CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
WASPADALAH


__ADS_3

Jea langsung menatap tajam sang istri, curiga dong. Foto itu jelas foto Renata, tapi Renata ngotot tidak mengenal Baha'. Menyebalkan. Kalau saja dirinya tidak berbadan dua, pasti deh amarah murka dari bibir mungil Renata keluar tanpa komando.


"Ya udahlah, Om. Saya gak kenal om, sumpah saya tidak ingat siapa Om, tapi kalau Tante Marta saya tahu, dan sudah lama sekali ibu tidak berkomunikasi dengan beliau sejak pindah ke Surabaya."


"Nah tuh ingat ." Baha' juga tak kalah ngotot.


"Ah...saya pusing, salam kenal aja deh sama Om, udah yah saya mau kencan sama suami saya." Renata langsung menarik tangan Jea, berdebat dengan pria itu membuat moodnya anjlok. Niat hati ingin kencan, makan di luar musnah sudah. Renata merengek untuk pulang saja.


Di dalam mobil pun keduanya tak ada obrolan, hening. Jea sampai berpikir Renata menyembunyikan jati diri siapa Baha', mungkin saja mereka kenal, hanya saja ada dirinya, Renata ngotot tidak mengenali.


Sedangkan Renata, amat kesal dengan pria itu. Sumpah percaya diri sekali mengaku kenal dengan dirinya, bahkan punya fotonya pula, dapat dari mana. Ah...pasti ibu.


Renata mengabaikan Jea, ia lebih memilih mengintrogasi ibu negara tentang Tante Marta dan anaknya.


/Bu, emang Tante Marta punya anak cowok?/


Sebuah pertanyaan pancingan yang menjurus pada ghibah online antara ibu dan Renata. Namun tak kunjung dibalas, mau tak mau Renata menelpon sang ibu, tidak berniat melakukan video call juga.


"Assalamualaikum, Bu!" sapa Renata saat panggilannya diterima ibu.


"Waalaikumsalam, nduk. Ada apa? tumben malam telponnya?"


"Bu, Anak Tante Marta siapa namanya?" to the point sekali Renata, tanpa melirik Jea lagi.


"Hem ada dua, yang pertama namanya Laras, kedua namanya Asep."


Renata menggaruk pelipisnya, "Asep siapa?"


"Siapa ya? Pak... anaknya Marta yang laki-laki siapa namanya."


Beuh...kebiasaan ibu, kalau tanya ke bapak main teriak saja, Renata sampai menjauhkan ponselnya. "Asep Baharuddin." Lanjut ibu setelah mendapat jawaban dari bapak.


"Ibu, emang aku pernah jalan sama si Asep Baharuddin itu."


"Pernah, kamu lupa? Waktu kamu usia 10 tahun, si Baha' itu sering ajak kamu jalan-jalan, kamu sering dibelikan jepit rambut, katanya dia pengen punya adik perempuan."


"Bu, kok dia ngaku calon suami gak jadi." Kali ini Renata menoleh pada Jea, melirik sekilas raut suaminya itu. Tetap datar.


"Ha....ha...ha...ha..." yah si ibu malah tertawa, membuat Renata mendengus kesal. Dih...dirinya tau nih kebiasaan ngakak dan urakannya menurun dari siapa. "Itu gara-gara Tante Marta yang lagi bingung cari mantu!"


"Gimana ceritanya, dia punya foto SMAku coba!"

__ADS_1


"Kamu dan Asep itu terpaut usia 10 tahun, nah waktu usia si Asep 28 tahun itu disuruh kawin gak mau!"


"Kawin apa nikah?" selidik Renata.


"Eh...nikah maksudnya. Nah si Marta itu bingung, eh dia hubungi ibu, nanyain mbak mu, lah...mbakmu udah punya pacar, ibu mah gak mau usik anak ibu ya, kasihan udah cinta masa mau diputus anak orang. Ya udah, foto kamu yang ibu kirim ke Marta."


"Astaghfirullah, Bu. Malunya aku. Anak perawan gak laku."


"Lah makanya, ibu takut kamu jadi perawan gak laku, makanya audisi cari mantu si Marta itu ibu ikut dah, buat kamu. Anaknya ganteng kok, ibu aja suka."


"Hii ibu, aku bilangin bapak tau kalau ibu suka si Asep." Ya elah obrolan serius jadi sengklek juga.


"Bilangin aja, Ki. Bapakmu mana pernah cemburu kalau ibu suka sama brondong."


