
Renata menahan tawa ketika masuk mobil, suaminya cemberut hingga bibir seksinya maju beberapa centi.
"Pak CEO kenapa?" goda Renata dengan mencoel dagu sang suami.
"Gak usah pegang-pegang." Mode ngambek on, dan semakin membuat Renata gencar menggodanya.
"Ecie..Pak CEO ngambek, cemburu."
"Awas kamu ya nanti malam." Renata semakin keras tertawanya, meskipun pipinya sudah dicubit oleh Jea.
Lesehan ayam bakar dipilih keduanya untuk makan siang. Ayam bakar madu beserta lalapan dan jeruk hangat tak lama tersaji di meja mereka. Keduanya makan dengan diam. Mungkin karena serius ambil data, Renata makan cukup banyak, hingga Jea menggelengkan kepala.
"Mulai besok kalau masih di Kantor Ito, jas almamater gak usah dilepas."
"Kenapa?"
"Aku gak mau lekuk tubuh kamu dinikmati si duda itu."
Renata mendengus kesal. Cemburu belum usai ternyata. "Yang, badanku tuh kurus, baju yang aku pakai juga longgar. Gak mungkin terlihat sekseh." Ucap Renata dengan nada manja menggelikan.
"Dih...geli gue dengernya!" Cicit Jea sambil menonyor pipi sang istri.
Keduanya melanjutkan sesi makan siang lalu singgah di masjid sekitar lesehan itu dan kembali ke kantor satu jam kemudian. Saat di lorong Renata melihat Ola berjalan santai menuju ke ruang Daffa.
"O--!" belum sempat Renata memanggil sahabat somplaknya, mulutnya sudah dibungkam oleh telapak tangan Jea.
"Jangan ganggu orang lagi PDKT!" bisik Jea dan langsung menarik Renata ke ruangannya. Seperti biasa Renata akan menonton drama kegemarannya sambil menunggu Jea berkutat dengan pekerjaannya.
Ia mengambil camera, tak lupa mematikan bunyi kameranya, membidik sang suami yang semakin tampan saat serius bekerja.
Semangat kerjanya cinta❤️❤️❤️❤️
Begitu caption yang menyertai foto dan diunggah Renata di status WA, dan beberapa detik kemudian ada pesan masuk mengomentari status itu.
Pak Ito
/Kayaknya kamu cinta banget sama Jea/
Dih...kenapa neh? bos kok sempat-sempatnya lihat status orang. Renata tak membalas, lebih memilih melanjutkan acara menontonnya hingga tak terasa dirinya terlelap.
Tok...tok..
"Siapa?" agak was was Jea dengan orang yang mengetuk pintu, pasalnya Ola berada di kantor ini. Ia tak mau Renata diajak keluar dengannya.
"Daffa dan Ola." Jawab Ola dengan suara cerianya.
"Gak boleh masuk." Jawab Jea ketus.
__ADS_1
"Ouh saya tahu, Pak CEO lagi ehem ehem kan sama Renata! Hayooooo."
Duh...wajah Jea langsung merah, suara cempreng seperti toa itu bisa membuat kantor heboh, main ngoceh tanpa difilter seperti biasanya.
Ceklek
Jea dengan sangat terpaksa membuka pintu itu, dan benar saja Daffa dengan wajah datarnya dan Ola dengan senyum ceria.
"Nyonya CEO ada?" tanyanya sok polos.
"Ada lagi tidur, jangan ganggu."
"Dih....pasti kecapekan karena bos CEO." Celetuknya sambil cekikikan.
Kalau saja tidak di kantor yang harus menjaga wibawanya, mungkin Jea sudah menonyor jidat cewek jadi-jadian itu.
"Jadi?" tanya Jea menanyakan maksud dan tujuan mereka masuk ke ruangan ini.
"Konsep proyek imajinasinya sudah saya anggap oke, dari segi rancangan biaya produksi, desain baju, pemasaran dan margin keuntungan juga."
Jea manggut-manggut. "Bisa dimulai kapan?"
"Modalnya mana dulu?" tagih Ola.
"Dari distributor saja. Kan sudah saya jelaskan pakai pre-order durasi dua minggu. Mereka diminta DP 50%." Daffa menjelaskan kembali.
"Maksudnya?" tanya Ola heran.
