
Selepas magrib, Renata dan kedua orangtuanya menuju kediaman Jea. Memang Jea sejak tadi sore tidak pulang, niatnya biar gak bolak balik jemput Renata.
Rumah megah dengan pagar tinggi menjulang membuat Renata minder, duh....perbedaan kasta jelas nyata.
"Gugup?" tanya Jea yang dijawab anggukan.
"Aku juga," cicitnya lagi. Renata mengerutkan dahi, apa yang bikin Jea gugup, ini di rumahnya, apa dia gugup kalau orang tuanya tidak menyetujui pilihannya. Hufh....
"Mari pak, Bu, Ta!" ucap Jea sambil membuka pintu dan mengucap salam kemudian.
"Waalaikumsalam, mari masuk!" jawab seorang wanita paruh baya yang masih cantik dengan mendorong sang suami di atas kursi roda.
"Silahkan duduk." Titah beliau ramah.
"Saya izin ke atas dulu, mau membersihkan diri dulu." pamit Jea kemudian melangkah naik tangga.
Setelah bersalaman Renata dan kedua orangtuanya berbincang dengan kedua orang tua Jea. Mama Jea sangat ramah, begitupun dengan papa Jea meskipun banyak diamnya, beliau juga gampang terseyum ramah. Bayangan akan disiksa ibu mertua karena dari keluarga menengah sedikit sirna.
Ketika Jea datang, Renata buru-buru menundukkan kepalanya. Sungguh ciptaan Allah sangat sempurna. Mungkin saat Jea dulu dapat antrian pertama, semua anggota tubuhnya hampir sempurna. Masya Allah.....
"Mari Pak, Bu. Maaf hanya menghidangkan makanan sederhana."
Renata berusaha mengontrol ekspresinya, jangan sampai jiwa sengkleknya keluar di depan calon mertua, sederhana?? ini mah mewah sekali. Berbagai menu ada, mulai gurame bakar, ayam bakar madu, cumi asam manis, sampai tahu tempe goreng ada, meskipun nyempil di pojokan.
Mita, sang adik tak henti-hentinya menatap Renata. Ia pun menyuruh Jea duduk di samping mama, dan Mita memilih duduk di samping Renata. Mengajaknya cerita, dan berhasil membuat suasana makan malam ceria.
"Kami selaku orang tua Jea mohon maaf belum bisa ketemu bapak dan ibu terlebih dahulu, malah mengajak makan malam di rumah," Mama Jea mulai membuka obrolan setelah makan malam selesai.
"Tidak apa-apa Jeng, yang penting kita masih bisa silahturahmi." Hem pintar sekali Ibu Renata mengimbangi ucapan sang calon besan.
"Maafkan putra saya yang terkesan buru-buru meminta putri bapak dan ibu, tapi insyaallah putra saya bersungguh-sungguh ingin melamar putri bapak ibu."
Mungkin karena sang papa sakit, mama Jea begitu lancar menjadi pengganti sang papa dalam berbagai urusan, termasuk masalah seperti ini. Terlihat sekali sifat keibuannya, betapa telaten menyuapi sang suami, dan tutur katanya sangat lembut kepada kedua anak dan tamunya.
Renata semakin minder, khawatir tidak bisa membawa diri karena sikapnya yang sedikit bar-bar. Apalagi cara ngomong, beuh...Renata harus belajar mengontrol ucapannya nih. Jangan sampai seperti rem bolong.
"Saya selaku orang tua Renata juga berterimakasih atas sambutannya. Saya pertama bertemu dengan Jea sudah sangat mengagumi pemuda ini. Kaget juga sebenarnya, tiba-tiba melamar putri saya."
Mama Jea terseyum sambil menepuk pundak putranya, merasa bangga karena dia cukup gentle, meminta anak orang sendiri.
"Jadi, kapan kami bisa silahturahmi ke Pacitan untuk melamar putri bapak?" tanya Mama.
__ADS_1
"Sebisa bapak dan ibu saja, kami siap kapan pun."
"Kalau bisa sekalian dinikahkan ya pak, Bu?" pinta Jea yang langsung mendapat cubitan dari sang mama.
"Sabaaarrrr anak muda." Sambar sang mama dan disambut tawa yang lain. "Renata memang sudah siap menikah?" tanya Mama kemudian.
Wajahnya merona mendapat pertanyaan seperti itu, masa' iya langsung jawab mau...mau, jaim dikit ya. "Insyaallah siap, Tante."
"Kok panggil tante, panggil mama ya sayang." Ralat mama Jea.
"Baik, Ma!" pasrah saja Renata.
Diputuskan minggu depan sesuai rencana keluarga Jea akan silaturahmi ke Pacitan sekaligus melamar. Senyum bahagia tampak diraut para orang tua dari kedua belah pihak.
