
Setelah menjadi detektif gadungan, Ola dan Renata menuju mall, sekedar makan siang saja. Ceca dan Bian beserta Kia pun sudah otw ke restoran masakan Jepang.
"Cie Nyonya CEO traktiran nih." Ledek Bian setelah hampir 20 menit ditunggu kedatangannya.
"Cih, gue bagian traktir es krim original aja." Cibir Renata sesuai kebiasaan seperti dulu kalau jalan bareng di mall.
"Suami Lo udah kaya kali, Ta. Buat apa uangnya?" Bian masih meledek lagi, ingin sekali menggoyahkan sifat Renata yang terlalu pelit itu. Eits ...kelewat hemat.
"Buat masa depan anak gue lah!" Ceplos Renata.
Uhukkk....Ola yang lagi nyeruput air putih langsung keselek. Ceca langsung menonyor jidat Renata. Sedangkan Bian langsung memeluk Kia.
"Emang Lo udah bisa?" Sumpah Bian mulutnya minta ditabok, Kia berkali-kali udah kasih warning untuk diam.
"Ne cowok mulutnya butuh diruqyah kayaknya." Protes Ceca sambil menyumpal mulut Bian dengan tissu.
"Sayaaaaangggg." Rengek Bian pada Kia.
"Sukurrrr, dibilangin diam aja kenapa sih." Eh si Kia malah marah, dan itu membuat ketiga gadis setengah waras di depannya tertawa ngakak.
Ting
Renata mendapat pesan dari Jea, ia menyempatkan membukanya dengan tangan kiri, karena tangan kanannya sudah memegang sumpit.
/Aku jemput, posisi di mana?/
/Mall Z, restoran Jepang M/
/Oke/
/Ati-ati/
"Siapa, Ta?" Ola curiga, jangan-jangan Renata sudah dijemput Jea.
"Suami, mau jemput."
Ola cemberut, kesal juga sama Jea. Katanya CEO kok sering banget longgar. Biarkan Renata sama teman-temannya kek, nempel muluk. Pengantin baru sih .. pengantin baru, tapi gak segitunya kali.
"Oke, sebelum suami nyai Renata datang, gue mau tanya sama Bian."
"Apaan?" Bian sudah mode waspada.
"Wira punya pacar baru?" Memang hanya Ola sih yang masih agak peduli dengan Wira. Beda dengan Ceca yang sejak kejadian Tante Wira sepertinya gadis itu semakin menjauh. Bian? ah dia pasti sibuk dengan Kia. Renata juga sama, sibuk dengan suaminya.
"Ouh ...iya!"
__ADS_1
"Maksudnya iya?" Ola masih mengejar, belum puas dengan jawaban Bian.
"Ya udah punya pacar. Helwa, anak kedokteran."
Renata diam, hanya menjadi pendengar. Ia tidak mau terlibat dengan Wira, ada hati yang harus dijaga, meski ia masih menganggap Wira adalah sahabatnya.
"Gak yakin gue mereka pacaran." Ceca mulai berkomentar.
"Ya buktinya mereka udah sering jalan bareng, kita aja sering ketemu ya Yang sama Wira dan ceweknya." Bian meminta bantuan Kia agar sahabatnya itu mempercayainya.
"Iya mbak, Kak Wira udah punya pacar, sering kok boncengan juga."
"Nah." Bian menjetikkan jarinya. "Jangankan boncengan, bobok bareng juga udah kali." Kelakar Bian asal yang langsung mendapat tabokan dari Kia.
"Ne mulut ember bener." Keluh Kia.
Renata, Ceca dan Ola hanya menggaruk pelipisnya, bingung. Kenapa Wira jadi melenceng jauh sih.
"Sejak kapan?" Renata mulai menunjukkan kepeduliannya.
"Sejak dia tahu, Lo nikah sama Jea. Nah dia langsung boncengan sama tuh cewek."
Ola menghembuskan nafas pendek, mengetukkan jari ke gelas minumannya. "Kita tadi mergokin Wira sama tuh cewek."
"Di apartemen jalan S!" lanjut Renata. Ceca melongo, Bian datar.
"Tapi gue kasihan ma tuh cewek..Asli gue gak percaya kalau dia serius sama cewek, secara udah dibawa ke apartemen segala."
"Emang kalau ke apartemen harus melakukan itu ya?" Renata menambah kekesalan mereka. Bian malah langsung berdiri dan hendak menonyor jidat istri CEO itu.
"Siang!" sapa yang punya Renata. Bian kagok, hanya meringis malu, perlahan menurunkan jari telunjuk yang siang menonyor.
"Maaf pak CEO!" cicit Bian sambil nyengir.
Jea hanya tersenyum, lalu mengambil kursi dan duduk di samping Renata.
