
Aneh. Terasa sangat aneh, Jea datang dengan kabar ingin melamarnya, padahal keduanya belum terlalu dekat, bagaimana mau dekat Renata terus saja menutup akses untuk mengutarakan perasaan.
Nekad, itulah yang dilakukan Jea. Ia tak begitu berpikir panjang memilih wanita yang belum dikenalnya. Ia hanya mengandalkan perasaan. Yah ...perasaan penasaran pada gadis yang sulit sekali didekati itu. Tak ingin menjadikannya pacar tapi langsung tancap gas.
Resiko jelas ada. Kalau nikah dalam waktu dekat, tidak masalah. Hanya saja harus benar-benar tangguh menghadapi sisi lain pribadi Renata yang belum ia tahu. Memantapkan hati untuk tidak menyesal pada keputusan ini yang berlangsung seumur hidup.
"Bagaimana dengan keluarga kak Jea?"
"Papaku masih sakit, sedangkan mamaku udah tahu tentang kamu, dan beliau ingin bertemu dengan kamu, bisa?"
Waoowww....ketemu calon mertua, eh..beneran calon mertua??? Haduh...bayangan film azab langsung berputar-putar.
"Mamaku gak seperti mama mertua di tv kok!" Jelas Jea sembari tersenyum, ia sadar akan kekhawatiranku mungkin.
"Sebenarnya aku juga belum tahu apa-apa tentang kak Jea, tapi aku juga gak bisa dekat dengan laki-laki layaknya orang berpacaran. Kakak pengennya gimana?"
"Melamar kamu sekalian menikahlah!"
Renata menahan tawa, "Kenapa ingin seperti itu?"
"Susah, Ta. Buat dekat sama kamu, aku halalin sekalian saja."
"Yakin udah mantap dengan aku, mungkin kakak cuma terobsesi sama aku, ada juga pemikiran penasaran seperti apa dekat sama aku, gitu?"
"Awalnya, tapi kalau dipikir-pikir, sekarang apa sih yang gua cari lagi, kuliah beres, aku udah kerja ya meski masih dibantu para asisten papa, mau apalagi?"
"Oke...aku terima, minggu depan silahkan mengkhitbah saya," Renata mengiyakan, ia melihat ketulusan pada Jea, tidak main-main langsung tindakan. Dia juga tidak mau menghalangi niat baik seseorang, toh kondisi ini juga sesuai keinginannya. Menikah tanpa pacaran.
"Alhamdulillah." Ucap Jea dengan senyum manisnya. "Jadi?"
"Jadi apa?"
"Bisa ya bertemu mamaku?"
Renata menjawab dengan senyum dan anggukan saja.
"Terimakasih, Ta."
"Buat?"
"Apapun."
"Lebayyyyyy."
Keduanya tertawa lepas, makanan yang sudah tersaji sampai dingin, mereka makan dengan diam.
Drt...drt....
Ponsel Renata berbunyi, Wira pelakunya, dan Jea tahu itu.
"Halo!" Ucap Renata sambil melirik Jea, meskipun Jea memasang wajah datar, Renata juga merasa tidak enak karena masih dekat dengan Wira.
"Kapan ke Ceca?" tanya Wira.
Renata melirik jam tangannya sebentar, "Jam 4 mungkin, aku mau bimbingan dulu dengan Pak Wayan. Kenapa?"
"Aku jemput ya, aku free sekarang."
"Gak usah, aku bawa motor. Kamu langsung ke Rumah sakit saja.
"Oke." Jawab Wira pendek lalu menutup sambungan. Jea menatap Renata tajam, ingin sekali ia meminta Renata untuk tidak terlalu dekat dengan Wira, tapi dia masih belum punya hak, apalagi untuk melarangnya dekat dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Nanti kalau kita memang sudah halal, insyaallah aku bakal jaga jarak sama Wira dan Bian, sementara seperti biasa dulu ya, keputusan keluarga kita kan belum final.
Ah ..Renata, kenapa kamu menjadi perempuan yang manis sekali, hanya dengan memasang wajah datar saja ia paham akan ketidaksukaan Jea.
"Bisa ke mama kapan, gimana kalau sebelum pulang ke Pacitan?"
"Hem besok aja ya, habis maghrib. Aku hari ini mau bimbingan dan ke rumah sakit, mungkin menginap juga di sana?"
"Siapa yang sakit?"
"Ceca."
"Ada Wira?"
Renata menahan senyum belum apa-apa sudah kelihatan banget kalau cemburu. "Ada, kenapa?
"Gak suka." Jawabnya pendek, wajahnya cemberut, sangat menggemaskan dengan wajah tampannya.
"Mau ikut?" tawar Renata.
"Emang boleh?"
"Hemmm boleh aja sih, cuma nanti kalau ditanya siapa?"
