
Drttt...drrttr...drrttt
Habis shubuh HP Renata bergetar terus, tampak nama Wira Sableng di layar. Semakin malas untuk sekedar menekan tombol ijo.
"Ta, HP Lo!" protes Mia, teman sekamar Renata yang masih merem juga.
//Hem..apaan!//
//Bangun maleeeeesssssss, Lo cewek ya ampun males banget dah anak perawan gue//
hening
//Ta, bangun woyyyy. Olahraga yuk jogging. Pemandangan bagus ya elah anak perawan gue, ntar nyesel Lo gak selfie//
//Berisik//
Meskipun jengkel, Renata tetaplah bangun. Segera cuci muka dan ganti celana serta tak lupa hoodie. Rambut hanya dikuncir kuda.
Kikan dan Isti sudah bersiap ke pasar karena hari pertama mereka jadwal ke pasar diantar oleh Bang Cipul, he..he...he.
"Mau joging juga? udah banyak anak yang ngumpul di depan!" Kikan bersuara.
"Emang joging itu masuk agenda kita?"
"Agenda Sunnah." Sahut Isti.
Renata mengangguk saja dan berjalan menuju halaman rumah, banyak yang mau ikutan jogging ternyata, apalagi para cowok, malah sudah ada yang keliling desa, dan ..
"Malahan Maya sudah ngejugrug dekat pak ketua."Mood Nadya pagi-pagi sudah rusak melihat pemandangan sang mantan yang dipepet cewek centil itu.
Renata cekikikan, "Cemburu, Nad?" sindir Renata.
"Ogah, gue juga bisa mepet cowok lain."
"Bagus. Buang aje mantan ke laut." seloroh Renata yang mulai pemanasan.
"Kira-kira siapa ya bisa gue gaet?" tanya Nadya yang lagi pemanasan kaki.
"Noh, si Wira."
"Lah, ngapa harus si Wira. Bukannya pacar Lo ya?"
"Mantannya si Maya tuh, dan Maya kayaknya masih mengharap." Benar-benar Renata jadi kompor, pagi-pagi juga.
"Trus Lo?"
__ADS_1
"Gue bukan pacar, gue cuma sahabat doang."
"Plus calon istri gue." Eh ternyata babang Wira dengar obrolan Renata-Nadya, ia pun dengan santainya mengalungkan lengan pada leher Renata.
"Eh tangan Lo! lepas gak," titah Renata dengan menatap Wira tajam, sadis mennnn.
"Ck.... sahabat rasa pacar mah ini," cicit Nadya. Gadis itu pun segera jogging meninggalkan pasangan gak jelas itu.
"Lo tuh bisa gak sih, gak usah koar-koar calon istri. Gak berani lamar sok sok an jadi calon suami, bengek Lo!"
"Biar Lo gak ada yang naksir. Bahaya tau gak, anak-anak tadi malam banyak yang komentar tentang Lo!"
Sejenak Renata menghentikan larinya, menoleh ke arah Wira sambil mengangkat alis. "Kok bisa?"
"Lo cantik beg*!"
"Manis amat sih pagi-pagi gombalannya." Renata gemas dengan sahabatnya ini, ia menggoyang-goyangkan dagu pemuda itu dengan keras.
"Sakit dodol!"
Cekrekkk...
Bunyi kamera Wira, sengaja mengambil gambar saat posisi mereka yang berhadapan dan Renata memegang dagu Wira. Romantiskan.
"Apaan. Kok Lo main motret aja sih! pelanggaran."
"Wira sableeeeeeenggggggg!"
*Pagi ..bersama calon istri ❤️*
Begitu caption di status Wa Wira. Cari masalah ne babang Wira.
******
Setengah jam berlalu, niatnya si jogging apalah daya pemandangan asri menyita perhatian untuk diabadikan. Berkali-kali Wira misuh-misuh diminta memotret Renata, gadis setengah waras itu.
"Tau gini gue gak ngajak Lo, Ta!"
"Idih, biasa aja kali. Ini tuh salah satu bentuk syukur atas ciptaan Gusti Allah. Lo harusnya seneng, sahabat Lo ngajak bersyukur pada sang ilahi."