"Pak CEO jangan bawa Renata pulang dulu ya kita mau bahas Wira."
Jea hanya mengernyitkan dahi, Renata hanya berbisik, "Nanti aku ceritain."
Jea mengangguk, "Silahkan dilanjutkan," dan Jea pun berkutat pada email-email pekerjaannya.
Dasar mulut gak ada filter, Ceca dan Ola terus saja membahas Wira, dan sesekali menyangkut pautkan dengan Renata. Jea hanya diam berusaha tidak ikut campur, meski kupingnya panas.
"Kalau cewek itu hamil gimana?" setelah pembahasan Wira dan Helwa cukup dalam, pernyataan pamungkas Ola membuat mereka kincep. Bahkan Jea sampai mendongakkan kepala. Kaget? Hamil?
__ADS_1
"Dia dokter, La. Dia tahu lah cara agar tidak hamil." Cetus Bian.
"Gak yakin gue. Mulut Wira kan manis banget, mana ada cewek yang tolak dia sih, kecuali satu." Ceca menyenggol lengan Renata. "Dia."
"Udahlah, biarkan Wira kayak gitu. Kalau ceweknya hamil itu konsekuensinya, gue udah sering bilang jangan aneh-aneh."
"Kia masih tersegel dong ya?" pancing Renata, memastikan Bian tidak aneh-aneh, dan Kia langsung menutup wajahnya.
"Mau tahu aja Nyonya CEO." Bian hanya mengusap tengkuknya, kalau tidak ada Jea mungkin sudah ditonyor tuh jidat.
"Kadang gue kasihan sama Wira. Cintanya sama Lo, tapi kenapa juga harus plintat plintut ke cewek lain. Coba kalau langsung lamar Lo--"
Renata menoleh ke arah Jea, ditatapnya suaminya itu, merasa bersalah karena omongan Ola, tersirat menyalahkan Jea yang bergerak terlalu cepat.
"Gak ada yang tahu gue nikah sama siapa. Bahkan Wira yang sering gue suruh ke rumah, minta ke bapak gue aja selalu mengulur-ulur. Suami gue aja pernah mengalah sama Wira, Deket sama gue aja maju mundur karena kedekatan gue dan Wira."
Jea tetap diam, tak menimpali. Padahal topik yang dibicarakan adalah dirinya. Hatinya kesal, kenapa masih ada bayang-bayang Wira dalam pernikahannya.
"Cuekin aja deh, La. Wira juga udah gede."
"Lagian kenapa Lo juga yang berempati banget sama dia." Ceca mulai curiga. Sebenarnya ini pertanyaan Renata juga, Ola kelewat perhatian dengan Wira.
Ola menunduk, Ceca dan Renata saling pandang. Bian dengan mulut embernya asal nyeplos, "Mereka dijodohkan." Wira pernah curhat dengan Bian soal Ola.
"Apaaaaaaa?" Ceca dan Renata teriak kompak. Pen tablet yang dipegang Jea saja langsung terjatuh.
"Bener, La?" Ceca memastikan.
"La!" panggil Renata.
"Ngomong aja, La. Udah waktunya juga." Bian hanya dipelototi Renata agar diam. Begitupun Kia segera membungkam bibir pacarnya itu.
"La, kok Lo diam saja sih?" Ceca meninggikan intonasinya.
"Gue....hiks..hiks..."
"Yah...kok Lo nangis!" Renata bingung.
Sebuah fakta mengejutkan bagi mereka siang itu. Ola dan Wira ternyata sedang dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Anggap saja pernikahan bisnis akan terjadi diantara keduanya. Ola tahu sejak setahun yang lalu, tapi diam, tidak mau bercerita kepada siapapun. Mereka sepakat untuk menolak perjodohan itu. Orang tua Ola setuju, tapi tidak untuk orang tua Wira.
Pengusaha batu bara itu terus meminta orang tua Ola untuk menikahkan mereka. Bahkan Ola harus putus dengan kekasihnya setelah magang berakhir. Orang tua Ola tidak bisa berkutik, karena salah satu investor perusahaan papa Ola adalah Wira. Otomatis orang tua Ola, tunduk dan patuh pada permintaan papa Wira.
Yang dikhawatirkan Ola adalah jika pacar Wira itu hamil, bagaimana nasibnya dan perempuan itu. Pernikahan ini tidak bisa diganggu gugat, masa' iya baru nikah langsung dipoligami. Ola gak mau itu terjadi. Oleh sebab itu, sebisa mungkin ia mengumpulkan bukti kebejatan Wira.
Ola sangat mencintai kekasihnya, ia tetap menganggap Wira hanya sebagai sahabat. Apalagi Ola tahu, siapa perempuan yang menguasai hati Wira.
__ADS_1
Renata, hanya nama itu yang ada di hati Wira