"Suaminya Renata." Jawab Jea jahil.
"Suami dari Hongkong."
"Calon....calon...calon deh." Tawarnya lagi
"Temenku aja."
"Iya teman bobok,"
Keduanya pun berjalan beriringan menuju kasir, Renata membuka dompetnya, Jea menariknya sebentar, "Ngapain?"
"Mau bayar makanlah, emang mau ngapain ke kasir."
"Ck....aku traktir, ya kali kita bayar sendiri-sendiri." Jea pun meninggalkan Renata dan menuju kasir, heran juga ada ya cewek yang gak mau ditraktir cowok. Perempuan langkah.
"Mau diantar?" masih saja Jea negosiasi agar bisa ikut ke rumah sakit.
"Gak usah aku bawa motor, lagian bos kok gak kerja sih?" sindir Renata, setahu dia bos justru jarang punya waktu untuk sekedar makan, lah bos ini?? bos abal-abal mungkin kali, he..he...
Jea hanya mengusap tengkuknya, malu juga disindir sama anak magang. "Ati-ati, kalau udah sampai RS kabari."
"Iya, Pak Bos juga ati-ati, ya!"
Jea mengangguk, dan masih memperhatikan perempuan yang akan ia lamar Minggu depan. Tak menyangka sama sekali ia akan menikah dengan Renata, gadis yang ia temui saat KKN.
Pantas saja KKN menjadi momok bagi orang yang berpacaran, efek cinloknya hororrrr.
*****
Pukul 4 sore, Renata sudah sampai di RS. Ia segera menuju kamar Ceca dengan membawa berbagai camilan dan pakaian ganti. Dia dan Ola sepakat menemani Ceca malam ini.
Ceklek
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Penghuni kamar menoleh ke arah pintu, ada Renata yang tersenyum merekah. Sahabatnya sudah duduk manis menemani Ceca. "Maaf Telat." Cicitnya tanpa dosa.
__ADS_1
"Kencan ma Pak Wayan, Lo?" tanya Bian.
Renata mengangguk, meletakkan berbagai bawaannya. "Rempong banget deh, revisi banyak."
"Ya Lo, ngambil bahan penelitian susah banget, rempong deh." Omel Ola sambil mencomot irisan apel.
"idealis, kayak gak tahu Renata aja. Kalau kita mah yang penting lulus." Sahut Ceca.
"Ibu pasien udah pinter celometan, gak sakit lagi?" sindir Renata gemas.
"Sialan loooooo!" sambil melempar bantal pasien. Renata terkekeh.
Ting
Ponsel Renata berbunyi, baru saja ponsel itu diletakkan di meja, ia pun kembali memegang ponselnya.
/Udah di RS?/ Pesan Jea
/Baru nyampe, ada apa?/
/Cuma tanya aja/
"Chat sama siapa, Ta?" Wira kepo.
"Jea."
"Kok?"
"Pak bos gue, Wir. Kenapa sih?"
"Gak suka."
Nah...kok jawaban mereka sama. "Biasa aja, temen KKN kita, kan."
"Yah tapi dia punya maksud lain." Wira menunjukkan ketidaksukaan pada Jea.
"Biarin aja kenapa, Wir. Kenapa Lo jadi yang ngatur temannya Renata sih." Omel Ola, kadang Ola juga kesal melihat Wira yang over protektif pada Renata, kasihan Renata lah belum jadi apa-apa saja sudah dibatasi.
"Wira sableng ma rese', La. Baru tahu Lo, Sono ngambek lagi." Wih pedas juga ocehan Ceca, ups... meskipun Ceca tidak mempermasalahkan hubungan Wira dan istri kedua sang papa, tapi aura tidak suka pada Wira cukup kentara.
"Gue mau ngomong sama Lo, Ta!"
"Ngomong apa, di sini aja!" Renata juga kekeh tidak mau diatur Wira.
Hufh ..Wira menghela nafas, oke tidak berdebat lagi deh. "Gue Minggu depan gak jadi ke rumah,Lo!"
"Kenapa?" tanya Renata penasaran, ia sudah menduga.
"Disuruh papa ke Kalimantan, lihat proyek batu bara di sana."
"Halahhh bilang aja Lo gak berani serius sama Renata." Sambar Ceca, sinis lagi nadanya.
"Diem deh lu, Ca!" kata Wira tak terima.
"Ouh gak pa-pa, kok. Nunggu Lo siap aja."
"Jangan mewek kejer kalau Renata dipinang orang." Kali ini Ola yang memanas-manasi.
"Tunggu gue ya, Ta?" pinta Wira.
"Ogahhhhhhh." Sambar Ceca dan Ola kompak.
__ADS_1
"Tegaaaaaa."
Semua tertawa kecuali Wira.