CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
DINAS LUAR


__ADS_3

"Kamu ikut aja deh," tawar Jea malam itu. Daffa mengabarkan proyek di Batam mengalami musibah, ada beberapa pekerja yang mengalami kecelakaan kerja hingga dilarikan ke rumah sakit, selain itu Jea dan Daffa juga akan meninjau langsung proyek pembangunan di sana selama seminggu.


"Ngapain? kamu kerja di sana." Tolak Renata sembari memasukkan beberapa kemeja dan kebutuhan suaminya ke dalam koper.


Jea kelimpungan, ia menyandarkan tubuhnya di pintu lemari sembari melipat kedua tangannya, berpikir keras agar Renata bisa ikut. Seminggu bro...gak ketemu istri, musibah bener dah ini. Belum lagi mama Jea akan ke Singapura, dan Mita merengek ikut. Renata sendiri dong, ouh tidak bisa dibiarkan.


"Kamu sendiri loh di rumah. Ikut aja yuk." Masih menawar rupanya. Renata hanya mencibir, emang kenapa kalau di rumah sendiri, ada para ART juga. Lagian kalau bosen dia bisa menginap di kos, tidur sama anak lorong. Hem.. sepertinya itu ide bagus. Sudah lama mereka tidak kumpul.


"Aku kan bisa menginap ke anak kos kalau bosen di rumah!"


Jea langsung berdecak sebal, "Senang kamu, terus jalan-jalan pakai motor sampai malam, ketemu hantu teriak-teriak, berasa single gitu."


Jea mengomel, ia mengungkit kebiasaan istrinya bersama anak lorong 13 yang pernah diceritakan oleh sang istri. Heran juga, gak di kampus gak di kos, istrinya ini punya sahabat yang sama-sama sengkleknya. Sedangkan Renata tertawa mengingat kejadian horor itu.


"Udah ah, aku juga punya tanggungan alat penelitian, kalau gak segera aku kerjakan gak lulus-lulus ntar."


"Cih....!"


Jea mengambil ponsel, menghubungi Daffa. "Lo berangkat sendiri bisa gak sih, bini gue sendiri nih."


"Gak usah lebay, Je. Ditinggal seminggu doang, bini Lo ngerti kali Lo kerja di sana."


"Gak usah ceramah Lo!"


Tut


Jea kesal.


"Berangkat jam berapa besok?" tanya Renata yang sudah selesai menata baju dalam koper, dan akan berkutat pada rancangan alat penelitiannya.


"Jam 6 pagi, paling jam 5 Daffa sudah di sini." Jea merebahkan tubuhnya di sofa kamar, berniat menemani istrinya yang berkutat dengan laptop, Renata duduk di bawah, laptopnya diletakkan di meja, membelakangi Jea. "Ikut ya!" masih membujuk rupanya, Jea meletakkan lengannya di leher Renata.


"Tangannya ih berat!" Renata menyingkirkan lengan Jea.


" Nanti jangan nakal!" pesan Jea yang langsung mendapat pletotan bibir Renata.


"Jalan sama anak-anak, jangan sama cowok!" pesan kedua, lubang hidung Renata langsung melebar, mendengus kesal.


"Tiap aku video call, harus diangkat!" pesan ketiga dan diangguki Renata.


"Yang kamu kok responnya cuma gitu sih!" Jea gemas, Renata datar sekali responnya.

__ADS_1


"Aku lagi garap skripsi sayang. Duh..." keluh Renata, ikut kesal juga, sama sekali gak bisa konsentrasi.


"Masih lama kah?" tanya Jea sambil mengendus leher Renata.


"Masih, diganggu terus akunya!" protes Renata cemberut.


"Aku dianggurin, mana seminggu nggak ketemu."


Renata mencibir, manjanya suami sudah kelewat batas. CEO tuh mikirnya gak hanya istri tapi kemajuan perusahaannya yang menyangkut nasib ribuan orang juga.


"Yang, kamu tuh pimpinan perusahaan. Jangan kayak anak kecil gini deh, waktunya kerja ya kerja, waktunya sama aku ya sama aku. Aku bisa jaga diri selama kamu dinas luar." Jelas Renata sambil memegang tangan Jea.


Jea menghela nafas berat. Masih belum rela. Ia juga heran kenapa gak bisa jauh dari istrinya. Toh Renata juga bukan gadis manja yang ke mana-mana harus diantar. Dia cukup mandiri, dan tidak pernah merengek kala Jea sibuk dengan tablet dan segala tumpukan dokumen di meja kerjanya.


