
Benar saja Renata dengan semangatnya berjalan menuju ruang Pak Wayan, sembari membawa draft bab IV, terutama analisis data penelitian. Dalam otaknya, bulan Februari harus ikut ujian, tidak boleh kelewat. Ia sudah muak dengan skripsi berdasarkan proyek dosen ini.
"Buat diagram untuk menunjukkan perbandingan item yang kamu teliti, Ta. Antara uji coba dan hasil penelitian. Kalau sudah di atas target kamu, gak usah dibahas. Tapi kalau di bawah target kamu itu yang dibahas. Paham?" Jelas Pak Wayan dengan memberikan beberapa coretan di dratf bab IVnya.
"Paham, Pak!" jawab Renata tegas. Entahlah ada energi apa yang membuat dirinya pagi ini ingin memulai meneruskan skripsinya. Mama mertua cukup kaget melihat Renata sudah cantik dan rapi sembari membawa tas kuliahnya. Jea hanya dilirik sang mama dengan tajam seolah berkata, 'kenapa gak kamu cegah. Istri kamu sudah kuat, dasar gak perhatian.'
"Tinggal dikit, Ta. Lebih sering bimbingan ya!" pinta Pak Wayan, beliau adalah salah satu guru besar di kampus dengan berbagai inovasi yang sudah memiliki hak paten atas dirinya. Sangat ramah, bijaksana, dan sangat disiplin. Beliau sangat suka dengan mahasiswa yang mengerjakan skripsi yang idealis, out of the box dan susah. Karena bagi beliau ujung tombak sarjana ya skripsi ini.
"Iya, Pak. Insyaallah bulan ini saya selesaikan hingga bab penutup." Renata berusaha menyemangati dirinya untuk segera menuntaskan skripsi ini.
"Bagus, saya suka target kamu."
"Baik, Pak. Terimakasih atas sarannya. Saya permisi. Selamat siang."
"Siang."
Ajaib, meskipun berkutat dengan masalah skripsi yang harus direvisi lagi, Renata cukup kuat. Bahkan sejak tadi di ruang Pak Wayan yang full AC, dia tidak pusing dan mual.
Berjalan dengan senyum ceria, menapaki tangga, disambut dengan teriakan Ceca di lobi jurusan. "Ibu hamiiiil."
Astaga, speaker aktif membuat beberapa mahasiswa menoleh ke arah Ceca. Renata mendengus kesal. "Tuh mulut bisa dikondisikan gak sih." Omel Renata dengan duduk di samping Ceca, di depannya ada Wira. Oh tumben ni cowok berani menampakkan wajahnya di depan Ceca.
"Pa kabar, Wir?" sapa Renata, basa basi juga sih. Sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. Terlebih setelah kejadian Helwa dulu. Ada rasa canggung juga.
"Gak usah ngomong sama dia." Sambar Ceca. Wajar sih, Ola dan Ceca sudah menge-kick Wira dari sahabatnya.
"Biasa aja kali, Ca. Renata yang nyapa gue, kenapa Lo yang sewot."
"Dih..." Ceca mencibir tak suka.
Drt...drt...
Kecanggungan mereka pecah dengan deringan ponsel Renata, tertera nama Suamiku❤️.
"Ouh iya, baru selesai."
"Dijemput sekarang?"
Renata melirik Ceca, "Hemm...aku keluar sama Ceca dulu ya, bosen ke kantor kamu terus."
"Naik mobil kan?"
"Lo bawa mobil kan?" tanya Renata pada Ceca, dan gadis itu mengangguk cepat.
"Iya dia bawa mobil."
__ADS_1
"Hati-hati, kalau ada apa-apa telpon langsung ya. Love you."
"Iya. love you too!" ucap Renata sebelum mengakhiri panggilan Jea.
"Seneng banget ya, Lo hamil didampingi suami yang bertanggung jawab." Ceca sengaja menyindir Wira yang telah menyia-nyiakan Helwa dengan mengenaskan.
Duh...Ceca mancing perkara. Renata melihat wajah Wira, rahang pemuda itu mengeras, sepertinya tersindir.
"Udah ah, yuk." Renata mengajak Ceca menjauh dari Wira. Sebisa mungkin Renata menghindari orang-orang yang bisa memantik emosi marahnya atau yang membuat dia keki atau benci. Pesan sang ibu negara menjadi benteng Renata dalam melangkah. Salah satu pesan Ibu Negara adalah jangan malas dan harus baik pada semua makhluk baik ucapan maupun tindakan, sering-sering menyebut kalimat thayyibah.
Dua hal itulah yang membuat Renata melawan rasa malasnya, ancaman sang ibu membuatnya berubah seketika, "Mau anak kamu pemalas, malas belajar, malas ngapa-ngapain. Idih kalau ibu mah bakal ibu bejek punya cucu kayak gitu."
Yah...Renata langsung melawan keinginan rebahannya, mulai memperbaiki skripsinya, mengeprint dan hari ini bisa bimbingan.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Ceca agak sewot, karena masih ingin menyindir Wira.