Wira berdecak pelan, kenapa mendadak jadi ustadzah sih.
"Oh bersyukur atas ciptaan Allah ya, sini!"
Tanpa ba bi bu, Wira menarik ponsel Renata dan cekrek. Renata yang diam saja menampakkan wajah tapres, sedangkan Wira berpose ganteng telah diabadikan.
__ADS_1
"Salah satu ucapan syukur gue pada makhluk ciptaan Allah yang cantik."
"Rayuan maut....gak mempan."
Wira mendesah. Padahal dirinya selalu tulus dan serius kalau menyangkut Renata, rasa suka dan sayang sejak menjadi mahasiswa baru dulu masih tersimpan apik dalam hatinya, yah meskipun dia juga sering Gonta ganti pacar. Niatnya si sebagai pengalihan rasa dari Renata.
Ia sadar betul, gadis yang ingin ia taklukkan memiliki prinsip kuat. Ada 2 pasal yang masih dipegang Renata, kayak UUD 45 aja mbaaakkk.
/pasal 1 Renata gak mau pacaran/
/pasal 2 Renata tidak mau berduan dengan lawan jenis di manapun dan kapanpun/
Meski agak aneh, alasan terkuat Renata adalah ia tidak mau membebani pikiran dengan memberikan perhatian pada lawan jenis. Menurutnya sangat buang-buang waktu. Belum lagi, udah lama pacaran ngalahin kredit motor, eh tau-taunya putus. Rugi dong!
"Eh,Ta. Kalau gue bilang Lo calon istri gue gitu pernah gak si Lo tuh baper?"
Pertanyaan absurd yang dilontarkan Wira berhasil membuat Renata menghentikan aktivitasnya untuk selfie. "Lo mau gue jawab apa?"
"Gak usah dijawab, Ta! gue udah tau."
Renata mengangguk dan kembali sibuk dengan ponselnya. "Dengar ya Wir, kita kenal gak sehari dua hari, kita kenal udah hampir 4 tahun. Selama kuliah kita memang dekat, dan satu yang pasti Lo sudah hapal prinsip gue. Meskipun gue udah nolak Lo, tapi gue sangat bersyukur Lo bisa menerima dengan lapang dada dan menjadi sahabat."
Wira diam.
"Gue gak pernah takut gak ada jodoh, Wir. Karena gue yakin, dengan gue menghindari pacaran di situ gue bisa menjaga kehormatan untuk suami kelak. Dan gue yakin Gusti Allah sudah mempersiapkan seseorang yang paling baik buat gue, tanpa gue gladi resik melalui pacaran."
"Beruntung siapapun suami Lo nanti."
"Bahkan Lo pun juga bisa memiliki peluang buat jadi suami gue kok."
"Beneran????"
Renata mengangguk. "Samperin bapak gue."
"Ntar nunggu gue jadi CEO!"
"Ah .. kelamaan, jangan mewek kalau pulang dari KKN gue dilamar orang."
"Astagaaaaaaa. Tegaaaa."
Renata cekikikan, berlari menjauh dari Wira. Sudah cukup dia berdua dengan Wira pagi ini. Meski tak mau pacaran, ia sadar diri ada hati yang mengharapkannya, bukan memberikan harapan palsu pada si Wira, hanya saja ia membiarkan kedekatan ini terjadi, setidaknya menghibur perasaan Wira yang sudah berapa kali patah karena prinsipnya.
Maaf, Wir. Gue gak mau Lo berharap lebih pada gue, cukup persahabatan saja di antara kita hingga kau datang mewujudkan khitbah yang gue harapkan. Selamat berjuang sahabat sablengku.
Sejenak hati Renata berkata tulus meski tak terucap. Ia yang sudah menjauh beberapa langkah dari Wira hanya mampu menoleh sekilas, menatap pemuda yang cukup tampan beberapa detik dan dibuyarkan dengan bunyi cekrek.
__ADS_1
Yakin seyakin yakinnya, Wira mencuri foto Renata untuk kesekian kali. Menyimpannya dalam galeri ponsel dan hati tentunya.
Tunggu gue sukses, Ta. Gue bakal lamar Lo dan tetaplah menjadi wanita yang pantas gue perjuangkan selama ini. I love you Renata.