Apa mungkin Renata masih setengah hati mencintainya? Tapi dia begitu perhatian dengan Jea. Bahkan selalu menyemangati Jea untuk menjadi pemimpin yang wibawa. Bukan Wi..bawa mobil ...wi bawa rumah, tapi wibawa dalam arti sesungguhnya. Permintaan Renata hanya satu, jaga hati.


"Janji ya gak nakal?"


Renata mengangguk, ia lalu mencium bibir suaminya sekilas, "Janji sayang."


"Kamu udah goda aku!"


"Kamu gak mau kasih aku 'bekal' dulu, seminggu loh gak ketemu."


"Besok deh habis shubuh." Jawab asal Renata, mencoba mengakhiri pembahasan tentang 'itu' karena kalau terjadi ia akan menunda mengerjakan rancangan alat penelitiannya lagi selama beberapa jam. Sayang sekali bukan?


"Mana bisa, bentar banget dong!"


"Ya terus gimana?" tanya Renata sambil fokus mengetik.


"Sekarang, yuk!"


Renata menghentikan ketikannya, menoleh ke arah suami yang sudah menaik turunkan alisnya, spontan saja ia memukul paha Jea, kesal. "Skripsiku kapan jadinya kalau kamu kayak gini terus, pengen mewek gue."


"Seminggu besok kan kamu libur dari gangguanku, silahkan lembur lah!" sepertinya ucapan Jea ada benarnya, Renata bimbang sekarang. Namun Jea sudah tidak sabar, ia langsung menyambar bibir Renata begitu saja. Sebuah permulaan untuk kegiatan yang mengasyikan bagi Jea terutama. Mengingat seminggu ke depan dia harus puasa.


Alarm ponsel Renata berbunyi nyaring tepat pukul 5 pagi, bersamaan dengan ketukan pintu. Ia bangun, memungut pakaian yang berserakan sebentar lalu membuka pintu. Ada Bik Asih mengatakan bahwa tuan Daffa sudah ada di ruang tamu. Renata hanya mengangguk dan titip pesan setengah jam lagi Jea turun.


Dengan malas, Jea membersihkan diri dan sholat. Begitupun dengan Renata, sebelum sholat ia mengeringkan rambut dengan hair dryer terlebih dulu, lalu berjamaah dengan sang suami.


"Charger hp udah apa belum?" Renata checking.

__ADS_1


"Dah." Jawab Jea singkat. Tak ada manis-manisnya wajahnya pagi ini, dan membuat Renata tertawa.


"Ayok turun, kasihan kak Daffa udah nunggu dari tadi."


"Halah palingan lagi sarapan tuh anak."


Dan benar dugaan Jea, ia sudah duduk manis dengan roti bakar selai cokelat dan kopi yang mengepul.


"Kesini pagi-pagi numpang sarapan doang, kak?" Sindir Renata.


"Iya!" jawabnya tanpa dosa, langsung mendapat tabokan di lengan, Jea pelakunya.


Renata sibuk mengoles roti untuk Jea, sedangkan sang suami sudah menyeruput kopinya juga.


"Nanti ke kampus di antar sopir aja. Jangan bawa motor ya?"


"Iya, beres."


"Kemana-mana bawa ATM, kalau ada apa-apa langsung telpon aku."


"Bucin parah suami Lo, Ta."


"Diiyain aja, kak. Daripada gak berangkat."


"Tuh denger."


"Gak mau berangkat, gue seret dah. Aku iket di ekornya pesawat. Demi kemaslahatan rakyat gak mau berkorban."


"Udah ngomongnya? Gue sumpahin habis ini Lo punya istri, biar tahu rasanya gak dapat jatah seminggu."


Uhukkkk, Renata keselek tehnya. Ne masih pagi woy ....mulut tolong dikondisikan.


"Aamiin." Jawab Daffa santai. "Sebelum Lo nikah juga bisa kasih jatah sendiri."


Uhukkk, Renata keselek lagi. Ya Allah ne dua laki-laki bahas apa sih pagi-pagi. Geli ni kuping.


"Gak usah grogi gitu, Ta. Suami Lo ini hobi main solo soalnya."


Astaghfirullah


Mulut Daffa langsung ditabok dengan roti tawar oleh Jea. Sembarangan kalau ngomong.

__ADS_1


__ADS_2