
Ola sudah di depan kantor Jea, sengaja dihubungi Renata karena istri bos itu suntuk di kantor tanpa melakukan apa-apa. Lagian suaminya juga bakal ada rapat sampai makan siang nanti.
"Temenin gue sarapan ya, Ta!"
Renata mengangguk, "Bokap Lo pailit, sampai gak bisa sarapan."
"Eh busyet mulutnya Nyonya CEO, pailit, pailit, yang ada tuh gue malas sarapan di rumah, cuma ada Bibik doang."
"Emang pada kemana?"
"Biasa, perjalanan bisnis."
Renata diam, tiba-tiba teringat sama suaminya. Selama menikah belum pernah tuh melakukan perjalanan bisnis.
"Ta, nikah muda enak gak sih?" tanya Ola penasaran, ia sudah membelokkan mobilnya ke arah kedai bubur ayam.
"Enak, cuma ya gitu harus ada yang bisa kontrol emosi."
"Di antara kalian yang pinter jaga emosi siapa?"
"Gak usah ditanya, Lo pasti tahu."
Ola meringis, jelas Jea lah yang bisa kontrol emosi. Renata? cewek bar-bar berkedok sopan mana bisa kontrol emosi. Yang ada nih, Jea baru berkata satu kalimat, Renata akan membalas 20 kalimat sekaligus. Hah...pusing gak loh.
"Gue juga pengen tahu, Ta. Lihat Lo kok mesra terus sama Jea, mana Jea perhatian banget sama Lo. Iri gue."
"Pacar Lo suruh lamar Lo lah. Punya pacar juga."
"Udah, tapi dia bilang belum mapan."
"Halah, itu mah alasan dia doang. Dia tuh gak yakin nikah sama Lo."
"Sembarangan kalau ngomong." Ketus Ola sambil menonyor pipi sahabatnya itu.
"Gue bilangin ya, La. Cowok kalau udah cinta gak bakal mau pacaran, pasti ajak nikah. Soalnya apa, dia gak mau berjauhan barang sedetik pun dengan orang yang dicintai."
"Lo kok jadi dokter cinta gini sih." Ola kembali menonyor pipi Renata, gemas. Dulu... boro-boro ngomong cinta, membedakan rasa suka dan kagum aja Renata gak bisa, eh sekarang....ck...ck.."
Renata tertawa juga, menepuk bibirnya, geli juga ngomong ala dokter cinta. Bukan gaya Renata banget.
Saat Ola konsentrasi pada bubur ayam, Renata mengecek ponselnya, dan dia tersenyum, 15 pesan masuk dari SUAMIKU❤️, dan isinya hanya
Sayang jangan marah
Sayang aku gak pernah kencan berdua sama Ceril
Sayang aku cuma kencan sama keluarga juga, Daffa juga ikut
Aku gak suka sama Ceril
Yang
Yang
Yang
Yang
Balas
Yang balas
Yang aku rapat tapi gak konsen
Yang jalan sama Ola kemana?
Yang jangan sama Wira ya
Yang balas
__ADS_1
Yang kamu di mana?
Lucu juga ternyata kalau Renata lagi ngambek, Jea khawatir Renata tidur di kos, gak pulang, wa gak dibalas, di kampus ketemu Sandy dan Wira. Haduh...Jea adem panas dibuatnya. Raga di ruang meeting, tapi otak berkelana memikirkan Renata.
"Bos, ada yang mau ditambahkan?" bisik Daffa membuyarkan lamunan Jea.
"Tidak ada, saya percaya dengan kalian. Lakukan yang terbaik dari awal hingga pelaporan. Rapat saya akhiri."
Semua melongo, devisi yang presentasi baru satu sudah diakhiri, lah lima devisi lain kapan presentasinya. Hufh. Baru kali ini rapat hanya berjalan 15 menit. Senangnya. Beberapa manajer pun merasa lega dan bisa tertawa lebar, presentasinya diundur.
"Kenapa di akhiri? Devisi Perencanaan doang yang presentasi, masih ada lima loh?" tegur Daffa sambil berjalan tergesa di belakang Jea.
"Otak gue buntu, kepikiran Renata."
Daffa langsung mendengus kesal. Rapat penting ditinggal gara-gara istri ngambek. Ya Allah Tuhan, ini cowok lembek amat, baru juga dicuekin istri sudah hancur dunia pekerjaan. Bucin parah.
Tut...Tut...
Nada tunggu terdengar, Jea sudah tidak tahan berjauhan dengan istri dalam keadaan salah paham. WA hanya dibaca saja oleh Renata. Hari ini ia mau menyelesaikan dulu kesalahpahaman yang terjadi.
"Hem!" jawab Renata ketus.
"Assalamualaikum sayang."
"Waalaikumsalam. Ada apa?"
"Kamu di mana?"
"Di kedai bubur ayam sama Ola. Ada apa?"
"Habis itu ke mana?" Jea balik tanya.
"Mall, anak-anak ngajak kumpul."
Anak-anak? kumpul? Ceca dan Bian doang kan? Wira gak? Jea ingin sekali menanyakan apakah Wira ikut, tapi diurungkan. Ia tidak mau sambungan telponnya diputus sepihak oleh Renata.
"Ngapain?"
" Mau jemput."
" Gak jadi rapat?"
"Udah aku akhiri, gak konsen sayang. Aku kepikiran kamu. Maaf."
Renata tersenyum, "Lanjutin aja rapatnya sayang aku gak pa-pa sama Ola."
"Beneran? nanti aku jemput?"