"Yassalam ibu gue tau juga istilah brondong."


"Tahu lah, jagung kan!"


Jea mulai tertawa, tapi ia tahan.


"Bukannya brondong itu, buah ya?" Gesrek ala Renata mode on.


"Itu kedondong nduk."


"Itu bodong, Kiaaaa!" ibu mulai emosi.


Renata tertawa, sejenak melupakan si Asep yang tak kasep (ganteng) itu. "Kenapa kamu tanya anak Tante Marta?"


"Tadi ketemu di mall. Bikin rusuh, orang Renata gak kenal juga masih ngotot kalau kita saling kenal."


"Emang kalian kenal, cuma kamunya aja yang gak ingat. Orang dulu kamu juga pernah pakai ****** doang di depan si Asep."


"Astaghfirullah, Bu. Masa'? Renata belum menyadari seberapa dekatnya dia dengan Baha' waktu kecil, tapi kenapa dia tidak ingat.


"Bu, tapi Renata kok gak pernah ingat dia ya!"


"Wajarlah, kalian gak pernah ketemu, ibu juga udah lama gak bertemu si Marta. Terakhir ya kasih foto kamu ke Asep."


"Selain gak pernah ketemu, dia bukan orang penting yang patut dikenang dan diingat."


"Heleh, kamu dulu bilang kok, mau masuk SMP. Ditanya Sri,"

__ADS_1


"Sri siapa?" serobot Renata.


"Sri anak Pak Dolah, teman kamu narik layangan."


"Oh Sri mbok mbok."


Jea memperlambat laju mobilnya, mendengar radio berwujud manusia di sampingnya, yang tak kalah lucu dengan pelawak itu membuat rasa kesal menguap seketika.


"Kamu bilang ke Sri gini, 'Sri, kalau aku setelah kuliah gak punya pacar. Aku mau melamar mas Asep anak teman mama, aku bisa kok jadi istri yang baik buat dia. "


Yassalam, itu adalah kenangan Renata di usia 12 tahun. Bisa-bisanya usia yang baru meltek menjadi puber itu malah ngomong akan menjadi istri yang baik. Yang benar saja . Memalukan, terkesan kebelet kawin tuh gadis. Hufh...


"Astaghfirullah, bukan aku deh yang ngomong kayak gitu, aku kan polos dan lugu. Gak mungkin banget usia piyik mikirin nikah."


Jea mencibir, polos apaan? lugu apalagi? yang benar tuh merepotkan, kalau gak sayang udah dikutuk jadi boneka jam. Mengenaskan.


"Dibilangin juga gak percaya, kata kamu, si Asep bakalan klepek-klepek kalau kamu nikah sama dia. " Goda ibu juga, sambil melirik meja Jea.


"Eh astaghfirullah, ibu, emang aku pernah ngomong gitu?" Renata protes, sama sekali ingatan dengan Baha' tersapu bersih sampai tak ingat.


"Hem gak percaya, kamu tuh anak gadis yang banyak disukai orang, termasuk Asep itu. Tapi Sayang dia sudah menikah, sudah gak tertarik sama kamu, dan mama gak suka dengan penampilannya."


"Emang gimana penampilan Asep?" tanya Renata, heran juga, respon ibu di akhir kalimatnya mengandung makna tertentu.


"Sekarang pasti gendut, gak jaga penampilan, karena sudah laku."


"Tau dari mana ibu bilang seperti itu?"


"Firasat ibu aja."


Glodak


Renata dan Jea tertawa ngakak, ucapan demi ucapan ibu membuat keduanya lupa akan keusilan Baha' di mall tadi. Apalagi kalau sudah menyangkut firasat, bahaya tuh mode terawang menerawang bisa muncul dengan analisis yang begitu dalam.


"Ibu sih berharap kamu dan Jea saling peduli selamanya, suami istri itu banyak godaannya, apalagi kalian mau punya anak. Harus sabar, emosi dikontrol, kalaupun ketemu *calon suami gak jadi* kayak si Baha' tadi jangan marah. Karena suatu saat nanti, bisa saja kamu bertemu dengan orang tertentu lalu mengaku calon suami kamu juga"


"Kok bisa?"


"Karena hampir 15 peserta audisi, ibu mencari mantu, ibu beri foto kamu yang paling cantik."


"Yassalam ibu, malunya akuh."

__ADS_1


"WASPADALAH."


__ADS_2