"Cari baju hamil."
"Ya elah, badan masih kayak triplek aja pakai baju hamil."
"Eh... persiapan ya. Kalau aku sibuk garap skripsi kan gak usah cari lagi."
"Lo hidup di hutan? ada online shop beb."
Renata mencibir, diakan menjauhkan Ceca dari pertengkaran dengan Wira. "Lo masih baik juga sama Wira? yakin?"
Renata langsung ditonyor Ceca, "Jea yang bikin kenapa jadi mirip Wira."
"Bukan wajahnya, tapi sifat dan kelakuannya. Nauzubillah." Ucap Renata sambil menonyor pipi sahabatnya itu berulang-ulang. Gelak tawa pun pecah diantara keduanya.
Menuju mall, salon adalah tujuan awal sebelum menuju ke pakaian hamil. Creambath, dan facial membuat Renata semakin rileks.
"Anak Lo cewek kayanya, demen banget nyalon deh." Cibir Ceca sambil membuka majalah.
"Sok tahu, gue tuh kemarin udah lama di goa. Saatnya keluar dan berasa cantik."
"Emang hamil enak, Ta?"
"Kalau ada suaminya enak."
"Astaghfirullah, teman gue otaknya. Lo pikir gue mau gitu hamil tanpa suami, ya Allah astaghfirullah... naudzubillah." Keluarlah ocehan Ceca kesal, justru Renata terbahak-bahak. Yakin juga Ceca tidak akan mengambil resiko besar dalam hatinya. Helwa sudah menjadi contoh nyata, hamil di luar nikah merupaka suatu kesalahan besar.
"Ya siapa tahu, Ca. Gue cuma kan berkomentar."
"Gue tuh mikir, Ta. Lo yang gak pernah pacaran bisa gak ya dapat suami. Secara Lo minder banget kalau berduan dengan cowok."
__ADS_1
"Eh jangan salah, bapak dan ibu gue mah gak mau anaknya jadi perawan tua. Gue tuh dari SMA sudah ditawarin ke cowok-cowok idaman ibu gue tentunya."
Ceca tertawa, ada hal unik yang baru ia tahu dari Renata. Si Ibu Negara ternyata begitu getol mencari mantu. Duh..
"Foto Lo udah nyebar ke mana-mana dong?" ledek Ceca.
"Banget, bayangkan dari usia 18 tahun sis gue udah disodorin ke mana-mana. Tapi ujung-ujungnya juga teman kuliah."
"Salut gue sama kalian, Ta!"
"Alhamdulillah, Ca. Makanya Lo sekarang cari yang serius aja, jangan mau pacaran."
"Dih...gue mau mikir karier aja deh."
"Jangan kelamaan, nanti mengejar karir ..jodoh gak kekejar. Bener gak om!"
"Ye manggil ekye om, ekye Jambak juga ni rambut!" Ujar makhluk bertulang lunak yang sedang memijat kepala Renata.
"Amit-amit Lo, Ta!" Ceca mengingatkan sahabatnya yang lagi bicara sama makhluk setengah jadi itu.
"Ih si bebeb, kenape amit-amit segala. You tekdung?"
"Iya." Jawab Renata yang masih paham dengan bahasa ajaib pria yang dipanggil Beby Mona itu.
"LKMD you?" lanjutnya sambil memijat kepala Renata lembut.
"Hah, apaan?" tanya Renata dan Ceca kompak.
"Lamaran keri Meteng ndisek." Ucapnya memberi kepanjangan singkatan ajaib itu diiringi tawa menggema cukup keras.
"Apaan?" tanya Ceca sambil menggaruk pipinya masih belum paham, tapi Renata langsung memekik istighfar.
"Astaghfirullah, Om!" karena Renata tahu arti singkatan itu yang mengisyaratkan hamil di luar nikah.
"Eh kok Om ...sebel ekye." Ucapnya sambil menghentakkan kakinya karena dipanggil om. Kesal setengah mampus.
Setelah drama konyol dengan baby Mona, Renata dan Ceca menuju outlet baju hamil. Tak lupa selfie dulu sebelum masuk outlet itu. Keduanya memasang senyum termanis di depan nama outletnya.
/Persiapan baby bump❤️❤️❤️/
Begitu Renata memberi caption pada foto yang diunggahnya, dan tak lama rentetan pesan masuk. Tertera nama Ola, Neva, Ibu, Mama, dan tiga pesan masuk secara bersama dari Jea, Wira, dan Ito. Yassalam.
Renata hanya membuka pesan dari Jea
/Belanja yang banyak, harus bahagia. Kalau kurang biar aku transfer/
__ADS_1
Senyum merekah langsung tercetak di wajah Renata. /Makasih sayang 😘😘😘😘/
ATM terisi full, dibarengi sahabat somplak yang gila belanja dan fashionable, huh surga dunia deh belanja kali ini. Ibu hamil wajib cantik, itu prinsip Renata ketika memilih berbagai macam blouse hamil.