
Malam tiba, paper bag belanjaan Renata belum dirapikan. Hanya diletakkan di sofa. Sedangkan Renata sudah terpaku pada layar laptop usai sholat Maghrib tadi, Jea memberi kabar kalau pulang jam 9 atau gak jam 10 malam. Ya setelah belanja, Renata memilih pulang saja. Capek, dan bosan kalau di kantor Jea.
Ceklek
Jea membuka pintu kamar, ternyata dia pulang lebih cepat, setengah 9 sudah bertengger di depan kamar.
"Belum tidur, Yang?" sapanya saat sang istri menoleh ke arahnya.
"Belum!" jawab Renata sambil memeluk sang suami. Malam itu dia begitu kangen dengan Jea.
"Aku masih bau loh," Jea sengaja menggoda sang istri, karena biasanya jika Jea yang langsung memeluk Renata setelah pulang kantor pasti diprotes dan disuruh mandi dulu. Tapi kini, see....sang Nyonya malah mengeratkan pelukan dan menghirup aroma dari tubuh Jea.
"Gak pa-pa, masih wangi kok!"
"Dih ...parfum orang ganteng ma tahan sampai tiga kali dua puluh empat jam."
"Cih....gak sekalian saja setahun pak!" ledek Renata dan mengendurkan pelukannya. Keduanya duduk di sofa, Renata masih memeluk sang suami, sedangkan Jea mulai membuka kancing kemejanya.
"Tadi belanja apa aja?"
"Baju hamil sama celana hamil." Renata beranjak, mengambil paper bag belanjaannya. "Maaf ya aku kalap."
Jea mengacak rambut Renata sebentar, lalu mencium bibir sang istri sekilas. " Gak pa-pa, aku mandi dulu." Ucapnya sambil mencium kening sang istri lalu ke kamar mandi. Renata dengan telaten mengambilkan piyama Jea, lalu berkutat Kembali ke laptop.
"Bimbingannya tadi bagaimana?" tanya Jea dengan mengeringkan rambutnya. menggunakan handuk kecil. Karena tak mendapat jawaban, Jea mengusili Renata dengan menaruh bekas handuk di kepala Renata.
"Ih....kamu!" kesal Renata sambil memukul paha sang suami.
"Lagian ditanya gak jawab."
"Aku lagi fokus sayang, bulan ini harus selesai. Biar bulan Februari bisa ujian. Doakan aku ya!"
Jea mencium pipi Renata sekilas, "selalu aku doain sayang, biar selesai dan kamu segera fokus ke kehamilan kamu."
Jea memcium perut Renata, seolah menyapa bayinya. Tidak menyangka sama sekali, usia belum genap 25 tahun dia akan menjadi seorang bapak. Bertambah lagi tanggung jawabnya dalam waktu dekat ini.
Setiap selesai sholat, ia selalu berdoa agar keluarganya selalu sehat terutama istri dan bayi dalam kandungan Renata. Melihat Renata yang muntah sampai wajahnya pucat, Jea sangat tidak tega. Tidak ada obatnya kah? kasihan sekali. Terlebih Renata masih menyusun skripsi tentu butuh tenaga ekstra untuk menjalaninya.
Sebisa mungkin, sebelum tidur Jea selalu membuatkan susu hamil untuk Renata, meskipun istrinya itu tidak pernah menghabiskannya, karena memang Renata tak suka susu. Ia lebih memilih jus buah daripada susu.
Bersyukur juga masih ada mamanya yang membantu Jea dalam mengawasi Renata. Mama Jea cukup telaten membuatkan kacang hijau, atau jus buah. Apapun yang menyehatkan dan alami, mama Jea selalu menyediakan untuk menantunya. Kadang saat melakukan video call dengan bapak dan Ibu, Renata tak malu nemplok manja dengan mama Jea, ditambah Mita yang juga ikutan nemplok, sampai ibu Negara iri bahkan sampai menangis karena Renata begitu disayang oleh mertuanya.
