
POV RENATA
Aku pergi ke kampus tanpa pamit pada suamiku, rasanya malas sekali memberi kabar padanya. Biarlah hari ini, aku tidak berkutat dengan ponsel. Memegang barang itu sama saja mengingatkan pada penolakan Jea akan WA dari Nadya, bikin sakit hati.
Di kampus aku menuju ruangan Pak Wayan, beliau lengang sepertinya. Aku mengetuk pintu, dan setelah dipersilahkan masuk. Beliau mulai mengoreksi revisianku. Kata beliau sudah cukup baik analisis data dan pembahasannya, dan beliau juga sudah ACC. Memintaku untuk bimbingan pada Pak Shandy untuk bab penutup, dan setelah itu dipersilahkan mendaftar ujian skripsi.
Ah senang rasanya, bimbingan dengan Pak Wayan membuatku sumringah, rasa kesal mulai memudar dan terlupakan. Aku keluar ruangan beliau berharap bertemu dengan sahabat somplakku, ternyata memang benar keduanya sudah duduk manis di lobi jurusan.
"Ngobrol di kantin yuk!" ajakku, karena kuputuskan hari ini aku bersama sahabat-sahabatku saja. Setelah dari kampus aku berniat ke kos, bertemu dengan anak lorong. Syukur-syukur mereka mengajak kencan.
"Ujian kapan Lo?" tanya Ola pada Renata yang asyik meminum es campur bertabur kacang merah.
"Akhir bulan kalau gak awal bulan Februari, udah di ACC sih sama Pak Wayan."
"Wih cepet nih."
"Biar cepet beres, gue udah muak dengan skripsi ini."
"Dih.... seorang Renata bisa muak sama namanya belajar."
"Gue bosen. Gue pengen jalan-jalan ke pantai lihat sunset gitu doang pikiran gue. Penat abis."
"Ingat hamil woyy!!" Sentak Ola yang langsung mendapat tonyoran di jidatnya."
"Ya elah, sebelum perut gue gede kali."
"Boleh yuk, terakhir kita ke pantai cuma Dufan doang, kurang jauh. Gimana kalau ke Bali atau Lombok? Usul Ceca yang cukup menggiurkan, dan aku berharap aku diizinkan suami.
Ngomong-ngomong soal suami. Jea gimana ya sekarang? aku masih kesal dengan namanya ponsel.
Aku membiarkan ponselku bergetar begitu saja, tak kuhiraukan panggilan beruntun, dan aku yakin sih itu Jea. Biar deh, ntar sepulang hang out bareng sahabatnya baru dibaca pesan yang dia kirim.
Setelah mengobrol dengan Ola dan Ceca, aku meminta Ola mengantar ke kosanku dulu. Tak berniat menghubungi anak lorong 13, pasrah saja, kalau mereka ada ya udah lanjut mengobrol dengan anak lorong, kalau gak ada numpang ke kamar anak kos lain. Toh Renata dekat dengan anak kosan dulu, anggap aja numpang pipis dan sholat.
Takdir baik sedang berpihak pada Renata, ada Elea di kamar. Ia pun masuk, sholat dan numpang tidur.
__ADS_1
"Lo aneh deh, Mbak. Kenapa gak pulang aja sih, pucat kamu!" protes Elea, khawatir juga dengan kondisi Renata yang pucat dan lemas sekali. "Lo udah makan?"
"Udah tadi ke kantin, sopir gue masih jemput mama mertua." Memang kenyataannya begitu.
"Ya elah Mbak ada, gra* kali."
"Gue numpang ya, El. Gue di rumah tuh sepi kalau jam segini."
"Lah emang biasanya langsung pulang?"
"Gak juga. Biasanya ke kantor Jea."
"Lo lagi marahan ya, Mbak."
Hish...kenapa juga Elea begitu peka. Jadinya mewekkan. Yah aku mewek setelah ditebak Elea. Anak lorong memang cukup dekat denganku. Apapun masalahnya mereka selalu ada di sampingku, memberi support dan nasehat sejak tinggal di kos ini.
"Hii ibu hamil gak boleh sedih tau." Oceh Elea yang langsung memelukku, dia pun ikut menangis, tak tega mungkin denganku yang sesenggukan.
"Gue lagi kesel sama suami gue, El. Dia gak mau terbuka soal mantannya."
Ah makin sesenggukan saja tangisku, respon Elea berhasil membuatku berburuk sangka pada Jea. Apa mereka masih berhubungan sampai pesan Nadya pun Jea menutupinya dengan rapat. Eh tapi tadi pagi dia sudah menyodorkan ponselnya sih. Hem bisa jadi sudah dihapus juga chatnya. Kan...jadi suudzon sama dia.
