
Setelah puas jalan-jalan, Renata dan kedua orangtuanya menuju kosnya, ia mau mengambil baju untuk tidur di hotel bersama bapak dan ibunya selama tiga hari ke depan. Karena kos Renata termasuk kos ketat, pria tidak boleh masuk, meskipun itu bapak.
Ting
Jea mengirim pesan WA
/Di mana?/
/Baru nyampe kos/
/Masih sama Ola?/
/Udah gak, tadi dia pamit ada meeting sama papanya/
/Loh dari hotel naik apa?/
/Grab/
Tak ada lagi balasan dari Jea, Renata pun kembali memilih baju untuk dibawa ke hotel. Selama orang tuanya di Jakarta, ia memilih tidur sama orang tuanya saja. Kapan lagi anak rantau disambang.
"Va!" panggil Renata, memang sore itu Neva sudah pulang magang dan lagi rebahan, Ibu Renata lagi di kamar mandi. "Nanti malam gue ketemu calon mertua."
"Apaaaaaa?" teriak Neva yang langsung terbangun dari rebahannya, "Lo barusan ngomong apa, Ta?"
"Gue ntar malam ketemu calon mertua gue barengan bapak dan ibuk."
"Sumpah Lo?"
"Gak usah lebayyyyy, B aja kali"
"Mana bisa, Lo gak pernah cerita tahu-tahu mau lamaran, jangan-jangan Lo tekdung, Ta!"
"Sembarangan!" omel Renata sambil menonyor jidat sahabatnya itu. "Saat kita makan steak malam itu gue ditelpon bapak kan, nah itu gue baru dikasih tahu kalau ada yang memintaku, dan Lo tahu siapa, bos gue magang."
"Sumpah, Ta?" Neva belum percaya.
"Kia, sudah selesai?" potong ibu saat masuk ke kamar putrinya.
"Eh ibu, sehat Bu?" sapa Neva sambil mencium tangan ibu Renata itu memang anak lorong sudah sangat akrab dengan orang tua masing-masing. "Katanya mau punya mantu Bu?" Neva mengorek kabar dari perempuan paruh baya itu.
"Iya mbak, Neva. Nanti malam mau ketemu calon besan." Tampak sekali wajah bahagia ibu Renata itu. Hem Jea bakal jadi mantu kesayangan nih.
"Rizekinya Renata, Bu. Gak pernah pacaran langsung dilamar orang." Bijak sekali Neva sore itu, hem pencitraan mungkin. he ..he...he.
"Semoga setelah ini mbak Neva juga ketemu jodohnya."
Neva tergagap tapi mengangguk juga. Masih mengobrol dengan ibu Renata, teriakan sangar dari luar membuat Renata dan Neva malu setengah mati, suara Sita.
"Mbak...Lo sejak kapan sama Jea, kok gak bi-"
Langsung diam dah tuh anak saat masuk kamar Renata ternyata ada ibu Renata. "Eh ada ibu," ucapnya kagok sambil mencium tangan.
"Nyerocos aja terus," ejek Renata gemas.
"Nak Jea kan memang calon suami Renata, Mbak Sita."
Jeduaaaarrrr
Kabar apa ini, kok???
__ADS_1
"Ntar gue cerita, gue mau tidur hotel."
"Hah, Lo mau tidur hotel sama Jea?" ceplos Sita. Ya ampun tuh mulut minta ditabok kayaknya, mana ada ibu lagi. Ya Allah..punya teman kok kayak rem blong gini sih.
"Tidurnya ya sama ibu dan bapak lah, Mbak Sita,"
Sita meringis, ia menepuk jidatnya, malu. Ada ibu Renata malah nyeplos pertanyaan yang unfaedah.
"Emang Jea ke sini, nduk?" tanya Ibu.
"Gak ngabari, Bu." Jawab Renata sambil melihat pesan terakhir Jea. "Gue keluar dulu, cerita menyusul, baik-baik kalian di kos, disapa tangan melambai nyaho' Lo!"
"Taaaaaa!"
"Mbakkkkkk!"
Rengek Neva dan Sita bareng. Mereka pun ikut turun, Neva penasaran bagaimana wajah Jea. Bapak dan Jea terlihat mengobrol di ruang tamu, Neva dan Sita mendekat mencium tangan bapak Renata, sembari basa basi tanya kabar.
Neva melirik sebentar ke arah Jea, Ganteng banget si Jea, pantesan Renata mau mau aja, batin Neva.
Bapak, Ibu dan Jea langsung menuju mobil sambil membawa tas ransel Renata, menginap 3 hari 2 malam saja bawaannya banyak, cewek mah gitu, rempong. Renata ditarik sebentar oleh Neva dan Sita sebelum menuju mobil.