"Eh bentar!" cegah Jea saat keduanya sudah merebahkan di ranjang, Renata bermain ponsel membuka satu per satu pesan yang belum terbaca, terutama saat belanja tadi siang. " Wira dan Ito ngapain kirim pesan ke kamu?"
"Gak tahu." Jawab Renata yang mulai membuka pesan Wira. Benar ternyata Wira mengomentari status fotonya di outlet baju hamil tadi siang.
/Selamat Ta, bahagia selalu sama Jea. Cepet banget udah mau kasih ponakan/
"Dih..siapa juga yang mau angkat dia jadi paman." Jea menggerutu saat membaca pesan itu, Renata hanya cekikikan. "Ini lagi, kunyuk satu ikut-ikutan." Ganti menatap horor pada pesan Ito.
/Selamat, sehat-sehat terus ya Bumil/
"Dih..sok kenal sok dekat banget si duda ini." Lagi, komentar julid ala Jea, dan Renata hanya cekikikan.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih cekikikan dari tadi? bahagia banget di WA cowok-cowok itu."
Cup
Renata mencium bibir Jea sekilas, "Aku tuh lagi menikmati suamiku yang lagi cemburu."
Jea memeluk tubuh ramping istrinya, menatap kedua manik mata dari mata bulat Renata. "Kamu hamil tambah cantik sayang."
"Makasih."
"Kamu gak asik ah."
"Loh kenapa?" kok mendadak Jea jadi sensi gini.
"Aku tuh gak muji kamu, tapi aku tuh khawatir."
Renata mengerutkan dahi, gak muji? kok malah khawatir? Otak Renata belum sinkron nih. "Maksudnya?"
"Kamu hamil tuh tambah cantik, pasti banyak yang naksir kamu lagi. Tuh dua cowok udah wa kamu. Bilangnya sih selamat tapi dalam hati meskipun kamu udah hamil, aku akan tetap menunggumu." Celoteh Jea berlagak hati melow ala Wira dan Ito.
Renata tertawa sambil mencubit pipi sang suami, Jea terlalu menggemaskan malam itu. Sempat-sempatnya Jea bisa berpikir konyol seperti itu. Kalau Wira emang masih mengharap Renata, tapi kalau Ito gak mungkinlah. Bos duda itu tidak terlalu dekat dengan Renata, mana mungkin suka. Khayal bener deh bos Jea ini.
"Mana ada yang suka sama orang hamil sih, ngaco kamu."
"Dibilangin gak percaya, dua cowok itu modusnya udah kebaca. PDKT receh."
"Dih.... pengalaman kali ya."
"Aku gak pernah PDKT yang ekstrim ya."
"Cuma sekali wa ..langsung ditanggapi. Aku tuh usaha getol cuma sama kamu tahu."
Renata menonyor pipi Jea, tiba-tiba ingat ocehan Kak Vino dulu, sampai detik mereka merencanakan lamaran pun, Jea masih dihubungi Nadya, si mantan yang mengharap balikan. "Mana coba aku lihat ponsel kamu, WA nya Nadya."
Jea gelagapan, meski ia tidak pernah membuka pesan Nadya, tapi ngeri-ngeri sedaplah kalau sampai Renata membaca pesan itu.
"Gak ada." bohongnya.
"Gak usah bohong, Kak Vino pernah cerita kok kalau kamu masih di WA sama Nadya."
Sial. Ember tuh Vino. Mampus deh gue.
"Mana?" tagih Renata sambil mengadahkan tangannya. Mau beralasan? Hem kayaknya istrinya cukup sulit dialihkan. "Atau jangan-jangan kamu masih berhubungan dengan Nadya ya, takut amat."
"Suer gak pernah, Yang!" jawab Jea bersungguh-sungguh, bahkan sambil mengacungkan dua jarinya bentuk V.
"Kalau gak, ya gak usah takut gitu kali. Mana?"
"Ntar ngambek?" ledek Jea yang sebenarnya belum siap mengahadapi ocehan Renata.