"Ya udah, daripada sedih. Gue antar deh, mbak mau ke mana?" Elea memang bukan tipe yang ingin tahu masalah rumah tanggaku, mungkin tidak mau ikut campur atau karena dia tidak punya pengalaman untuk berbagi. Diapun menawariku jalan. Oke..gue mau jalan ke mall aja.
Kami pun naik motor ke mall, meski panas hajar sajalah yang penting hati senang. Jalan berdua dengan Elea benar-benar membuatku lupa kalau hari sudah sore. Kini Elea mengantarku pulang. Lagi-lagi aku menangis saat dibonceng Elea, malas sekali bertemu dengan Jea. Tapi ia juga tidak boleh egois, seorang istri tetaplah seorang istri yang harus mematuhi apa kata suami.
Oke... saatnya menahan emosi, sudah cukup aku egois merasa single dengan mengabaikan pesan dan panggilan Jea. Sampai di rumah, aku segera membersihkan diri dan sholat Maghrib.
Masih dengan mukenah, aku merebahkan tubuh lelah di ranjang, sembari membuka ponsel. Benar saja belasan panggilan dan pesan dari Jea tertera di ponsel Renata.
/Maaf hp sengaja aku silent tadi, aku udah di rumah sekarang/
Pesan yang kukirim hanya bercentang satu. Aku pikir Jea masih sibuk sampai tidak sempat mencharge, aku putuskan memejamkan mata saja. Capek juga.
Denting jam bertalun merdu, membangunkanku tepat pukul 10 malam, dan aku masih menggunakan mukenah. Jea sepertinya belum datang, karena tidak ada tanda-tanda kehadirannya di kamar ini.
__ADS_1
Aku segera sholat isya lalu turun, perutku terasa lapar, kepalaku juga pusing. Entahlah badanku masih beradaptasi dengan kehadiran si kecil. Rasa malas untuk makan malam cukup mendominasi, kuputuskan untuk mengetuk pintu kamar mama. Aku ingin tidur bersama beliau saja malam ini.
"Ma, saya tidur sini ya. Kak Jea belum pulang."
"Iya, Ta. Tidur saja. Nanti kalau Jea datang pasti juga ikut tidur sini." Ucap Mama yang masih berkutat dengan laptopnya.
Aku tidur, kuakui badanku sedikit panas. Mungkin karena kecapekan jalan di mall, kemarin malam sempat tidur di kamar mandi, dan sekarang belum makan malam. Hufh...maafkan bundamu nak yang masih malas untuk mengambil makan.
"Ta, kamu sudah makan?" tanya mama, samar kudengar tapi aku merem saja. Mengistirahatkan tubuh lemahku. Tidak nyenyak memang, terlebih teriakan Mama membuatku ingin sekali membuka mata tapi sangat berat.
"Ta, badan kamu panas sekali." Itu yang sempat kudengar, dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi, sampai matahari sudah menampakkan kilaunya. Aku pun berusaha membuka mata, pemandangan yang kulihat pertama kali adalah jam dinding. Ini bukan kamarku, dan bukan kamar mama. Aku menoleh ke samping, ada selang yang terhubung dengan tanganku. Ternyata aku diinfus.
"Ma!" sapaku, tapi tak ada yang menyahut. Aku berusaha duduk dan tiba-tiba mama keluar dari kamar mandi.
"Udah bangun?"
Aku mengangguk saja. "Kenapa aku di rumah sakit, Ma?"
"Tadi malam badan kamu panas, mama khawatir sayang. Langsung mama bawa ke rumah sakit saja, kamu tidak boleh minum obat sembarangan juga."
Lagi-lagi aku mengangguk saja. "Kak Jea mana, Ma?"
"Di rumah!"
"Oh!"
"Mama melarang dia ke sini, biar dia sibuk dengan dunianya. Mama tahu kalian ada masalah, kan? Namanya rumah tangga sayang wajar itu, cuma mama gak terima kalau dia pulang sampai tengah malam hanya karena nongkrong dengan teman-temannya."
Aku menangis, padahal ini mama mertua loh, sangat perhatian denganku, tidak menyangka sama sekali beliau tega melarang Jea bertemu denganku, agar anaknya itu bisa menyadari keberadaanku yang butuh perhatiannya juga.
Padahal Jea juga sangat perhatian, hanya karena masalah ponsel, masalah sepele, keduanya mengabaikan satu sama lain.
"Renata di sini sampai kapan, Ma?" tanyaku di sela-sela mama menyuapiku sarapan.
"Setelah dokter observasi kamu, mungkin bisa pulang. Panas kamu sudah turun juga." Aku mengangguk saja, lebih cepat lebih baik keluar dari rumah sakit memang.
__ADS_1