Orang tua Renata sangat menyukai Jea sejak pertemuan awal dulu, sedangkan Mama Jea cukup kagum juga dengan Renata. Gadis itu memang manis dan sikapnya yang pendiam tampak natural. Hemm.... padahal kalau sama sahabatnya sengklek abisssss.
Tepat pukul 10 malam, Renata dan kedua orangtuanya tiba di hotel. Capek, ingin sekali ia segera merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Kamu kenapa ikut nginep di sini?" bapak protes, Renata hanya memutar bola matanya, pasti mau melakukan pembibitan untuk kehadiran adik Renata. Oh tidak bisa, Renata sudah 21 tahun....masa' iya mau punya bayi. Yang ada harusnya Renata yang kasih bayi, bukan ibu.
"Kasihani anak rantau yang jauh dari emak bapak, tuan!" begitu ia memelas dihadapan bapaknya.
"Besok kamu balik ke kos."
"Buuuuuu" rengek Bapak, manja. Aduh aki-aki satu ini. "Udah balik aja ke kos, gak usah denger omongan Ibu. Enak aja."
"Lah ibu di hotel sama siapa, Pak. Kalau ada Kia kan enak."
"Kia pagi masih magang Bu," Bapak masih ngotot, "Jauh juga dari sini." Ih..pintar sekali bapak mencari alasan, padahal hotel ini dekat sekali dengan kantor magang Renata, dekat dengan rumah sakit internasional, dekat dengan bandara juga. Ah si bapakkkkkk.
"Benar itu Ki?" tanya Ibu.
Renata sempat melirik bapak yang sudah melotot, terpaksa deh mengangguk.
Renata cemberut, "Tapi ingat, Renata tetap harus jadi anak bungsu."
"Terserah bapak lah!"
******
"Gak nginep hotel sekalian?" tanya Mama saat melihat Jea masuk rumah, sengaja menyindir.
__ADS_1
"Maunya, sekalian bobok sama Renata." Cicit Jea, sengaja menjahili sang mama.
Puk...mama memukul lengan Jea, cukup keras hingga ia mengaduh. "Kamu tuh, Je. Astaghfirullah anak Jaka mama. Ini mulut kontrol dong celetukannya. Ngebet banget."
Jea terkekeh, gampang sekali membuat mamanya gergetan. "Bercanda, Ma. Renata juga gak bakal mau diajak jalan berdua."
"Je, emang Renata beneran kalem gitu."
Jea mengernyitkan dahi, memang saat makan malam tadi Renata kincep, grogi mungkin. "Gak juga sih, Ma. anaknya cerewet asyik juga, mungkin tadi grogi ketemu calon mertuanya."
"Cantik, Je. Pinter kamu pilih pasangan."
"Nah kan, Mama sekali ketemu aja udah jatuh cinta, apalagi Jea yang udah hidup bareng selama sebulan, Ma."
"Bahasamu Je, hidup bareng." Ketus mama sambil menonyor pipi putra tunggalnya itu. Lagi-lagi Jea terkekeh.
"Minggu depan sekalian akad gimana, Je. Kasihan papa kan kalau harus bolak balik Pacitan."
"Gak usah nunggu Minggu depan deh, Ma. Sebelum orang tua Renata pulang gimana?"
"Biasanya neh cewek yang ngebet kawin karena udah tekdung duluan, lah ini anak Jaka yang ngebet, anak perawannya diam aja. Aneh deh sama kamu, Je. Apa yang kamu sembunyikan dari mama?"
"Suudzon terusssss, orang niatnya baik juga. Banyak yang ngincer Renata, Ma. Kalau Jea kalah cepat gimana."
Pukulan di lengan Jea lagi, sang mama cukup gemas dengan kelakuan anaknya ini, udah jelas-jelas orang tua Renata sudah setuju masih saja takut ditikung orang.
"Lebih baik besok mama belanja seserahan aja biar gak gupuh buat Minggu depan, kamu ikut apa gak, Renata bisa gak?"
"Aku sibuk, Ma. Besok ada meeting sama klien. Kok mendadak gini sih."
"Ya udah mama sama Renata saja."
"Yah....kok gitu, Renata gak bisa kalau gitu."
Mama menoleh dengan tatapan tajam, "Kenapa?" tanya beliau heran.
"Renata magang."
"Halah alasan, sini bagi nomor ponselnya Renata."
Kalah...debat dengan perempuan itu gak bakalan menang, lebih baik pasrah dan menuruti keinginannya, urusan beres.
__ADS_1
"Ya ampun noraknya anak mama." Komentar Mama ketika melihat nama kontak Renata di ponsel Jea.
PENJAGA HATI❤️