CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
KANGEN


__ADS_3

POV JEA


Pikiranku tertuju pada pekerjaan saja, setelah belasan panggilan dan pesan diabaikan Renata, aku bosan menunggu balasannya. Sempat terlintas pikiran buruk pada Renata mungkinkah di kampus bertemu Wira atau Ito, tapi WhatsAppnya terakhir online pukul 06.10. Biarlah.


Lama berkutat dengan dokumen,.aku dikejutkan dengan Daffa yang mengajak ke cafe Fikri sekarang. Aku melirik jam, sudah jam 8,.dan aku sengaja tidak menyentuh ponsel sama sekali.. Kalau Renata bisa mengabaikan kenapa aku tidak, dan beruntungnya ternyata ponselku kehabisan baterai, entah sejak kapan.


Aku nongkrong di cafe baru Fikri, temanku yang sukses di bidang per-cafean. Mungkin ini yang ke delapan. Amazing deh, padahal dia dulu anak yang pendiam cenderung culun, tapi sekarang alhamdulillah sukses. Kami mengobrol dengan topik apapun. Memang dasarnya kita yang penganut pria jalan lurus, alias gak neko-neko. Pembukaan cafe pun tidak ada barang aneh-aneh, bahkan rokokpun tidak ada. Asyik saja punya teman yang sadar akan kesehatan dan menjunjung tinggi nilai kesetiaan dengan pasangan. Kami sangat nyaman dengan candaan receh ala kami. Sudah lama memang kami tidak nongkrong seperti sekarang, sampai Daffa membisikkan sesuatu yang membuatku segera pamit.


"Nyonya baru saja menelpon saya, Renata masuk rumah sakit."


Shitttt


Aku merutuki diriku sendiri, membiarkan ponselku dalam keadaan mati hingga tak tahu kabar dari istriku. Daffa mengendarai mobil cukup kencang, karena sudah tengah malam, jalanan sudah mulai lengang. Aku terus mengumpat untuk mempercepat, namun Daffa sepertinya masih waras dan tidak mengindahkan perintahku.


Ponselku yang akhirnya aku charge, lalu kunyalakan, nomor Renata menjadi tujuanku, tapi tidak diangkat. Sekarang aku menekan nomor mama. Cukup lama juga tak ada yang mengangkat. Aku menggigit kuku jariku, berpikir agar tenang dan tidak terbawa emosi apapun yang terjadi nantinya.


Aku menyadari pertengkaran kemarin malam bukan seperti diriku, biasanya aku sangat mengalah pada Renata, dan kami jarang sekali bertengkar lama. Kesepakatan kita adalah menyelesaikan pertengkaran sebelum tidur, dan kemarin adalah kejadian di luar kendali. Aku terbawa emosi sampai bernada tinggi dan Renata juga cukup sensitif karena kehamilannya.


Astaghfirullah


Jahatnya aku.


Aku salah


Aku egois


Astaghfirullah


Andai saja aku langsung menyerahkan ponsel itu, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Astaghfirullah. Terus saja aku beristighfar, menenangkan hatiku, mencoba berpikir positif sakit Renata tidak parah.


"Gimana ceritanya kamu di telpon mama?" tanyaku pada Daffa yang sama tegangnya.


"Gue ke toilet, dan Nyonya menelpon. Beliau marah-marah Lo gak usah pulang sekalian, istri di rumah sakit malah kelayapan. Ya gue tanya aja rumah sakit mana, Alhamdulillah beliau mau bilang coba kalau gak? Emang ada apa sih Lo dan dedek unyu?"


"Lo mau gue gampar, Fa?" aku kesal saja jika ada yang memanggil Renata dengan panggilan gak wajar gitu.


"Widiihhh, emang situ sayang!" Daffa terus saja meledekku dengan kondisi seperti ini, langsung ku cekik saja lehernya, dan anehnya dia tertawa ngakak. Sumpah kalau gak butuh dia, udah ku tendang dari mobil ini. Hufhhh....


Setelah sampai rumah sakit, aku keluar begitu saja tanpa memperdulikan Daffa, menuju resepsionis dan berlari menuju kamar istriku. Begitu sampai di depan kamar, Kanjeng Mamih sudah berdiri di depan pintu dengan melipatkan tangannya di depan dada. Tahu banget kalau aku akan datang.


Mama langsung mencubitku, sumpah sakit.


"Kamu tahu kesalahanmu, Je?"


"Iya, Ma!"

__ADS_1


"Masih sayang sama Renata atau gak?"


"Masih ma!" tak sadar juga suaraku agak meninggi. Mama hanya menggelengkan kepala. Kaget juga karena biasanya aku tak berani membentak wanita pertama yang aku cintai itu.


"Mama tahu Je, kalau kalian ada masalah. Tapi tolong jaga emosi Renata, dia hamil anak kamu, kamu lupa?"


"Iya, Ma. Jea salah memang."


"Gak seharusnya kamu kelayapan sampai tengah malam kayak gini, kamu udah punya istri. Bagi waktu buat istri kamu juga. Kalau kamu terlalu sibuk, bisa-bisa mantu mama diambil orang lagi."


