
"Jelaskan!"
Dua mahasiswi hanya menunduk tak berani berkata apapun di depan dosen pembimbing lapangan. Yah siang itu, saat kejadian masak memasak di dapur berakhir adegan Jambak menjambak Nadya vs Maya, DPL (dosen pembimbing lapangan) melakukan sidak di lokasi KKN.
Sebagian besar mahasiswa yang terjadwal melaksanakan berbagai program memang sudah di posisi masing-masing. Renata yang kebetulan mogok gak mau ke dapur, membantu Kikan mengambil dokumentasi program pendidikan dan desa sehat.
Mereka cukup ketar-ketir dengan kehadiran DPL, khawatir dimintai laporan individu tentang KKN yang telah dilaksanakan hampir 3 Minggu ini.
"Apa kalian tidak punya malu, di desa orang berbuat urakan seperti ini. Kalian itu mau mendapat gelar sarjana, tapi kelakuan seperti anak TK."
Sidang oleh DPL pada Maya dan Nadya masih berlangsung. Berkali-kali kepala anak kepo mengintip di balik pintu ruang tamu kontrakan mahasiswi.
Tak lupa bisik bisik 'ada apa?'
' kenapa mereka bertengkar?',
'Hanya karena cowok?'
'Mereka memalukan!'
'Siap-siap gak lulus KKN neh.'
Renata cukup kaget, apalagi bisikan tentang gak lulus KKN. Sampai seperti itu ya sanksinya. Berat banget. Mata kuliah KKN dengan SKS 4, kalau gak lulus rugi.
"Untung, Ta. Lo keluar dari dapur, coba kalau gak...."
"Makanya, Ki. Duh gak mau berurusan sama Maya lagi neh, rusuh anaknya."
"Kenapa bisa jambakan lagi?"
Jea tiba-tiba mendekat pada Renata, penasaran kenapa kejadian di mobil tadi pagi terulang, dan parahnya ketahuan oleh DPL.
"Tetap masalahnya, gara-gara kamu, kak!"
"Kok jadi gue?" Jea tak terima dong, dia gak tahu apa-apa dengan kejadian dapur, malah dia yang disalahkan.
"Jangan dekat-dekat kita deh Kak, ntar si Maya malah marah-marah terus, kita bisa kenak Jambak semua."
__ADS_1
"Takut, Ta!" rengek Kikan mengejek seolah takut dengan Maya.
"Gue heran, seganteng apa si Kak Jea ini. Sini kak aku pengen lihat wajah kakak."
Renata sengklekkkk. Mana ada orang yang mau lihat wajah tampan langsung di depan orangnya. Yang benar sajalah.
"Gak usah ntar naksir lagi." Tolak Jea kemudian memalingkan muka, bisa baper kali ditatap mata bulat Renata.
"Gak ganteng-ganteng amat, Ki." Celoteh Renata yang bikin Kikan cekikikan, ne anak matanya juling kali ya.
Jea yang dibilang kayak oppa oppa Korea, dibilang gak ganteng oleh Renata, ya Tuhan kenapa ada cewek sepolos ini sih. Anak kecil di desa kalau Jea jadi gurunya aja pada nimbrung, lah nih cewek malah bilang gak ganteng.
"Cowok ganteng menurut Lo kayak apa, Ta?" pertanyaan pancingan dari Kikan.
"Hem yang hidung mancung, alis tebal, putih tapi jangan putih-putih amat lah, ntar kulit gue kesaingan, tinggi, bertanggung jawab, kaya."
"Matre juga kamu ya!"
"Eh bukan matre kak, jadi cewek tuh harus realistis. Alis aja pakai modal duit, gak pakai modal cinta. Tul gak, Ki?"
"Lagian neh kak, bullshit kalau cewek bilang gak butuh apa-apa, dan cukup cinta. Itu doang ma cuma seminggu, coba setelah itu, gak diajak jalan-jalan ngomel, gak dibelikan apa-apa dibilang gak perhatian, gak diantar pakai mobil malu, nah loh mana coba yang katanya hanya bermodal cinta, gak ada kan?"
Jea mengangguk-anggukan kepala, senyum tipis pun tampak juga. Kalau dipikir-pikir benar juga ucapan si cerewet ini.
"Bener banget!" ucap Jea sambil mengacak rambut Renata.
