakit?" oke pertanyaan ketiga untuk mengetes mereka lagi. Kalau sampai menjawab kompak lagi, fix ..mereka ada apa-apa..
"Enggak." Lagi mereka menjawab kompak dengan ekspresi yang hampir sama.
__ADS_1
Clek
Sumpit Jea dilepaskan begitu saja. Ia menatap Daffa, karena asistennya itu bertingkah sangat aneh.
"Kalian kenapa sih? kompak amat. Kesambet apa?" Renata mulai khawatir.
"Kalian sweet banget, berasa kita obat nyamuk." Cicit Ola sambil mengunyah makanannya pelan.
"Nyadar juga." Ketus Jea yang langsung mendapat senggolan lengan dari Renata.
"Kok bisa sih kalian mesra banget, padahal langsung nikah tanpa PDKT." Ceca penasaran.
"Makanya gak usah pacaran, nikah dulu baru pacaran setelahnya." Jawab Jea dan langsung mencium pipi sang istri. Membuat Daffa langsung melempar tissu pada bos setengah warasnya itu.
"Restoran woy....jangan mesum." Teriak Daffa kesal, tapi Jea hanya tertawa tanpa dosa dan melanjutkan makannya.
"Kak Daffa setipe deh kayaknya sama kak Jea, bos dan asisten biasanya kan sifatnya hampir mirip kayak di novel-novel gitu." Ola menoleh ke arah Daffa, dan menatap pemuda itu lekat.
"Trus?" Bukan Daffa tapi Renata yang penasaran.
"Kak Daffa kan jomblo, gak mau gitu sama aku. Gak rugi kok kalau kita nikah kayak mereka."
Uhuk....
Jea, Renata, dan Daffa tersedak bersamaan. Ceca langsung tertawa ngakak. Karena Ola duduk di samping Daffa spontan menepuk punggung Daffa sedikit keras dan menyodorkan segelas air. Mendapat perlakuan seperti itu, batuk Daffa semakin menjadi, wajahnya merah, air mata pun sampai keluar.
Ola yang somplak, terus saja menepuk punggung Daffa semakin keras. Ceca malah tertawa ngakak, hingga tangan Daffa terangkat, menandakan kalau dirinya tidak apa-apa.
"Baru ditembak gue aja respon kak Daffa begitu, apalagi gue lamar kakak." Ola masih memasang wajah tembok.
"Eh dodol, yang harus melamar tuh cowok bukan Lo!" Renata langsung menonyor kening Ola, dan si korban hanya cengengesan , sambil mengunyah sushi.
"Dilamar tuh Daff, biar gak jomblo." Cicit Jea jahil.
Daffa yang sudah menetralisir emosinya, hanya mendengus kesal, menatap tak suka pada pasangan gak ada akhlak di depannya.
"Gimana kak Daffa?" tantang Ola. Sumpah nih cewek gak ada jual mahalnya sama sekali.
"Ola baik kok kak, kaya, cantik," Renata mempromosikan sahabatnya.
"Plus setengah waras." Lanjut Daffa kesal.
"Ecie....udah tahu sifat gue nih, dah yuk lanjut ke KUA!"
" Amit-amit." Celoteh Daffa tambah kesal.
"Jangan benci-benci Lo sama gue, ntar naksir."
"Cuih...gak bakal."
__ADS_1
"Cie..tolak di mulut terima di hati, cie!" sumpah Ola tidak tahu malu.
"Seraaaahhhhh."