"Jangan!"


"Kalau sampai itu terjadi, kamu yang mama pecat dari anak mama."


"Tega."


"Udah sekarang kamu pulang aja."


"Ma, aku mau ketemu Renata."


"Biarkan dia tidur, Je. Besok pagi kamu ke sini lagi."


"Ma..."


"Udah jangan merengek. Salah sendiri gak ingat istri."


Dan apakah aku pulang, tidak mungkin. Aku kembali ke mobil, Daffa memang sengaja duduk manis di mobil, karena aku melarangnya ikut.


"Kok balik?"


"Diusir mama!" jawabku lesu.


Daffa tertawa mengejek. Kubiarkan saja tawanya terdengar nyaring, aku hanya fokus pada keadaan Renata sekarang. Aku melakukan panggilan video ke mama, setidaknya aku tahu wajah istriku.


"Apa?" tanya mama geram.


"Ma...Renata dong."


Bersyukur karena mama bisa diajak kompromi, beliau mengarahkan ponsel ke ranjang. Saat itu juga aku menangis, benar-benar menumpahkan air mataku, aku juga heran kenapa bisa menetes begitu saja. Daffa sampai menoleh, kaget mungkin.


Aku tidak tega, Renata dengan tangan terinfus, wajahnya pucat, dan terlihat sangat lemas. Sungguh bodoh aku menjadi suaminya, pantas saja mama marah sekali.


"Kita pulang saja, bos!" ajak Daffa dan aku menggeleng.


"Yang benar sajalah bos, besok shubuh kita ke sini lagi. Masa' bos mau ketemu dedek unyu pakai kemeja ini lagi, gak mandi lagi. Yassalam."

__ADS_1


Puk


Aku memukul kepala Daffa, geram sekali dengan asisten tak beradab itu. Beraninya dia masih memanggil Renata dengan dedek unyu, dan satu lagi mengomentari penampilanku pula. Hem ...tapi ada benarnya juga, oke aku putuskan untuk pulang. Meskipun aku yakin aku tidak akan pernah bisa memejamkan mata.


Benar saja, aku tidak tidur. Aku mandi dan segera sholat shubuh. Keinginanku hanya bertemu dengan Renata.


"Fa, bangun!" aku memang menyuruh Daffa menginap di kamar tamu, karena aku tidak mau menyetir sendiri, takut tidak bisa konsentrasi. "Fa!" panggilku dengan berteriak.


"Iya ...iya."


"Cepetan sholat gak usah mandi."


"Tega banget sih, situ wangi gue jorok."


"Ya Lo habis dari rumah sakit langsung pulang. Urus kantor."


"Nasib babu." Gerutu Daffa menuju kamar mandi.


Kita berangkat sekitar pukul setengah tujuh, gara-gara keribetan Daffa. Asisten itu ternyata rempong setengah mati dengan kegiatan paginya. Aku pun menggerutu sampai mobil sudah sampai di lobi rumah sakit.


"Urus kantor. Handle rapat dengan Ito nanti."


"Beres, cepat berbaikan ya. Siapa tahu kalau Renata bosan, lari ke gue. Lebih care."


"Ngomong apa Lo!" teriakku dan sialnya mobil Daffa langsung melaju dengan kencang. Sialan.


Aku melangkah dengan semangat 45 menuju kamar inap istriku. Kupastikan pagi ini harus bertemu dengannya, gila, semalam tak bertemu rasanya sudah kangen berat sampai tidak bisa tidur, terlebih keadaan belahan jiwanya sedang sakit.


Aku langsung menarik handle pintu, kedua wanita kesayanganku menoleh. Mama baru selesai menyuapi Renata sarapan.


"Biang kerok, datang." Celetuk mama malas.


Aku hanya menatap istriku yang sudah tidak terlalu pucat. Aku ingin sekali memeluknya, tapi sayang mama masih memberi wejangan pada Renata, terutama tentang kondisinya.


"Jaga Renata. Awas bikin dia nangis, mama pulang."


"Dijemput sopir?"


"Iya!" ucap beliau sambil menyampirkan tas beliau. Padahal beliau belum menghubungi Pak Dirman, beliau berniat naik gra* saja. Memang sengaja membiarkan mereka saling bicara.


"Hati-hati, Ma!" Ucap Renata sambil mencium punggung tangan sang ibu mertua.


"Cepat sembuh!" ucap beliau dan diangguki Renata dengan senyum manisnya. Apa kabar aku? sama sekali tidak digubris mama, hanya tabokan dan ancaman buatku.


"Awas bikin nangis lagi." Ucap beliau lalu pergi meninggalkan kita berdua. Aku menatap wajah imut istriku, kucium saja bibirnya langsung. Aku sudah kangen berat, tak ada rasa gengsi atau canggung buatku, yang jelas pagi ini aku akan menempel saja dengan dia, perempuan yang berhasil membuatku tidak tidur semalaman.

__ADS_1


"I love you." Ucapku disela-sela ******* lembut untuknya.


__ADS_2