"Wah kak, bahaya. Mulai pegang-pegang rambut, ntar gue digibeng ma Maya loh!"
"Gak akan, mereka pasti sudah kena sanksi sama Pak Danu."
" Kok tahu?" Renata dan Kikan penasaran.
"Kata teman-teman gue dulu, kalau KKN dan DPLnya pak Danu jurusan teknik sipil, jangan sampai berbuat masalah. Karena detik itu juga langsung dapat nilai C." Jelas Jea.
Takuuuuuuutttttt
******
__ADS_1
Tebakan Jea benar, malah lebih parah. Kedua mahasiswi yang terlibat pertengkaran di dapur tadi terpaksa di depak dari KKN ini. Yah keduanya harus angkat kaki dari rangkaian KKN dan dinyatakan tidak lulus.
Berat sekali sanksinya, hal itu dikarenakan mereka bertengkar di hari efektif KKN, menimbulkan luka fisik, meskipun keduanya sama-sama sakit dan menjadi korban. Alasan lainnya karena urusan pribadi, yakni percintaan.
Tidak seharusnya masalah cinta dilibatkan dalam KKN, tindakan yang dilakukan Maya dan Nadya mencerminkan tabiat yang tidak dewasa sama sekali. Tujuan adanya KKN agar setiap mahasiswa bisa bersosialisasi dengan baik di masyarakat, bukan malah rebutan perhatian cowok. Asli gak penting.
"S1 tapi kelakuan seperti orang yang gak berpendidikan."
Kalimat terakhir Pak Danu sebelum beliau pulang. Sudah tidak ada wajah cengengesan seperti biasanya, yang ada wajah tegang dan berharap beliau segera enyah. Mahasiswa gak sopan, he..he..he..
"Kalian diantar saja, ya. Gak usah naik angkutan umum." Begitu Cipul menawarkan.
Nadya hanya mengangguk, sedangkan Maya , " Ya harus diantar lah, ngapain juga naik bis."
"Eh May, Lo tuh udah gak lulus, masih aja sombong." Balas Dimas menohok.
"Gak usah ikut campur, kayak Lo bakal lulus aja."
"Hufh...kalau bukan cewek, udah gue tonjok muka Lo!"
Maya mencibir, dia sangat emosi terlebih malu sih sebenarnya, apa kata orang tuanya nanti. Gak lulus KKN hanya karena masalah cowok, ya ampun. Padahal KKN adalah mata kuliah yang gak perlu mikir, dan gak ada ujiannya. Hufh...nasib..nasib.
"Gue bantu ya, Nad!" tawar Renata segera membawa tas jinjing Nadya ke dalam mobil Jea. Yah ..Jea memberikan kunci mobil pada Cipul untuk mengantar kedua gadis itu.
"Baik-baik di jalan, Pul!" pesan Jea sebelum Cipul melajukan mobilnya. Sebenarnya makna dibalik pesan Jea itu adalah baik-baik, jangan sampai pertengkaran antara keduanya terjadi lagi. Apalagi perjalanan kali ini cukup jauh, hampir 3 jam.
"Kak Jea, kalau sudah di kampus. Maya bakal cari kak Jea lagi."
"Udah masuk masuk." Cipul ikut gemes juga pada Maya, sudah diusir masih saja memikirkan Jea, duh ..gak laku banget kah jadi cewek, sebegitunya mencari perhatian.
"Gak boleh nyari kak Jea, karena pulang KKN dia udah punya pacar." Cerocos Renata dengan seringai mengejek, sedangkan Nadya berusaha menahan senyum di dalam mobil. Ia tahu ucapan Renata hanya untuk memanas-manasi Maya. Kesempatan untuk dekat dengan Jea pupus.
"Awas Lo, Ta!" teriak Maya yang tak terima, dan mobil pun segera melaju dengan kencang sebelum pertengkaran terjadi.
"Bye ..bye neng Maya!" Renata masih saja mengusili Maya, dia dengan senyum lebar melambaikan tangan begitu juga teman-teman yang lain.
"Usul kamu boleh, juga. Bukan pacar, tapi calon istri." Bisik Jea tepat di telinga Renata. Seketika Renata mematung, mencoba mencerna perkataan sang ketua. Apakah dirinya yang dimaksud?
__ADS_1