"Boleh!"
Jea memutuskan sambungan, ia segera menghubungi Daffa, meminta rapat kembali. Daffa misuh-misuh, baru saja melonggarkan dasi dan ingin tidur di sofa sebentar eh bos sableng itu minta rapat kembali.
"Bilang aja, sakit perut gue udah sembuh."
Cih alasan macam apa itu. CEO, ganteng, wibawa percuma juga, baru istri ngambek saja udah kalang kabut.
Sementara Ola dan Renata mampir ke kampus sebentar karena Ola menyerahkan draft skripsinya, dia sudah ACC bab 3, hari ini Ola menyerahkan prototipe video animasi yang akan dijadikan bahan penelitian. Ola memang sengaja mengambil tema skripsi pengembangan video animasi periklanan. Berbeda dengan Renata yang mengikuti proyek dosen, dengan tema pengembangan website periklanan untuk perusahaan makanan.
"Pak Rizal gimana kalau bimbingan galak? atau rempong?"
"Beliau mah nyantai banget, gak ditarget juga. Terserah mahasiswanya mau dikerjakan segera atau gak."
"Hemm gue banyak bimbingan sama Pak Sandy coba, Pak Wayan katanya nanti saat produk sudah jadi dan analisisnya. Sementara prototipenya sama Pak Sandy dulu."
"Susah, Ta, skripsi lo. Apalagi kalau jadi dibeli dah tuh website sama perusahaan, dapat uang Lo."
Renata memukul lengan sahabatnya itu, "Uang aja pikiran loh!"
"Heleh....gue tahu otak Lo, Ta! Uang...uang ..uang."
__ADS_1
"Itu dulu, sekarang mah tiap hari gue ditabok duit coba."
Ola langsung menoleh ke arah Renata, menghentikan langkahnya menuju ruang dosen. "Jangan-jangan, sebelum Lo 'main' disodorin uang gitu."
"Astaghfirullah, La. Anak perawan pikirannya, ya Allah." Lagi-lagi lengan Ola ditabok Renata, namun gadis itu tertawa ngakak.
"Sakit gak Ta?"
"Gue gak mau jawab, ntar lo praktekin ke pacar Lo lagi."
"Sedikit deh, Ta!"
"Ogah, rahasia perusahaan itu mah."
Ola mencibir, Renata benar-benar tidak mau memberikan bocoran malam unboxingnya. Bahaya juga sih, takut Ola butuh pelampiasan nanti.
Beberapa menit kemudian, keduanya menuju masjid kampus, sholat dulu baru ke mall. Jea bilang kalau akan menjemput sore saja, mengizinkan Renata jalan ke mall bersama Ola. Padahal baru kemarin jalan ke Dufan juga.
"Eh, Ta. Itu Wira kan?" tanya Ola saat mereka akan keluar dari pelataran masjid.
"Mana sih?"
"Di depan gerbang fakultas kedokteran." Yah.... fakultas kedokteran memang berhadapan dengan masjid kampus.
"Hah? Kok sama Helwa?" gumam Renata tapi masih bisa di dengar Ola.
"Lo kenal cewek itu?"
Renata mengangguk, "Anak KKN."
Ola hanya ber o ria, "Gue ambil mobil dulu, Lo tunggu di sini. Kita ikutin mereka, gue curiga sama dia."
Renata menautkan alis, kenapa harus curiga sih. Wajarlah Wira kan jomblo, Helwa juga. Biarkan mereka dekat. Dih... Ola kepo dengan mereka.
Renata menatap Wira dan Helwa yang masih berbicara di depan gerbang fakultas, Wira duduk di atas motor, dan Helwa berdiri di dekat motor gede Wira. Hingga Helwa naik ke motor, bersamaan kedatangan mobil Ola.
"Cepetan, Ta. Kita ikutin."
" Mau ngapain kita ikutin dia sih?" gerutu Renata saat masuk mobil Ola.
"Curiga gue, Ta. Wira tuh cinta sama Lo, cepet banget move on nya." Ujar Ola dengan tatapan fokus pada pergerakan motor Wira. Renata hanya memutar bola matanya, jengah.
"Kayak gak tahu Wira aja Lo, La. Playboy cap keong juga."
"Kenapa harus keong?" Lah Ola malah fokus sama istilah yang Renata sendiri asal ceplos.
"Ta, Lo jangan hp an mulu kenapa sih?"
"Jawab WA suami gue lebih penting daripada si Wira."
Ola berdecak sebal, ia harus mengamati Wira sendiri, karena Renata masih sibuk dengan suaminya. Gini amat nasib Detektif Conan kw. Kerja sendiri, tanpa ada perkiraan yang jelas.
"Ta, lihat!" Ola menepuk paha Renata cukup keras. Seketika saja pandangan Renata menuju ke arah telunjuk Ola.
" Itu apartemen kan?" tanya Renata sambil melihat gedung tinggi di seberang mobil Ola parkir. "Mereka ngapain, La?"
"Lo udah kawin, Ta. Pasti ngerti lah mereka ngapain!" Tampak suara Ola mendengus kasar, ada nada kecewa juga.
"Astaghfirullah, masa' mereka-----"
"Coba gue WA Wira." Ola ingin memastikan kejujuran Wira.
/Sableng, Lo di mana?/
Tak butuh waktu lama, balasan dari Wira masuk.
/Gue lagi bimbingan/
"Ta!" Ola menyodorkan ponselnya yang berisi jawaban Wira. Keduanya menghela nafas pendek, menyandarkan badannya di jok mobil dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1