
Renata menatap punggung Helwa semakin jauh, sebagai sesama perempuan ia juga merasakan sakit, bahkan belum tentu sekuat Helwa menghadapi semua.
"Nyonya CEO kok bengong?" tanya Ceca, dia langsung duduk di depan Renata.
"Ada apa sih, sedih banget kayaknya?" Ola
"Helwa pindah ke Singapura!"
"Apaaaa?"
"Berisik pe'a!" hentak Renata saat teriakan Ola tepat di telinganya.
"Wira emang kurang ajar tuh kupret satu." Ola emosi, memang sih dalam pertemuan keluarga malam itu tidak ada kesepakatan antara Helwa dan Wira, bahkan keluarga Wira pun tak berniat menjadikan Helwa sebagai menantu meskipun siri. Entah apa yang direncanakan keluarganya hingga hanya Ola yang boleh dijadikan menantu keluarga itu, dan
Sedangkan Ola, Hem cuih....tidak akan mau menikahi laki-laki yang jelas tidak bertanggung jawab seperti Wira. Terlebih masalah investor, Ola sudah mendompleng nama besar suami sahabatnya. Masalah beres.
"Ke kantor suami Lo, yuk?" Ajak Ola, agak memaksa rupanya.
"Males gue, bosen ke kantor suami gue. Jalan-jalan yuk, Pak Wayan gak bisa bimbingan hari ini."
"Ta......!" rengek Ola. Ceca hanya bengong tak mengerti apa yang sedang dikerjakan Ola hingga memaksa ke kantor Jea.
"Kenapa kamu pengen banget ke Jea?" Ceca mengintrogasi. "Jangan-jangan Lo mau jadi madu Renata?"
Tidak hanya Renata, tapi Ola juga langsung menonyor kening Ceca. Mulut tak berfilter itu bisa bikin emosi saja.
"Meski gue batal nikah, gak bakal mau jadi pelakor kali."
"Eh....jangan terlalu benci, bisa aja kan ....hati Jea siapa yang tahu." Sungguh Ceca mengobarkan genderang perang antara Ola dan Renata.
"Awas aja Lo, La!" Renata mulai emosi, ketar ketir juga, jangan sampai dia terlibat cinta segita dengan sahabatnya. Bisa-bisa dia tersiksa seperti istri dalam sinetron azab, ternyata maduku adalah sahabatku yang dijodohkan oleh mama mertuaku. Halah...
"Amit..amit," Renata mengetuk-ngetuk meja kantin. "Meski Jea kaya, gue gak tertarik, mending Daffa."
Renata berbinar, ia langsung menarik tangan Ola dan menuju kantor suaminya. Sedangkan Ceca berusaha menyeimbangkan langkah kedua sahabat somplaknya.
Tiba di kantor Jea, ketiga gadis yang akan membuat Jea dan Daffa pusing ini langsung naik lift petinggi perusahaan. Tak memperdulikan cibiran karyawan di situ, karena mereka hanya iri, masih mahasiswa sudah bisa menarik perhatian Jea.
"Mbak Ren---" Dina belum sempat menyelesaikan ucapannya, ketika suara dari pintu ruang Jea terdengar.
"Ngapain ke sini, bukannya tiga hari lagi?" Daffa emosi seketika, dilihatnya Ola yang tersenyum lebar.
"Maaf kak-"
"Panggil Pak!" titah Daffa ketus. Dina hanya melongo, tak pernah ia melihat Daffa seketus itu, karena dibanding Jea, Daffa lebih memanusiakan manusia.
"Kak Daffa, ke ruangan kakak aja yuk." Renata malah memberi usul yang ingin sekali ditolak Daffa.
__ADS_1
"Di ruangan -"
"Yang boleh masuk ke ruanganku hanya istriku." Ucap Jea sambil menarik tangan Renata, "Dua mahasiswa itu silahkan kamu urus."
Damn It
Pengen gue tabok aja bos rese' itu.
"Baik baik sama sahabat aku ya kakak, dua duanya jom-." Renata langsung ditarik masuk ke ruangan Jea dan langsung menguncinya.
Daffa hanya menghembuskan nafas berat, ia terpaksa mengajak dua makhluk jadi-jadian ke dalam ruangannya.
"Mana proposalnya?" pinta Daffa dengan wajah garangnya.
Ola menyodorkan proposal yang dari sampulnya saja tidak meyakinkan. "Don't judge a book by the cover. Eh gitu ya istilahnya?"
Ceca tertawa ngakak. "Otak minimalis aja berlagak sok Inggris Lo!" ucapannya dengan menonyor pipi Ola yang cengengesan.
siksaan pertama, candaan tak bermutu.
