CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
BERBINCANG


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Renata merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit kamarnya, mengingat kejadian di kantor hari ini ia begidik ngeri.


"Mbak!" panggil Sita, kepalanya sudah menyembul di balik pintu.


"Masuk, Sut. Ada apa?"


"Mbak Neva mana?"


"Masih perjalanan kayaknya. Kenapa?"


"Minggu depan gue dilamar kak Vino," ucapnya dengan senyum merekah. Renata sontak terduduk, kaget. "Sumpe Lo?"


Sita mengangguk dan masih tersenyum.


"Gila cepet banget, Sut. Lo yakin sama kak Vino?"


"Ck.." Sita berdecak sebal, " Gimana sih, Mbak Renata ini, katanya gak boleh pacaran, lebih baik cepet dihalalin, sekarang kok bikin bimbang."


"Bukan gitu, beneran Lo yakin mau nikah sama Vino dalam waktu dekat? Sudah tau baik buruknya dia?"


"Ah Mbak Renata bikin gue ragu deh."


"Bukan gitu, Sut. Nikah tuh butuh pertimbangan matang, menikah bukan hanya untuk kalian berdua tapi untuk kedua keluarga juga. Lah Lo dan Vino baru kenal hitungan bulan, orang tua Lo belum tahu seluk beluk mantunya begitupun dengan orang tua Vino ke Lo!"


"Lah mbak sendiri gimana nanti kalau tiba-tiba dilamar orang?"


"Bapak gue lah yang menyelidiki siapa dia, seluk beluknya, baik buruknya juga. Kalau bapak gue oke, gue juga oke."


"Kan baik buat bapak Lo mbak, belum tentu baik buat Lo juga."


"Ya tapi setidaknya bapak gue tau lah kriteria calon suami idaman gue."


"Trus gue gimana mbak, gue tuh pengen kayak mbak gak usah pacaran langsung dihalalin, sumpah kejadian dengan Rawon bikin gue sakit hati banget tau."


"Sekarang gue tanya, Minggu depan Lo dilamar, nikahnya kapan?"


"Setelah gue lulus lah."


"Sekarang Lo masih semester 5, masih ada 3 semester yang artinya satu tahun setengah kalian bisa jalan bareng, yakin Lo dan dia gak ngapa-ngapain secara sudah ada kata lamaran, dan keluarga sudah kenal, yakin?"


"Vino gak bakal macam-macam kali Mbak!"


"Siapa tahu, kan jaga-jaga juga. Dia laki-laki yang masih ada sisi mesumnya lah."


"Jadi?"


"Kalau gue, gue gak mau jarak lamaran sama nikah lama, buat apa, sekalian aja bayar tunai saat lamaran. Biar jelas. Lah kalau kayak Lo...kedoknya aja lamaran tapi ujung-ujungnya namanya pacaran."


"Emang nikah gampang."


"Ya dibuat gampang lah, Sut."


"Kan gue masih kuliah."


"Apa salahnya sih dengan kuliah, kampus juga gak melarang buat nikah,"


"Vino kan belum kerja mbak, belum mapan."

__ADS_1


"Berarti Lo belum yakin. Trus tujuan Lo lamaran sedini ini buat apa, hanya untuk mengikat gitu aja?"


Sita mengangguk. Renata menghela nafas panjang.


"Ya udah, kalau mau Lo kayak gitu, Lo benar-benar harus kuat menahan apapun, jangan sampai melakukan hal yang tidak pantas dengan dalih sudah lamaran, jangan pernah. Ingat hanya dengan ijab kabul kamu berhak atas Vino, begitupun dengan Vino."


"Sippp."


"Trus?"


"Besok anterin gue nyari seserahan ya Mbak. Sama anak-anak juga kok. Habis maghrib kita motoran, jalan-jalan ke mall."


"Boleh deh. Lagian kenapa gak Vino yang nayri buat Lo?"


"Gue dikasih kartunya, disuruh nyari barang-barang yang memang sesuai selera gue."


"Widiiiiihhhh horang kayah. Gue bantu menghabiskan, Sut."


"Sialaaaaannnn."


*******


Drtt....drttt....


"Halo?" sapa Renata tanpa melihat siapa nama penelpon.


"Turun, Ta. Gue mau ngobrol sama Lo!"