"Lo hutang penjelasan sama gue ya, mbak, awas saja kalau balik ke kos nanti." Ancam Sita.
"Neva, tugas Lo cerita." Renata mengalihkan tugasnya.
"Idih ogah, berani bayar berapa gue buat jadi jubir Lo!"
Renata mengibaskan rambut panjangnya, "Mantu horang kayah, mau apa aja deh buat Neva sayang."
"Najongggg." Cibir Neva sambil menonyor pipi teman tidurnya itu. Sedangkan Renata hanya tertawa. Interaksi ketiganya dilihat Jea dari mobil, betapa cerianya gadis itu. Sama siapapun pasti bikin tertawa, setengah waras juga sih kalau dipikir-pikir. He...he...he.
"Dah ah gue pamit, baik-baik kalian, doain gue lancar ya."
"Gak mungkin lah." Sita yang jawab, sedangkan Renata hanya mengacungkan jempol pada Sita.
"Bye!"
Renata menuju mobil, niatnya duduk belakang karena ia pikir bapak yang duduk di samping Jea. Eh ..bapak dan ibu sudah pulas di bangku belakang. Kecapean mungkin sejak tiba di Jakarta pagi tadi beliau belum istirahat bahkan langsung jalan ke mall.
"Kok gak kabarin kalau mau jemput?" tanya Renata saat mobil sudah melaju menuju hotel.
"Kalau aku bilang pasti kamu gak mau."
"Bukan gak mau, takut merepotkan."
Jea terseyum menoleh sekilas pada gadis di sebelahnya. "Buat kamu, aku gak merasa direpotkan."
"Iya karena ada maunya."
"Suudzon terus kayaknya."
Renata tersenyum, "Iya gak suudzon deh."
Keduanya pun terdiam, Renata sebenarnya sudah mengantuk, lelah. Tapi tidak mungkin membiarkan Jea menyetir sendiri. Sudah dijemput, diberi tumpangan gratis malah ditinggal tidur, gak mungkin kan.
"Wira udah tahu tentang kita?"
"Belum, aku hanya cerita sama Ola dan Ceca."
__ADS_1
"Gimana respon mereka?"
"Hemmmm antusias."
"Kenapa?"
"Soalnya calonku katanya ganteng,"
"Kok katanya, kalau menurut kamu?" Jea menoleh ke samping, ingin tahu bagaimana respon Renata.
"Menurut aku ya?" Renata menatap Jea intens, dan berhasil membuat Jea salah tingkah.
"B aja."
"Yah..."
"Ntar kalau udah resmi jadi imamku baru deh aku puji tiap hari."
"Bener ya?"
"Iya....."
"Paling bentar lagi resmi kok, feelingku sih 2 hari lagi."
"Ngacooo,"
"Dibilangin gak percaya, bapak tadi sempat tanya aku kapan siap menikah?"
"Ya aku jawab aja, kalau sekarang bisa."
"Ya Allah...kamu tuh ya, ngebet banget, ntar nyesel kalau udah tahu jeleknya aku."
"Punya sisi jelek kah?"
"Punya lah, namanya juga manusia."
"Apa? cerewet? agak gesrek? atau peritungan?"
Renata melongo, tepat sekali Jea menyebutkan salah tiga dari sisi jelek Renata. "Kok tahu?"
"Tinggal bareng di KKN selama sebulan aku perhatiin lah."
"Eh... tinggal bareng apa maksudnya ya." Sindir Renata tak suka dengan istilah tinggal bareng.
"Ya udah kerja bareng deh." Ralat Jea.
"Kapan merhatiinnya, orang kak Jea sibuk sama Maya."
"Masih hidup tuh anak?" tanya Jea sewot, tiba-tiba keki juga.
Renata tertawa, terlihat sekali Jea kesal menyinggung nama Maya. "Eh gak boleh gitu sama calon mantan gebetan."
"Idihh...siapa juga yang jadikan dia gebetan, teman aja ogah."
"Heeeemmm gak boleh gitu, ntar cinta loh. Kan benci sama cinta beda tipis."
"Emang rela kalau aku cinta sama Maya." Jea sengaja memancing respon Renata, sebentar lagi mau dilamar loh, masa' iya gak ada rasa cemburu sedikiiiiit saja.
"Silahkan."
__ADS_1
"Yah.... bilang kek jangan, cinta kak Jea buat aku aja." Cicit Jea berhasil dibuat cemberut.
Renata tertawa lalu memukul lengan Jea. "Lebayyyy." o