"Ya udah kalau gak boleh, kamu berarti gak terbuka sama aku. Minggir." Renata langsung badmood, dirinya saja tidak menyembunyikan apapun dengan Jea, ponsel pun bebas Jea buka. Tapi Jea..... mencurigakan.
Renata menyingkirkan tangan Jea yang memeluknya sedikit kasar. Ia beranjak, berniat tidur di kamar Mita saja.
__ADS_1
"Eh...kamu mau kemana?" Jea gelagapan, ia langsung menarik tangan Renata yang baru saja menjauh dari ranjang.
"Lepas ih, kamu gak mau jujur sama aku gitu. Percuma juga bikin kesepakatan agar selalu terbuka, ternyata aku doang yang terbuka sama kamu, tapi kamunya gak. Udah ah, minggir." Usir Renata yang dihadang oleh Jea.
"Jangan bikin perkara deh, Yang. Mama pasti marah kalau aku bikin kamu nangis."
"Kamu yang bikin perkara. Kok aku!" mulai deh sensitifnya ibu hamil muncul. Air matanya sudah tinggal byor aja kalau dirinya berkedip.
"Gak usah bahas Nadya bisa gak sih."
"Ya makanya minggir, aku gak bakal bahas Nadya." Masih ngotot rupanya, Renata ingin keluar kamar tapi dicegah Jea.
"Gak usah kayak anak kecil deh kamu, Yang. Habis ini kamu tuh jadi ibu, harus bisa kontrol emosi."
Mewek. Renata langsung mewek. Air matanya sudah jatuh di pipi kirinya, buru-buru ia usap.
"Minggir." Pintanya lagi. Tak berniat membalas ucapan Jea.
"Yang. Udah deh, aku tuh gak pernah chat sama Nadya."
"Minggir."
"Ini udah malam, kamu mau ganggu tidurnya Mita atau mama gitu?"
"Minggir." Tegas Renata tanpa ekspresi, sudah tidak ada air mata lagi. Dadanya sesak, sebegitu gak maunya sih nunjukin ponselnya.
"Yang, udah yuk. Bobok." Bujuk Jea lagi sambil menangkup pipi Renata, ia sadar akan kalimatnya agak kasar.
Renata menepis tangan Jea, tekadnya sudah bulat, hatinya kesal, malam ini ia tidak mau tidur dengan Jea.
"Kalau kamu gak mau minggir, aku tidur di kamar mandi aja. Minggir." Ancam Renata.
"Yang, plis jangan kayak anak kecil."
Tanpa banyak kata lagi, Renata berbalik menuju kamar mandi, langsung menguncinya. Ia menangis di balik pintu kamar mandi. Jea bingung setengah mati. Setiap mengetuk pintu ia mendengar Isak tangis Renata.
Menyesal, sungguh. Ia khawatir akan keadaan Renata, bagaimana kalau sampai kedinginan. Tidur di lantai. Ia terus merutuki kebodohannya, kalau saja ia menyerahkan ponselnya, tidak ada kejadian seperti ini.
Bodoh
Bodoh
Bodoh
Sampai pukul 1 dini hari, Jea masih belum bisa membujuk Renata keluar dari kamar mandi. Ia mau mendobrak jelas tidak bisa karena pintu kamar mandinya pun terbuat dari kayu jati.
Kunci cadangan? Astaghfirullah kenapa tidak terpikir. Ia mencari di laci meja kerjanya, yah seingatnya ia menyimpan kunci cadangan kamar dan kamar mandinya ada di situ.
Ceklek
Limbung, Renata yang bersandar di pintu badannya langsung limbung ke lantai. Beruntungnya dia mencabut kunci itu, kalau tidak malah semakin susah saja Jea membuka pintu kamar mandinya. Ia segera mengangkat tubuh dingin Renata, mengganti pakaiannya.
Wajah Renata pucat dan menggigil. Tak bisa dibiarkan, 3 jam di kamar mandi membuat Renata lemas. Setelah mengganti pakaian Renata, Jea langsung mengambil air hangat untuk mengompresnya.
__ADS_1
Sayang....maaf