"Udah malam Wir, ditelpon aja ya?"


"Kita ngobrol di kos Lo doang, gue gak ngajak loh keluar, dah cepat ah turun gue udah di depan."


"Lo gak ada cantik-cantiknya ketemu sama calon suami." Protes Wira dengan ledekan seperti biasanya.


"Ck....udah gak marah sama gue?" sindir Renata.


"Duduknya deketan napa, berasa interogasi aja dah kalau berhadapan gini."


"Udah cepetan mau ngomong apa?"


Wira terdiam, menatap lekat perempuan yang sangat sangat ia rindukan. Sudah hampir 5 bulan, ia mencoba menjauh, melupakan pesona gadis yang berlabel sahabatnya itu. Tapi usahanya nihil, dia cukup kuat bersemi dalam otaknya. Tepat hari ini, gengsi yang selama ini ia junjung pudar juga, ia kangen, ia ingin mengobrol lama dengan Renata seperti dulu.


"Lo gak kangen gue, Ta?"


Bohong kalau sampai Renata jawab gak kangen. "Kangen!" jawab Renata pelan.


"Kalau Lo kangen kenapa Lo gak pernah hubungin gue?"


Renata memutar bola matanya malas, ya kali perempuan yang inisiatif bilang kangen dan mengirim pesan kangen gitu. Bukan Renata banget.


"Gue pernah WA loh tapi cuma diread doang. Ya ngapain juga gue terus-menerus kirim pesan kalau gak dibales."


"Ya kali, Ta. Anak Jaka Lo ngambek, dibujuk gitu."


Gemas sekali rasanya Renata menatap Wira yang manja itu. "Idiihhhh, manja banget Lo!"


Wira terkekeh, Renata memang tidak marah sama dirinya, bodohnya dia sempat putus kontak dengan gadis ramah itu. Merasa bersalah juga karena hanya membalas pesan Ola dan Ceca saja.

__ADS_1


"Lo sama Jea gimana?"


Mungkin ini tema utama obrolan malam ini setelah sesi kangen-kangenan.


"Gak gimana-gimana, Wira. Lo tuh salah paham Mulu sama gue."


"Kok Lo bisa bareng dia tadi sore?"


"Gue gak tahu kalau itu perusahaan dia, hampir 2 bulan gue magang baru ketemu dia hari ini. Dia juga kaget lihat gue magang di situ."


"Selama talak ini, Lo sering kontek-kontekan dengan dia."


Ini nih salah satu kegesrekkan yang dimiliki Wira, sejak kapan persahabatan bisa ditalak. Konyooollll.


"Enggak, gue gak pernah nyimpen nomornya. Baru tadi siang dia hubungi gue."


"Buat?"


"Makan siang."


"Dan Lo terima?"


"Gimana gak diterima, orang gue disamperin di kantin, teman makan gue langsung permisi lah."


"Trus?"


"Trus apaan?"


"Lo kok gak berubah si, Ta. Tetap aja oon, gak peka dengan gelagat dia yang naksir Lo."


Wira mulai nyolot.


"Ya gue tahu dia naksir gue, trus gue harus apa. Nerima dia?"


"Jangaaaaaaaan."


"Kenapa?"


"Karena gue mau lamar Lo, Minggu depan gue ke rumah Lo!"


"Silahkan."


"Temenin gue ya?"


"Ogah. Berjuang sendiri, Bung. Dekati bapak gue. Ntar gue kasih alamatnya."


"Tegaaaaaa."


Renata tertawa, tidak dipungkiri dirinya juga sangat kangen dengan sahabat somplaknya ini. Beberapa bulan ini ia juga merasakan ada yang hilang, meskipun keempat sahabatnya juga menemaninya. Minus Irfan ya, dia udah pindah kampus ke negeri Paman Sam, yang susah sekali dihubungi.


"Tapi Lo bakal terima gue kan, ntar gue bilang ke bapak Lo, anak gadis bapak udah cinta mati sama saya, pak. Restuin ya."


"Najong ...cinta mati kata Lo, jangan ngasal deh Wir."


"Iyain aja napa si, Ta. Bikin mood gue anjlok aja."


"Biarin, sekalian ngambek lagi."

__ADS_1


"Nyesek."


__ADS_2