Daffa hanya melihat sekilas tak berniat memahami isi proposal itu. Baginya terlalu buang waktu saja, karena sudah jelas proyek imajiner ala Ola.
"Silahkan presentasi." Titah Daffa, sepertinya menyuruh presentasi lebih baik, karena keduanya kan pintar ngomong, yah meskipun apa yang dibicarakan adalah proyek halu yang hakiki.
"Yah kak, kok presentasi segala. Biasanya yang presentasi Renata. Aku mah bagian manggut manggut aja, nyalain LCD dan operator laptop doang."
Siksaan kedua, gagal presentasi.
"Lalu saya tahu secara garis besar proyek kamu, bagaimana?"
"Kan bisa dibaca, buat apa saya print kalau gak dibaca, buat apa saya jilid Serapi mungkin kalau hanya dijadikan pajangan kantor."
"Toh proposal Ola kan paling banyak sepuluh lembar, kayak otaknya. Tipis." Ceca mengejek.
"Eh Lo jangan bikin kakak Daffa underestimate sama gue ya!"
Dari awal gue udah underestimate sama Lo, pe'a. Batin Daffa.
"Kayaknya Kak Daffa udah underestimate deh sama Lo! "
Daffa menoleh pada Ceca, kok dia bisa tahu? ajaib juga nih cewek.
"Iya kan kak?"
"Ah...gak juga, buktinya kak Daffa menyuruh gue presentasi, itu artinya kak Daffa menganggap gue pinter ngomong, jago menyajikan data."
Ganti, Daffa menoleh ke Ola. Ajaib juga, bisa tahu apa yang Daffa pikirkan tadi.
__ADS_1
"Dan ternyata Lo gak bisa, gue tahu La. Lo tuh bagus dalam hal moderator tapi gak ahli jadi presenter."
"MC maksud Lo?"
"Kan otak minimalis. Namanya penyaji itu presenter, buka MC doang."
Pusing.
Puk
Puk
Daffa memukul kepala kedua gadis yang sedang berdebat unfaedah itu. Bisa-bisanya masalah presentasi melebar ke mana-mana.
"Yah kak Daffa, kok proposal Ola digulung gitu." Ola tak terima, proposal minimalisnya dijadikan gulungan kertas, untuk memukul kepalanya pula.
"Oke deh, gue pusing lihat kalian. Sekarang tolong salah satu dari kalian buat sketsa produknya." Gergetan juga kalau mereka terlalu lama di ruangan ini, tidak baik untuk kesehatan jantungnya, bikin emosi.
Keduanya saling tatap. Terlebih Ceca melotot juga, dia mana paham sama isi proposal Ola, orang dia cuma nemenin sahabat somplak.
"Di sofa itu, ini dua kertas A4, ini bolpoinnya." Daffa memberi satu persatu alat tulis pada kedua gadis layaknya memberi pensil warna pada anak PAUD. Mengenaskan.
Baru saja Daffa mau membuka dokumen keuangan yang ada di mejanya. Pandangannya teralihkan pada kedua gadis itu, lantaran salah satu gambar sketsa gadis itu terlalu kecil.
"Kenapa gambarnya kecil amat, besarkan!" Ceca berkomentar.
"Emang Lo suka yang besar-besar, baju Lo aja press body semua. Gak ada yang besar, noh kancing aja mau copot, gak sadar kalau punya situ maksimalis." Celoteh Ola ceplas-ceplos.
Daffa mengetukkan kepalanya di atas meja, "Allah Tuhan, bahasa anak S1 kayak gini, ya Allah. Mereka kuliah apa nyemilin papan si," geram sudah Daffa. Ia pun mendekati keduanya yang mulai anteng.
Kalau dilihat lagi diam gini, dua gadis ini memang cantik tapi.... buru-buru ia tepis, sengkleknya masih terbayang di kepala Daffa. Cukup bosnya saja yang menikah dengan gadis setengah waras, dirinya jangan.
Melihat goresan sketsa baju anak dan gambar Mickey mouse, Daffa sedikit menyunggingkan senyum, bagus juga, pujinya dalam hati.
"Lucu kan kak?" tanya Ola saat Daffa melihat sketsanya.
"Lucuan kamu!" Sepertinya Daffa salah ucap. Benar saja Ola langsung tepuk tangan sambil mengibaskan rambut panjangnya.
prok
prok
prok
"Selera kak Daffa kayaknya seperti gue, Ca. Lucu- ngegemesin."
Astaghfirullah
__ADS_1