"Gak tega bos. Ntar kalau dia tahu, nangis kayak orang gila." Daffa mencela ketus.
Ola mendengus kesal. Masih belum paham dengan ocehan keduanya. "Biar istri gue aja yang jelasin."
Jea terpaksa membangunkan sang istri. Mencium seluruh wajah ayu sang istri membuat kedua makhluk jomblo di dekatnya hanya memutar bola matanya jengah.
"Hem." Renata mulai mengerjapkan matanya.
"Bangun sayang, ada Ola!"
Renata diam masih mengumpulkan nyawanya, menguap sebentar lalu menatap Ola. Jea sudah kembali ke kursi kerjanya.
"Istri bos cantik banget kalau bangun tidur." Gumam Daffa masih menatap Renata dengan bibir manyunnya.
Puk
Kepala sang asisten menjadi korban pukulan Jea. Ia pun sempat meringis. "Berani-beraninya kamu puji istri orang."
Daffa terkekeh. Gampang sekali membuat bosnya cemburu. "Pasti bos duda kesemsem tuh sama istri bos, apalagi di sana istri bos terlihat single."
__ADS_1
Daffa sengaja memancing emosi Jea, karena salah satu hiburan Daffa adalah melihat sang bos cemburu. Terlihat lucu dan menggemaskan. Bolehlah sebagai ganti puyengnya menghadapi makhluk jadi-jadian yang sedang khusyu mendengar penjelasan Renata.
Di seberang sofa, Renata yang masih mengantuk kembali rebahan dengan menjelaskan kondisi perusahaan papa Ola. Ia sudah diberitahu Jea setelah pulang dari mall dulu.
Daffa sampai melongo, pikirnya Ola yang akan menangis meraung-raung ternyata salah. Ola dengan santainya hanya bilang, "Oh gitu doang."
Saking tak percayanya, Daffa memegang kening Ola. "Kamu waras gah sih."
"Cie...kak Daffa perhatian sama gue, Ta!"
"Najong!" balas Daffa langsung melipir keluar ruangan Jea.
"Gue sih sebenarnya tahu kondisi perusahaan papa gimana, cuma gue santai aja. Gue masih orang kaya, gak dapat jatah dari bokap, tinggal telpon Oma. Mau berapapun okelah."
"Lo gak boleh gitu, Ta. Selama ini kan, bokap Lo selalu kasih yang terbaik buat Lo , saatnya Lo balas budi."
"Iya ustadzah, makanya gue sekarang bikin proyek imajinasi ini. Dah gue balik, doakan gue sukses ya."
"Beres, sukses proyek sukses sama kak Daffa."
"Gue sih mau, Daffa tuh yang ogah sama gue."
"Tunggu tanggal mainnya aja, Pepet terus jangan kasih kolor." Celetuk Renata sambil kembali merem.
"Bengek Lo!" balas Ola lalu pamit pulang.
Jea hanya tertawa kecil mendengar perdebatan para calon sarjana itu. Kadang istrinya juga bisa dewasa, memberi nasehat pada sahabatnya. Tapi lebih banyak sengkleknya sih. kekkekkeke.
Ting
/Sibuk ya sama suami?/
Pak Ito kembali mengirim pesan pada Renata. Mata yang sudah terlelap kini terbuka kembali, membaca pesan dari Pak Ito. Lagi, dia heran seorang pimpinan perusahaan longgar banget bisa kirim WA.
/Maaf, Pak. Sepertinya saya tidak harus menjawab pesan bapak karena tidak ada hubungannya dengan penelitian saya. Maaf sekali lagi, saya tidak ingin suami saya berpikir macam-macam dengan Anda. Terimakasih/
Balas Renata, setidaknya di awal dia harus tegas daripada suaminya cemburu, bakal menghambat penelitiannya juga. Ia tidak mau itu.
Ting
Lagi, tertulis nama Pak Ito dan Renata membiarkannya, tidak membuka pesan itu.
Ting
Ting
Terus saja bunyi ponsel Renata berbunyi tapi si empunya melanjutkan acara bermimpinya. Jea heran juga kenapa ponsel sang istri berbunyi terus. Ia pun mengambil ponsel Renata. Matanya langsung melotot, 5 pesan Pak Ito yang belum terbaca.
__ADS_1
"Modus banget si duda." Gumam Jea sambil menggambar pola di layar ponsel Renata.